“Peta Tubuh” Sensifitas Pria-Wanita

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 11 Desember 2015 | 11:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda memiliki sensitifitas terhadap sentuhan yang singgah di tubuh?

Kalau iya, bagian mana dari tubuh Anda yang pantang disentuh oleh orang lain

Seperti ditulis oleh media terkenal “the independent,” peneliti dari Oxford, dan Aalto, telah merampung survei tergadap masalah ini dan memetakan area mana dari tubuh Anda yang nyaman dan tidak nyaman disentuh, dan oleh siapa.

Peta tubuh ini bisa menunjukkan secara tepat bagian tubuh mana yang disukai atau tidak disuka ketika orang lain menyentuhnya.

Hasil penelitian ini jauh lebih detil dari perkiraan banyak orang karena ia dikompilasi dalam sebuah ‘indeks peta tubuh’ dan dipublikasikan dalam jurnal Proceeding of the National Academy of Sciences di Amerika Serikat.

Dilaporkan bahwa laki-laki jauh lebih nyaman dengan kontak fisik, dibandingkan perempuan, dengan pengecualian tunggal kontak dengan teman-teman pria.

Sebagian besar perempuan mengatakan kepada peneliti, satu-satunya bagian tubuh yang nyaman disentuh orang asing laki-laki adalah tangan mereka.

Sebagai perbandingan, laki-laki mengklaim, mereka lebih nyaman dengan orang asing perempuan yang menyentuh setiap bagian tubuh mereka, termasuk alat kelamin mereka.

Ilmuwan Finlandia dan Inggris bertanya kepada peserta dari Inggris, Finlandia, Perancis, Italia, dan Rusia untuk mewarnai secara garis besar bagian tubuh yang tidak nyaman disentuh.

Secara keseluruhan, laki-laki lebih tidak nyaman, dibandingkan perempuan, ketika disentuh oleh teman.

Perempuan umumnya senang disentuh di sebagian besar tubuh mereka, baik oleh teman laki-laki atau perempuan. Sementara itu, laki-laki jauh tidak nyaman dengan interaksi fisik sejenis.

Peneliti Universitas Aalto, Julia Suvilehto, menyarankan bahwa penelitiannya menunjukkan bahwa sentuhan adalah sarana penting dalam menjaga hubungan sosial.

“Semakin besar kesenangan yang disebabkan oleh sentuhan di area tubuh tertentu, maka semakin selektif kita membiarkan orang lain menyentuhnya.”

“Kami menafsirkan sentuhan tergantung kepada konteks hubungan,” kata seorang peneliti Oxford, Robin Dunbar, seperti dilaporkan oleh laman Independent.

“Kita mungkin menganggap sentuhan seorang teman atau kerabat di daerah tertentu sebagai sikap yang menyenangkan.”

“Namun, sentuhan yang sama dari pasangan mungkin akan lebih mengesankan, dan ketika dilakukan oleh orang asing sepenuhnya menjadi tidak diinginkan.”

Selain melakukan penelitian tentang sentuhan, studi ini juga berkembang bagaimana keutuhan rumah tangga bisa dipertahankan.

Hasilnya mengungkapkan rasa terima kasih kepada pasangan adalah satu-satunya cara terbaik untuk mempertahankan pernikahan yang harmonis

Studi menemukan bahwa mengucapkan ‘terima kasih’ dan menunjukkan penghargaan dapat menjadi penghalang perceraian yang efektif, serta menentukan seberapa besar komitmen pasangan dalam hubungan mereka.

Perasaan bersyukur juga bisa menangkal dampak konflik dan pengalaman negatif yang tidak diinginkan, kata para peneliti.

“Studi ini menunjukkan kekuatan ucapan ‘terima kasih’,” kata Allen Barton, penulis utama penelitian dari Pusat Penelitian Universitas Georgia untuk Penelitian Keluarga, dalam jurnal Personal Relationships.

Bahkan, menurut Allen, jika pasangan mengalami kesusahan dan kesulitan, dua kata magis tersebut bisa mengurangi tekanan dan membuat mereka merasa diperhatikan.

Misalnya, mengucapkan terima kasih saat pasangan mau membantu pekerjaan rumah tangga, atau ketika mereka dengan sukarela membuatkan minuman favorit.

Kepedualian pada pasangan yang diungkapkan lewat hal-hal kecil, memang berdampak positif pada kehidupan percintaan.

Studi ini bertanya kepada ratusan orang yang telah menikah tentang kesejahteraan keuangan, apakah mereka tipe ‘penuntut’ atau ‘tidak peduli’ dalam mengekspresikan rasa peduli kepada pasangan.

Rasa syukur, diukur lewat seberapa dihargai seseorang oleh pasangan mereka.

Hal ini ternyata merupakan alat prediksi paling konsisten untuk menilai kualitas pernikahan.

Mengatakan ‘terima kasih’ dan sikap menghargai juga bisa memperbaiki siklus komunikasi yang buruk ketika pasangan sedang tertekan.

“Kami menemukan, bahwa ketika pasangan sedang mengalami konflik, ungkapan terima kasih dan penghargaan bisa menangkal atau mencegah efek negatif ketidakstabilan pernikahan,” kata rekan penulis Ted Futris dari College of Family and Consumer Science, seperti dilaporkan oleh Independent.

“Studi ini penting, sebab menyoroti cara praktis yang membantu pasangan memperkuat hubungan mereka, terutama jika mereka tengah berada dalam konflik.”

Komentar