Pilihan Menjanda Sehat bagi Wanita

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 28 April 2016 | 09:08 WIB

Dibaca: 0 kali

Wanita yang memilih menjanda bisa lebih sehat?

“Ya,” tulis sebuah studi terbaru yang ditulis laman  situs Medindia, Kamis, 28 April 2016.

“Kehilangan pasangan bisa berdampak positif bagi kesehatan wanita,” tulis “medindia,” merilis sebuah hasil studi terbaru.

Studi ini berbanding terbalik dengan  apa yang  selama ini dipercayai masyarakat bahwa menikah mendatangkan manfaat kesehatan.

Peneliti dari University of Pandova menunjukkan, para janda lebih sedikit merasa stres setelah suami mereka meninggal.

Tapi hal itu tak berlaku bagi pria, mereka cenderung bergantung pada pasangannya.

“Kehilangan pasangan bisa memberi efek positif bagi kesehatan wanita, karena mereka cenderung mulai merawat diri sendiri tanpa mengalami stres,” tulis studi tersebut

Dr Caterina Trevisan menjelaskan, bagi sebagian besar pria memiliki istri berarti mereka hidup lebih teratur dan ada seseorang yang menjaga kesehatan mereka.

Sebaliknya, wanita jadi lebih stres dan mendapati peran mereka terbatas dan membuat frustrasi.

Dia juga menambahkan, wanita menikah kemungkinan mengalami efek beban sebagai pengurus rumah tangga karena mereka seringkali mengabdikan diri bagi suami di masa tua.

Wanita yang kehilangan suami mereka hampir seperempat kali lebih sedikit merasa rapuh dibandingkan pria yang kehilangan pasangan mereka.

Para janda lebih sedikit kemungkinan merasa rapuh dibandingkan para lajang dan duda.

Para peneliti juga menemukan wanita yang telat menikah lebih rendah risiko untuk turun berat badan dan kelelahan. Studi ini dimuat dalam Journal of Women’s Health.

Perpisahan dalam hubungan menjadi kondisi yang paling tak diinginkan oleh para pasangan.

Dari banyak bentuk perpisahan, kematian menjadi hal paling tragis untuk sejumlah pasangan menikah.

Fase bangkit seseorang yang tengah ditinggal oleh pasangannya bergantung dari seberapa jauh kedekatan seseorang dengan pasangannya dan juga penyebab kematian.

Ada perbedaan seberapa dekat dia dengan pasangan dan bagaimana dia memaknai hubungan tersebut. Misal, apakah pasangannya sakit dulu atau meninggal mendadak seperti kecelakaan

Kebanyakan kasus kematian pada pasangan teramat sulit move on ketika pasangannya mati mendadak, secara mental seseorang tidak siap atas kepergian pasangan selama-lamanya.

Pada pasangan menikah banyak kasus meninggal karena sakit, jadi pada pasangan mereka yang sakitnya udah lama, sedikit banyak sudah siap-siap. Tapi tergantung juga gak bisa dipatokin.

Kedekatan hubungan baik dari segi keintiman secara psikologis dan lamanya waktu menjalin hubungan begitu berpengaruh terhadap cara individu untuk move on dari kematian pasangan mereka.

Misalnya ngejalanin hubungan sama pasangannya baru dua bulan tapi susah banget dapetin si pasangannya, sekalinya dapet ditinggal mati yang membuat seseorang gak mudah untuk move on.

Dampak terburuk dari individu yang ditinggal mati pasangannya ketika ia sudah berada pada kondisi depresi.

Pada pasangan menikah yang alami depresi memikirkan bagaimana melanjutkan hidup, khususnya dalam membesarkan buah hati.

Nina menjelaskan, hal yang biasanya dilakukan untuk mencermati apakah seseorang depresi atau tidak dari rasa sedih yang melanda setiap harinya, adanya perubahan pola makan yang cenderung tidak nafsu makan, atau pola tidur yang berubah hingga kehilangan konsentrasi.

Untuk menangani kasus kematian dalam hubungan diperlukan pengelolaan emosi untuk bisa bangkit dari kesedihan yang melanda seseorang.

Sebetulnya mereka perlu mengolah emosinya, melihat kembali bagaimana sih sebetulnya faktor dan aspek kehilangan yang mereka rasakan.

Ada orang-orang yang sebetulnya lebih berat kehilangan secara financial, dan ada lagi kehilangan teman bercerita.

Supaya bisa move on dengan cepat untuk individu tidak cepat menolak atau menghindari perasaannya.

Dengan benar-benar menerima seseorang punya kesempatan lebih besar untuk move on.

Komentar