Pornografi Bisa Bikin Pria Tak Tertarik Seks

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 5 September 2017 | 08:28 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman “knowrifge,” sebuah situs pengetahuan seks, dalam tulisan terbarunya hari ini, Selasa, 05 September, mengingatkan setiap lelaki untuk tidak ketagihan  pornografi.

Lantas?

Menurut “knowridge,  pengaruh pornografi, terutama film seks atau lainnya,   bisa menjadi penyebab pria tidak lagi tertarik untuk berhubungan seks secara normal

Sebuah studi terbaru, menurut “knowridge,”  para ilmuwan menemukan bahwa pria yang sangat suka pornografi bisa mendapati diri mereka terperangkap dalam ilusi semu.

Mereka tidak lagi tertarik melakukan hubungan seksual dengan orang lain saat mereka memiliki kesempatan.

Orang yang kecanduan pornografi cenderung tidak puas dengan hubungan seksual, menurut temuan survei terbaru.

Dalam riset tersebut, para peneliti mensurvei tiga ratusan  pria berusia dua puluh  hingga empat puluhan tahun, yang mendatangi klinik urologi San Diego untuk pengobatan.

Memang hanya tiga koma empat persen pria yang mengatakan mereka memilih masturbasi dengan pornografi daripada hubungan seksual.

Namun hal itu menunjukkan adanya hubungan statistik antara kecanduan pornografi dan disfungsi seksual, kata pemimpin peneliti Dr. Matthew Christman dari Naval Medical Center di San Diego.

“Tingkat penyebab alami disfungsi ereksi pada kelompok usia ini sangat rendah. Sehingga bila terjadi peningkatan disfungsi ereksi dari waktu ke waktu pada kelompok ini, perlu dijelaskan,” kata Christman.

“Kami percaya bahwa kecanduan pornografi bisa jadi salah satu bagian dari teka-teki itu. Meski demikian, data kami tidak menunjukkan bahwa itu adalah satu-satunya penjelasan.”

Peneliti mengatakan, masalahnya bisa jadi berakar pada kecanduan

“Perilaku seksual mengaktifkan sirkuit yang sama di otak seperti saat orang mengkonsumsi narkoba, misalnya kokain dan methamphetamines, “kata Christman.

“Pornografi di internet, secara khusus, terbukti menjadi stimulus supernormal dari sirkuit ini—karena seseorang bisa terus menerus memilih tema dan gambar yang membangkitkan gairah seksualnya,” katanya.

Akibatnya, menonton terlalu banyak pornografi bisa membuat seseorang makin kebal dari rangsangan, sama seperti narkotika, dan membutuhkan dosis yang lebih besar.

Karena apa yang dilihat seringkali sesuatu yang dianggap ideal dan tidak disadari bahwa itu rekaan, maka penikmat pornografi cenderung tidak menanggapi aktivitas seksual nyata yang berbeda dengan bayangannya.

Mereka justru semakin bergantung pada pornografi untuk mendapatkan gairah.

Christman menambahkan, “kekebalan” ini bisa menjelaskan mengapa terjadi disfungsi seksual pada pecandu pornografi.

“Pornografi memunculkan gambaran yang tidak realistis soal seks kepada pria muda, membuat mereka tidak bergairah saat menghadapi kenyataan yang berbeda dengan apa yang ditontonnya,” ujar Christman.

Dalam meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Human Communication Research, para ilmuwan melihat lima puluh studi yang diikuti lebih dari lima puluh ribu orang, dan menemukan bahwa pria yang menonton film porno lebih mungkin untuk tidak puas dengan kehidupan cinta mereka, ketimbang pria yang tidak menonton porno.

Namun bagi wanita, tidak ada hubungan yang signifikan antara nonton dengan kepuasan hubungan.

Menanggapi hasil penelitian tersebut, beberapa ahli menyatakan bahwa hasil studi masih korelasional.

Dengan kata lain, pria yang menonton video porno memang lebih cenderung tidak bahagia dalam hubungan mereka. Namun, pria yang tidak menonton video porno juga bisa merasa tidak bahagia.

“Sangat mungkin bahwa seorang pria yang secara teratur menonton film porno mendapatkan hubungan yang bahagia dengan istrinya,” kata David Ley, Ph.D., seorang psikolog klinis yang mengkhususkan diri dalam isu-isu seksualitas dan penulis Ethical Porn for Dicks: A Man’s Guide to Responsible Viewing Pleasure.

“Namun, bila hubungan sudah bermasalah sebelum menonton video porno, maka itulah yang membuat rutinitas menonton video porno semakin memperburuk hubungan,” lanjutnya.

Terapis seks asal New York City Ian Kerner, Ph.D., penulis She Comes First menambahkan, bahwa kita masih hidup dalam masyarakat di mana menonton film porno sangat terstigma dan banyak pria merasa harus menyembunyikannya dari pasangan mereka.

Tapi, jika seorang pria dapat berbicara dengan pasangannya bahwa apa yang ada di film porno tidak berarti baginya, itu tidak harus menjadi masalah besar dalam hubungan, ia menambahkan.

“Beberapa studi ada yang menunjukkan, bahwa video porno dapat membuat gairah seksual pria meningkat dan membuat Anda lebih mungkin untuk memulai kehidupan seks yang rutin dengan pasangan,” kata Ley.

Intinya, bila video porno memberikan manfaat baik bagi Anda dan tak mengganggu kepuasan seksual, Ley dan Kerner mempersilakan untuk menikmatinya.

Namun, bila video porno justru membuat hubungan seksual dengan pasangan menjadi “hambar”, cobalah untuk segera menghentikannya.

Untuk Anda tahu, kegemaran menonton film erotis atau film porno untuk pria tidak berhenti ketika mereka telah menikah.

Hal yang demikian tak ayal membuat banyak wanita khawatir dengan hobi suami tersebut.

Kekhawatiran tersebut pun seiring waktu membuat wanita menjadi tidak percaya diri dan tidak nyaman ketika bercinta dengan suami.

Menurut Emily Rose, seorang pakar seks, pria memang terlahir sebagai makhluk visual yang mudah terangsang dengan penampilan fisik, sedangkan wanita lebih mementingkan hubungan emosional.

“Tontonan porno memberikan pria pengalaman secara visual yang berbeda mengenai aktivitas seks,” jelas Rose.

“Suka tidak suka, film porno meningkatkan imajinasi pria sehingga mudah bergairah,” imbuhnya.

Film porno, kata Rose, menyajikan sebuah fantasi pada pria di mana mereka merasa wanita mudah dibahagiakan secara seksual.

Rose juga menambahkan bahwa berdasarkan studi kebanyakan pria menganggap menonton film porno bukanlah sebuah perselingkuhan.

“Film porno juga dianggap pria sebagai pereda stres dan benar-benar tidak ada hubungannya dengan hubungan nyata. Kebanyakan pria merasa ini bukan pengkhianatan cinta,” pungkasnya.

Komentar