Pria Botak Punya Nafsu Seks Lebih Besar

Penulis: Darmansyah

Kamis, 29 November 2018 | 11:42 WIB

Dibaca: 1 kali

Ya, banyak mitos yang berseliweran tentang nafsu seks pria berkepala botak.

Sebagian  orang menganggap, pria yang botak memiliki nafsu seks yang lebih tiggi ketimbang pria berambut lebat.

Benarkah demikian?

Sebelum mengetahui hubungan antara rambut dan libido, kita simak penelitian yang dilakukan James Hamilton di Yale pada enam puluhan

Penelitian ini mengamati dua puluh  anak laki-laki yang dikebiri karena memiliki permasalahan perilaku dan mental. Dari pengebirian ini, anak laki-laki tidak mengalami kebotakan atau gejala rontok rambut.

Sementara yang penisnya utuh ternyata mengalami rambut rontok.

Berdasar hal ini, masyarakat menganggap kalau pria botak memiliki libido yang lebih besar. Padahal, ada banyak faktor yang menyebabkan pria mengalami kenaikan atau bahkan penurunan libido.

Jadi, pria botak nafsu seksnya besar hanyalah mitos. Anda tidak perlu mempercayai mitos ini.

Rambut rontok bisa muncul karena banyak hal. Selain karena pengaruh hormon seks pada pria, rambut rontok juga bisa terjadi karena sampo atau bahan lain yang terkandung dari minyak atau pomade.

Rambut yang sensitif bisa saja alam kerontokan termasuk memunculkan masalah lain seperti ketombe.

Ketimbang rambut ada faktor lain yang memengaruhi naiknya nafsu atau libido dari pria. Pertama adalah gaya hidup sehat.

Pria yang rajin berolahraga dan menjalani diet yang tepat cenderung memiliki kadar testosteron yang besar ketimbang pria yang pasif dan alami obesitas.

Kalau Anda ingin mendapatkan tubuh yang sehat dan performa seks yang tinggi, jangan lupa untuk berolahraga. Lebih lanjut, kalau ingin memiliki kepala plontos agar terlihat lebih maskulin lakukan dengan pertimbangan yang matang, ya!

Karena rambut plontos dan libido tidak ada hubungannya.

Sebenarnya, kebotakan adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh pria

Bagaimana tidak, jika sampai rambut menghilang dari kepala, maka penampilan pria tentu akan menjadi kurang maksimal.

Hanya saja, ada sebagian orang yang justru sengaja membotaki kepalanya meskipun sama sekali tidak mengalami kerontokan parah.

Padahal, menurut pakar kesehatan, pria yang mengalami kebotakan secara alami justru lebih rentan terkena kanker prostat, salah satu penyakit paling mematikan bagi pria. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Pakar kesehatan dr. Neil Fleshner dari University of Toronto, Kanada, menyarankan pria yang mengalami kebotakan untuk melakukan pemeriksaan atau biopsi demi mengetahui apakah mereka berisiko tinggi terkena kanker prostat atau tidak.

“Dalam sebuah penelitian, ditemukan fakta bahwa pria botak memiliki risiko kanker prostat 95 persen lebih tinggi,” ungkap dr. Neil.

Lantas, mengapa pria botak lebih rentan terkena kanker prostat dibandingkan dengan pria dengan kondisi rambut yang normal?

Dr. Neil menyebut hormon androgen sebagai penyebabnya. Hormon yang juga meliputi hormon testosterone ini memiliki kemampuan untuk mengganggu pertumbuhan rambut sekaligus membuat perkembangan sel-sel kanker postrat.

Menurut penelitian, pria botak mengalami peningkatan kadar androgen dihydrotestosterone atau DHT dengan signifikan sehingga menyebabkan dampak tersebut.

Dalam sebuah konferensi tahunan yang dilakukan oleh American Urological Association yang ada di Atlanta, Amerika Serikat, disebutkan bahwa DHT mampu membuat folikel rambut semakin kecil dan akhirnya membuat rambut berhenti tumbuh sehingga menyebabkan terjadinya kebotakan.

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan dua ratusan partisipan

Mereka melakukan tes antigen spesifik prostat dan diminta untuk melakukan biopsi demi mendeteksi kanker prostat.

Hasilnya adalah, pria dengan kondisi kebotakan yang lebih parah cenderung lebih berisiko mendapatkan hasil tidak baik dalam tes biopsinya.

“Sepertinya memang ada kaitan antara kebotakan dengan kanker prostat. Hanya saja, hal ini juga bergantung pada faktor lainnya seperti lingkungan atau genetik.

Satu hal yang pasti, pria botak memang harus lebih waspada dengan penyakit ini,” ucap dr. Tobias Kohler dari American Urological Association.

Komentar