Selingkuh Itu Tidak Baik bagi Kesehatan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 13 Februari 2018 | 10:09 WIB

Dibaca: 0 kali

Perselingkuhan?

Ya, Anda perlu mengetahui berdasarkan  survei nasional yang dilakukan oleh American Association for Marriage and Family Therapy, persentase wanita dan lelaki yang melakukannya makin meningkat

Untuk Anda juga tahu, definisi  perselingkuhan memang bisa berbeda–beda bagi setiap pasangan.

Namun, sering kali arti dari selingkuh adalah mencakup perilaku yang menjurus ke arah seksual  pornografi, menggoda orang lain yang bukan pasangannya, atau hubungan emosional dengan orang lain .

Apapun definisinya, perselingkuhan dapat membuat seseorang yang diselingkuhi tersakiti atau mengalami patah hati. Tak berhenti sampai di situ, faktanya selingkuh juga bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Universitas Nevada, Amerika Serikat, pada dua ratusan  mahasiswa yang telah diselingkuhi selamatiga  bulan terakhir yang rata-rata menjalin hubungan asmara selama satu tahun perselingkuhan dapat memberikan dampak bagi orang yang diselingkuhi tak hanya secara mental, tapi juga fisik.

Menurut penelitian tersebut ditemukan bahwa “korban” yang diselingkuhi tak hanya mengalami stres secara psikis, namun juga memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku yang berisiko seperti penyalahgunaan alkohol, obat-obatan terlarang, melakukan seks yang berisiko, gangguan pola makan, atau olahraga secara berlebihan.

Selain itu, sikap negatif seperti disalahkan oleh pasangan, menyalahkan diri sendiri, tidak percaya diri dapat berujung pada stres, gangguan kecemasan, dan depresi.

Menurut studi yang dilansir di Journal of Social and Personal Relationships, wanita cenderung mengalami stres yang lebih berat saat diselingkuhi dibandingkan pria.

Ketika seseorang mengalami stres emosional yang mendadak, kondisi ini dapat memicu atau meningkatkan risiko serangan jantung, aritmia (gangguan irama jantung) dan bahkan kematian mendadak.

Meski risiko ini lebih sering terjadi pada orang yang sebelumnya telah memiliki riwayat penyakit jantung, tapi sering kali banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka memilikinya sampai ketika mereka mengalami stres mendadak.

Ketika stres tersebut mengganggu kehidupan Anda sehari-hari, Anda dapat kesulitan untuk beraktivitas dalam jangka panjang, dan ini bisa berdampak buruk bagi tubuh Anda.

Seperti pada penelitian yang dipublikasikan di Annual Review of Psychology, disebutkan bahwa hampir  lima puluh responden yang mengalami stres kronis sering mengalami nyeri kepala kronis.

Selain itu, bila berlangsung terus menerus, stres yang kronis dapat berujung pada depresi dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung.

Selain risiko penyakit jantung, menurut survei yang dilakukan oleh American Psychological Association tahun enam tahun silam, ketika Anda merasakan sakit hati oleh perselingkuhan dan mengalami stres, empat puluh persen orang cenderung mengalami kesulitan tidur pada malam hari.

Akibatnya, ketika Anda kurang tidur, maka pada siang hari Anda akan kesulitan berkonsentrasi, tidak fokus dalam bekerja atau beraktivitas, serta mudah lelah dan kurang berenergi.

Tak hanya itu, stres yang kronis juga bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, obesitas, dan diabetes.

Rasa kecewa, sedih, marah, dan tersakiti adalah respons alami ketika Anda mengetahui bahwa pasangan Anda selingkuh. Meski demikian, jangan jadikan perselingkuhan tersebut sebagai pusat kehidupan Anda.

Cobalah untuk perlahan melupakan luapan emosi negatif yang Anda rasakan, agar Anda tidak dilanda stres yang berkepanjangan sehingga berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik Anda.

Yakinlah bahwa perlahan waktu akan menyembuhkan luka di hati, dan di kemudian hari Anda akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik.

Banyak dari mereka yang berselingkuh menyalahkan gen yang diwariskan dari orangtua.

Dilansir dari ABC News, Ternyata gen yang berperan adalah D4 plymorphsm atau disingkat DRD4.

Setiap orang terlahir dengan membawa gen ini dan yang menentukan bakat selingkuhnya adalah varian serta ukuran dari gen tersebut.

Gen DRD4 berperan dalam produksi hormon dopamin. Hormon ini diproduksi oleh otak ketika suasana hati sedang gembira.

Gen ini juga dikaitkan dengan kecanduan seseorang terhadap alkohol dan tantangan.

Selain gen DRD4, ternyata ada gen lain yang dikatakan berperan yaitu AVPR1A. Gen ini memproduksi arginine vasopressin yang mengatur rasa percaya dan empati seseorang. Varian tertentu dari gen AVPR1A ini dipercaya berpotensi menjadi gen selingkuh.

Tidak hanya faktor genetik yang mempengaruhi keinginan seseorang untuk selingkuh, namun faktor ekonomi, sosial dan psikis juga ikut berperan.

Namun, mereka yang terlahir dengan warisan genetik selingkuh tersebut belum pasti akan  menjadi pelaku perselingkuhan, karena semua kembali pada pribadi masing-masing.

Jika Anda merasa jenuh dalam hubungan, carilah kegiatan baru yang lebih menantang agar keinginan selingkuh bisa anda hindari.

 

Komentar