Pria, Kumis dan Cara Mencukur yang Baik

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 6 September 2017 | 15:08 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda seorang pria yang senang memelihara kumis dan jenggot?

Nah,  itulah pertanyaan yang sering terlontar untuk  penampilan  seorang pria ganteng dengan kumis seronok.

Ya, pria dan kumis.

Dan untuk diketahui pula, tak semua pria ingin memelihara kumis dan janggut di wajah.

Beberapa memang tidak cocok memiliki penampilan seperti itu, salah-salah malah menjadi mirip manusia gua. Mereka lebih suka berwajah licin sehingga menjadikan bercukur sebagai rutinitas.

Namun, meski merupakan kegiatan yang tidak asing, beberapa orang masih melakukan kesalahan dalam bercukur.

Padahal untuk mendapat kulit yang sehat dan wajah bersih, Anda harus memperhatikan dan berhati-hati saat mencukur.

Keteledoran saat bercukur bukan tidak mungkin menyebabkan luka di kulit meski tidak terlihat.

Kesalahan itu biasanya terjadi karena kita tidak mempersiapkan diri dengan benar, seperti membasuhnya dahulu dengan air hangat agar bulu di wajah menjadi lebih lembut dan mudah dicukur.

Kebanyakan dari kita, karena terburu-buru lalu main hajar saja. Hal itu bisa menimbulkan  iritasi.

Selain itu, perlu juga menggunakan krim untuk memudahkan proses pencukuran karena membuat wajah lebih licin.

Di samping itu, cara dan arah mencukur juga menentukan keamanannya. banyak orang  mencukur dengan melawan arah pertumbuhan rambut wajah, terutama di bawah rahang.

Ini juga salah satu penyebab iritasi karena pisau cukur ikut mengupas kulit tipis di wajah kita.

Nah bagian kulit yang terkelupas atau terluka itu bisa menjadi tempat masuknya kuman penyakit.

Kalau ada bakteri masuk ke tubuh maka dia akan terjadi infeksi

Adapun infeksi tersebut belum menjadi bisul.

Namun akan timbul nanah sedikit pada luka tersebut. Nah, bila dibiarkan terus-menerus makan akan menjadi besar dan membentuk bisul.

Bila demikian, maka kulit akan terganggu

Oleh karena itu, selain sebelum dan saat bercukur, kulit juga perlu dirawat setelahnya.

Perawatan bisa dilakukan dengan menggunakan pelembab agar kuman dan lain-lain tidak masuk ke dalam infeksi yang berukuran kecil tersebut.

Selain itu, menyediakan sebentar waktu untuk memijat bagian yang baru saja dicukur dengan pelembab juga akan menghasilkan rasa nyaman di kulit, sekaligus melindunginya.

Lantas bagaimana  Anda mencukur bulu-bulu di wajah Anda?

Kebanyakan dari kita melakukannya dengan cepat, sret sret sret, lalu bergegas berangkat ke kantor. Hanya mengelapnya dengan handuk, namun tidak membasuhnya, apalagi menggunakan pelembut aftershave.

Tentu Anda bukan satu-satunya pria yang melakukannya dengan terburu-buru. Sayangnya kebiasaan itu dalam jangka panjang akan merusak kulit wajah dan menyebabkan penampilan kurang segar.

Nah untuk memperbaikinya, Anda dapat belajar dari kesalahan-kesalahan yang lazim dilakukan para pria. Berikut kesalahan-kesalahan tersebut:

Salah satu penyebab utama iritasi saat bercukur adalah kita langsung “menghajar” bulu-bulu wajah kita dengan pencukur.

Bahkan membasuhnya dengan air dingin sebenarnya belum membuat bulu-bulu itu melemas, sehingga mencukur akan seperti menarik mereka dari akarnya.

Maka dari itu, kebiasaan para tukang cukur di barbershop yang menggunakan handuk hangat sebenarnya beralasan. Air hangat akan melemaskan dan melembabkan folikel rambut sehingga lebih gampang dicukur.

Di rumah, Anda bisa mendapatkan kondisi serupa setelah mandi atau cuci muka dengan air hangat.

Bila perlu kita juga bisa menggunakan pembersih ringan untuk mengangkat kulit mati sebelum mencukur rambut di wajah kita.

Kebanyakan dari kita menggunakan pencukur yang memiliki beberapa lapis pisau di permukaannya.

Celah sempit di antara pisau itu seringkali menjadi tempat terkumpulnya rambut wajah yang sudah terpotong, sehingga menyebabkan penggunaan setelahnya tidak maksimal.

Kita acapkali harus mengguyurnya agar kumpulan rambut itu terlepas dan pencukur kembali nyaman dipakai.

Benar bahwa banyak pria dengan alasan praktis menyukai jenis pencukur seperti itu, apalagi jenis yang bisa menyesuaikan lekuk wajah ketika dipakai.

Namun ada pilihan lain bila ingin bercukur lebih rapi, yakni alat cukur old school tradisional dengan dua sisi pisau atau pisau cukur lipat. Jenis ini akan mengurangi hambatan saat kita bercukur.

Meski begitu, untuk alasan praktis, bolehlah bila kita tetap menggunakan pencukur sekali pakai yang banyak dijual di mini market.

Mencukur melawan arah pertumbuhan rambut wajah, terutama di bawah rahang, sepertinya menjadi cara termudah untuk membabat bulu-bulu yang ada di situ. Namun cara itu ternyata menyebabkan iritasi karena pisau cukur ikut mengupas kulit tipis di wajah kita.

Memang bercukur dengan arah berlawan dengan tumbuhnya rambut itu cocok bila kita menggunakan alat cukur listrik.

Namun dengan pencukur biasa, hasilnya akan lebih bagus bila kita mengikuti arah tumbuh rambut.

Sabun atau busa cukur yang dikemas dalam kaleng menjadi pilihan banyak pria. Tetapi Anda sebaiknya memeriksa kandungannya agar tidak terjebak memakai bahan dengan kandungan yang tidak ramah di kulit.

Kita sebaiknya menghindari produk-produk yang mengandung banyak paraben, sulfat, alkohol, dan pengawet. Beberapa bahan kimia dalam produk itu tidak cocok untuk kulit sensitif.

Idealnya bahan steril sabun cukur berasal dari citric acid dan bukan alkohol, yang mampu membersihkan tanpa membuatnya terlalu kering.

Selesai bercukur, mengeringkannya, lalu langsung keluar bukanlah langkah yang bijaksana. Anda baru saja menggoreskan pisau cukur di kulit lalu memaparkannya? Inilah penyebab utama iritasi, munculnya ruam, dan masalah lainnya.

Cara terbaik adalah menyelesaikannya dengan balsam cukur dingin untuk melembabkan kulit.

Menyediakan sebentar waktu untuk memijat bagian yang baru saja dicukur dengan pelembab juga akan menghasilkan rasa nyaman di kulit, sekaligus melindunginya.

Komentar