TekoKopi - Promo HARBOLNAS

Pernah Tahu Seks Kilat Atasi Kebosanan

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 5 Agustus 2016 | 10:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Pernah tahu tentang seks “kilat?”

Kalau pernah dtahu, apakah sering melakukannya?

Ya, seks kilat kini popular dikalangan  pekerja keras, baik pria maupun wanita.

Mereka termasuk orang yang  jarang dilakukan aktivitas itu  lantaran sudah terlalu sibuk mengurusi hal lainnya.

Mereka juga menyadari kebutuhan biologis yang tidak terpenuhi sesuai kemauan hati bisa membuat  stres. Terlebih, diiringi dengan mood yang negatif.

Ketika suasana hati seseorang kurang baik, maka apapun yang dilakukannya tidak akan maksimal.

Tidak sedikit jumlah dari mereka yang berupaya meluangkan waktu untuk bercinta agar tidak stres. Adapula yang melakukannya supaya hubungan tetap ‘panas’ dengan pasangan.

Tidak sedikit jumlah dari mereka yang kesulitan menyisihkan waktu karena agenda yang begitu padat.

Bahkan, beberapa dari mereka ada yang sudah terlalu lelah hingga hanya kasur dan tidur yang ada di pikiran.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dampak negatif akibat minimnya aktivitas bercinta cukup banyak dan tergolong fatal tidak hanya bagi kesehatan psikis masing-masing individu, namun juga terhadap kelangsungan hubungan antar kedua pihak secara keseluruhan.

Seorang ibu sekaligus blogger aktif di New York,  bernama Mel Watts merupakan salah satu dari jutaan orang yang pernah melewati fase tersebut.

Namun, ia juga merupakan salah satu dari segelintir orang di antara jutaan lainnya yang keluar dari perangkap tersebut dengan senyuman lebar yang tulus.

Melansir laman situs She Knows, Jumat, 05 Agustus 2016,  Mel menguak rahasia bahagia di balik senyuman lebarnya itu lewat akun Facebooknya.

Ia menceritakan bagaimana seks kilat atau yang dikenal dengan istilah quickie menyelamatkan hubungan perkawinannya.

Meski kerjaan dan tanggung jawab rumah menumpuk, Mel tetap berusaha menyelipkan agenda seks di antara kesibukannya. Menurutnya, durasi tidak lagi menjadi tolak ukur, yang penting adalah pelampiasan hasratnya sesingkat apapun waktu yang diberikan.

“Sudah sekian lama saya menolak ajakan suami bercinta. Lama-lama saya jadi merasa bersalah, tidak enak karena tidak bisa memenuhi kemauannya. Lalu saya pikir, tidak ada salahnya kita beralih ke quickie!,” tulisnya di kolom status akun Facebook pribadinya.

Ia lanjut menjelaskan bahwa seks kilat memiliki manfaat dan dampak positif untuk pasangan dalam menjalin hubungan cinta.

Mel mengatakan dirinya tidak menyesal mengumbar aktivitas hubungan intimnya dengan suami. Ia justru berharap banyak pasangan yang tengah mengalami krisis untuk melakukan hal yang sama dan rasakan perbedaannya yang spektakuler.

“Memang terkesan tergesa-gesa, justru di situlah gairah langsung memuncak. Dengan waktu terbatas, kita akan lebih menghargai momen tersebut, melakukannya di tempat tak menentu, gaya relatif hardcore, tak peduli apabila pakaian dalam yang kita kenakan terlihat seksi atau tidak,” lanjutnya.

Mel menganggap upaya untuk menyelamatkan pernikahannya dengan menerapkan quickie sangat brilian. Bercinta baginya seperti sebuah petualangan dalam film cinta sekaligus aksi.

“Setelah bercinta saya buru-buru menata kembali rambut dan make up, kemudian saya sembunyikan barang bukti lainnya yang ada di sekitar agar sang anak tidak curiga,” tambahnya.

“Sebetulnya tidak perlu tergesa-gesa karena kami tidak bersembunyi dari siapapun, tetapi esensi serunya seolah sedang mengejar suatu misi membuat setiap seks kilat menjadi pengalaman yang tak akan pernah luput dari ingatan!,” tutupnya.

Ada berbagai alasan mengapa mereka  tidak tertarik lagi melakukan hubungan seksual .

Dikutip dari Huffington Post,  seorang seksolog, Tammy Nelson,  yang menulis buku Getting the Sex You Want mengatakan, “Kita bisa saja jera memulai seks lagi karena takut ditolak, tapi kalau ingin menyalakan lagi percikannya

Misalnya, bagi kebanyakan wanita, gairah seks berkaitan langsung dengan bagaimana perasaan mereka tentang hubungan.

Kalau sang istri kesal dengan kita atau tidak puas dengan pernikahan karena alasan lain, seks tidak ada dalam pikirannya, kata Susan Krauss Whitbourne, seorang psikolog yang menulis blog “Fulfillment At Any Age” untuk Psychology Today.

Katanya, “Pria perlu bertanya kepada pasangannya untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. Ia mungkin merujuk kepada sesuatu yang sepele di rumah atau kebiasaan perawatan diri, atau mungkin ada masalah yang lebih besar semisal rasa saling hormat dan komunikasi.”

Dengan bertambahnya usia, bertambah pula kebijaksanaan—dan keteledoran di ranjang. Jika seks menyakitkan atau tidak nyaman bagi istri, tentu saja keintiman jadi terganggu, Elizabeth McGrath, seorang ahli terapi dan pendidik seks di Bay Area, California mengungkap.

“Pria dan wanita sama-sama mengalami fluktuasi hormonal. Bagi wanita, fluktuasi itu bisa berdampak kepada dorongan seks bersamaan dengan kesiapan jasmani untuk seks, perubahan kelembaban vagina dan ‘perasaan seksi’.”

Jika demikian, McGrath mengatakan bahwa salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mengingatkan pasangan bahwa kita masih tertarik kepadanya, temukan saatnya ia paling santai dan coba cara baru semisal penggunaan pelumas.

Perlu juga untuk lebih perlahan, “Wanita memiliki masa rangsangan seksual yang lebih panjang daripada pria sehingga ketika seks berlangsung terlalu cepat, ia bisa kesulitan terangsang dengan kecepatan yang sama.”

Seks jauh lebih dari sekadar seks. Saling membangun secara perlahan, saling mencium di awal hari. Nelson menjelaskan, entuhan menunjukkan kepada pasangan bahwa daya tariknya masih tetap membara.

“Fokus kepada sentuhan fisik dan kemesraan setiap hari dan jangan tergesa-gesa menuju seks. Duduk di sampingnya di sofa. Pegang tangannya, pijat lehernya. Jangan sampat ia berpikiran bahwa kita menyentuhnya hanya demi seks.”

McGrath menjelaskan, setelah sibuk di pekerjaan, mengantar sekolah, dan pernak-pernik urusan rumah tangga, sangat mungkin pasangan menjadi terlalu letih bahkan untuk berpikir tentang melakukan seks.

Keletihan itu nyata. Kaum wanita harus punya kesempatan untuk merasa penuh secara energik dan terisi. Jika pasangan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri atau ruang untuk istirahat, santai dan mengisi ulang ‘baterai’-nya, ia bisa merasa keberatan untuk urusan seksual.

Untuk mengatasi hal ini, mari saling memberi waktu pribadi masing-masing dan “melakukan eksperimen dengan bagaimana rasanya keintiman setelah isteri telah memiliki waktu pribadinya sendiri,” kata McGrath.

Beberapa tahun lalu, peneliti seks bernama William Masters dan Virginia Johnson mengemukakan bahwa segala yang diperlukan untuk menjaga kehidupan seks yang memuaskan seiring bertambahnya usia adalah, “Kesehatan yang baik dan pasangan yang tertarik sekaligus menarik”.

Coba tanya diri sendiri. Kapankan pasangan melihat kita sekarang, apakah ia masih melihat pria yang menarik dan menawan yang membuatnya jatuh cinta atau kita telah kehilangan cahaya itu?

Kata Krauss Whitbourne, “Bahkan kalaupun kita jauh lebih muda daripada orang-orang yang dimaksud oleh Masters dan Johnson, ada kemungkinan kita telah kehilangan sejumlah kehebatan masa lalu.”

Katanya, untuk “mengembalikan sebagian dari apa yang membuat seseorang menawan pada awalnya.” Kenali minat pribadi dan terhubung kembali dengan pribadi kita ketika di luar pernikahan.

Dengan berjalannya waktu, kehidupan seks semakin melempem. Jika istri merasa seks sudah mudah ditebak—waktu yang sama, tempat yang sama, posisi yang sama—mungkin saatnya untuk perombakan, Dawn Michael, seorang penulis dan seksologis menyarankan.

Ganti ceritanya, buatlah kamar tidur menjadi seksi dan romantis dengan menambahkan lilin dan musik lembut—siapkan panggung untuk kehangatan.

Pakai imajinasi untuk permainan peran satu sama lain.

Hampir semuanya menyenangkan, silahkan saling menggoda. Biarkan dirimu larut dan nikmati momen yang ada dan orang yang berbagi momen itu bisa menjadi intim dan seksi.

Nelson menjelaskan, “Daripada sekedar memikirkan kehidupan seks yang menggelora, fokuslah sedikit lebih banyak kepada koneksi emosional dengan istri.”

“Kadang-kadang, perasaan terhubung secara emosional sebelum melakukan seks membantu kaum wanita untuk menyala sebelum melakukannya. Tahukah? Ternyata ini juga berlaku untuk pria,” lanjut Nelson.

Kemudian, seperti anjuran Nelson, kembangkanlah pembicaraan kepada 3 hal yang paling disenangi ketika melakukan hubungan seks.

“Setelah usai dengan latihan sederhana ini, kita akan merasa lebih terhubung secara emosional dan kita mengerti hal-hal yang pada awalnya membawa pasangan. Kita bisa cukup terangsang untuk memulai sesuatu yang seksi setelahnya,” tandasnya.

Komentar