Pernah Tahu Tentang Ejakulasi Kering?

Penulis:: Darmansyah

Sabtu, 20 Februari 2016 | 09:48 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda tahu apa itu ejakulasi “kering?”

Istilah itu datang dari urolog global terkenal, David Kaufman, MD, ilmuwan New York City’s Central Park Urology.

Ejakulasi kering itu berasal dari orgasme tanpa disertai dengan keluarnya air mani.

Di komunitas medis, ejakulasi kering juga sering disebut sebagai ejakulasi retrograde.

Pada dasarnya, pria yang memiliki pengalaman orgasme kering merasakan kepuasan seksual seperti biasa, yang membedakan hanya tidak adanya air mani atau sperma yang keluar bersamaan dengan kepuasan itu.
Bagaimana ini bisa terjadi?

Alih-alih meluncur keluar, air mani masuk ke dalam kandung kemih, dan akhirnya keluar bersama dengan air seni.

“Saat orgasme, otot-otot kandung kemih saling mendekat sehingga satu-satunya jalan keluar bagi air mani adalah lewat lubang organ kelamin,” ujar Kaufman.

Ketika ada sesuatu yang mengganggu kemampuan otot-otot itu untuk menutup, terjadilah apa yang dinamakan orgasme kering.

Ada banyak pemicu yang dapat menyebabkan orgasme kering pada pria, di antaranya adalah operasi prostat, menderita diabetes tipe 1, atau karena pemakaian obat-obatan tertentu, seperti obat untuk mengatasi rambut rontok, seperti disampaikan Kevin Campbell, MD, urolog dari The Urology Group di Ohio.

Pemicu lainnya adalah kanker kandung kemih, saluran sperma terblokir, obat penurun tekanan darah tertentu, kelainan genetik, kekurangan testosteron, multiple sclerosis, terapi radiasi, dan cedera tulang belakang.

Menurut para ahli, orgasme kering tidak membahayakan dan tidak menyakitkan.

Hanya, hal tersebut bisa mengganggu kesuburan atau kemampuan membuahi atau memiliki keturunan.

“Itu sebabnya, sebelum melakukan prosedur operasi pada pasien yang mengalami gangguan prostat, saya memberi tahu mereka mengenai risiko ejakulasi kering,” kata Kaufman.

Jika Anda menemukan bahwa jumlah air mani yang keluar sangat sedikit saat orgasme, atau tidak ada air mani sama sekali, ada baiknya Anda menemui dokter untuk memeriksakan diri dan mencari tahu penyebabnya.

Jika Anda sedang tidak dalam program untuk memiliki momongan, artinya tidak ada yang perlu dicemaskan dengan kondisi ini.

“Sama sekali tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan ejakulasi kering, kecuali Anda sedang dalam program memiliki bayi dengan pasangan Anda,” kata Kaufman.

Ejakulasi kering ini beda dengan sikap berpura-pura orgasme.

Untuk berpura-pura orgasme punya alasan tertentu dikalanganan pria

Seperti ditulis “everydayhealth.com,” Sabtu 20 Februari 2016, orgasme “palsu” ini bisa terjadi akibat terburu-buru.

Kebanyakan pria membutuhkan waktu selama tujuh menit sejak awal penetrasi hingga mencapai klimaks.

Jika pria sudah merasa terlalu lama melakukan aktivitas seks tanpa mencapai orgasme, maka biasanya ia akan berpura-pura telah orgasme.

Setelah itu barulah ia berusaha mencapai orgasme dengan kegiatan seksual lainnya.

Lainnya bisa untuk menyenangkan pasangan

Jika hubungan intim berjalan terlalu lama, pria akan khawatir pasangannya menjadi tidak nyaman.

Pria juga tahu bahwa sang pasangan kemungkinan besar merasa tidak nyaman bila hubungan seks harus dihentikan sebelum sanga pria mencapai orgasme.

Karenanya, pria memutuskan lebih baik untuk memalsukan orgasme.

Selainnya lagi adalah karena kepentingan ego Pria lebih senang berpura-pura orgasme daripada dianggap tidak bisa melakukan seks dengan baik sehingga tidak mencapai orgasme.

Lebih mudah bagi pria untuk berpura-pura orgasme daripada ditanyai mengapa ia tidak orgasme.

Semua pria tentu malu jika diketahui bahwa ia menderita ejakulasi dini.

Oleh karena itu, banyak pria yang pura-pura telah mencapai orgasme untuk menutup hal tersebut. Jadi apa yang sebenarnya dialami pria terkadang ejakulasi dini namun disamarkan menjadi orgasme.

Banyak pasangan yang beranggapan bahwa hubungan intim harus diakhiri dengan orgasme.

Jika tidk, apa akhir dari hubungan intim?

Nah daripada bingung atau terlalu lama melakukan aktivitas seks, pria terkadang lebih memilih utuk memalsukan orgasmenya.

Komentar