Perasaan Pria Kala Wanita Orgasme

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 13 April 2017 | 09:48 WIB

Dibaca: 1 kali

Peneliti dari University of Michigan mengatakan pria merasa lebih jantan jika berhasil membuat wanitanya orgasme.

Menurut peneliti ada kepuasan seksual tersendiri yang dirasakan pria, mereka merasa senang dan bangga dengan dirinya sendiri.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Sex Research ini mengatakan kepuasaan seksual pria rupanya bisa datang dari kepuasaan yang dialami wanita.

“Lewat orgasme, pria membuktikan diri bahwa mereka mampu meraih simbol maskulin,” kata peneliti kepada Broadly, Kamis, 13 April

Namun, lewat penelitian ini juga peneliti melihat adanya faktor yang diabaikan oleh pria.

Dari delapan ratusan pria yang menjadi responden penelitian, beberapa di antaranya tidak menikmati sesi bercinta dengan tenang karena terlalu berfokus membuat wanita berhasil orgasme.

Psikoanalis dan penulis buku berjudul Guide To Getting It On, Paul Joannides, berasumsi studi tersebut kurang lengkap karena peneliti tidak mengukur kesenangan atau perasaan wanita secara keseluruhan sebelum dan sesudah merasakan orgasme.

Banyak rumor yang menyebut bahwa wanita kerap memalsukan orgasme kala bercinta untuk membuat pasangannya senang.

Namun faktanya, hal ini bertolak belakang dengan isi jurnal The Faking Orgasm Scale for Women: Psychometric Properties.

Wanita memalsukan orgasme bukan karena pasangan, tapi untuk kepuasan diri. Wanita ingin membuat pengalaman bercinta yang lebih menyenangkan.

Penulis berhipotesis bahwa mencapai klimaks, meski itu berpura-pura, selain untuk menyenangkan hati pria, juga bisa mempromosikan kesenangan dalam hubungan seksual.

Untuk studinya, peneliti dari Temple University dan Kenyon College mensurvei empat ratus perempuan heteroseksual.

“Salah satu bukti kuantitatif yang kami temukan, wanita juga bisa memalsukan orgasme karena alasan yang lebih egois, yakni demi meningkatkan gairah mereka sendiri,” kata salah satu peneliti, Erin Cooper.

Alasan utama dari peserta survei yang memalsukan orgasme saat seks oral karena mereka ingin menyenangkan pasangannya, menghindari rasa tidak aman, dan meningkatkan gairah mereka sendiri.

Melansir Huffington Post, ada alasan lain mengapa wanita memalsukan orgasme:

Meski tidak merasakan orgasme, wanita memiliki tantangan yang kuat untuk membuat pasangannya ejakulasi. Ketia ia mulai pura-pura merasakan orgasme, pria baru akan ejakulasi. Kebanyakan pria menahan ejakulasi sebelum pasangannya orgasme.

Tidak semua posisi seks membuat wanita merasa nyaman. Ada kalanya mereka merasakan nyeri di area intim. Salah satu cara untuk menghentikan aktivitas seks adalah dengan meneriakkan “Big O!” yang menandakan ia sudah orgasme.

Teknik yang kurang membuat wanita merasa jenuh saat bercinta. Apalagi jika posisi yang dilakukan terbilang sulit. Karena itu, memalsukan orgasme menjadi jalan keluar dari layanan pasangan yang kurang memuaskan.

Banyak wanita memalsukan orgasme saat berhubungan seks dengan pasangannya. Selain untuk menutupi seks yang biasa-biasa saja, mereka cenderung ingin menjaga rasa percaya diri pria.

Namun sebuah penelitian terbaru menguak hal yang mengejutkan, seperti dikutip dari Women’s Health

Penelitian yang dipresentasikan oleh Psikologi British Psychological Society dalam konferensi tahunan perempuan di Windsor, Inggris menemukan bahwa perempuan memalsukan kenikmatan seks atau orgasme karena ingin mempercepat atau mengakhiri hubungan seks.

Penelitian kecil dilakukan terhadap lima belas wanita  yang aktif seksualnya selama setidaknya satu tahun sebelum penelitian.

Melalui wawancara, para peneliti melihat korelasi antara berpura-pura orgasme dengan pengalaman seksual bermasalah yang tidak mereka inginkan dan memaksa.

Para ahli kemudian menyimpulkan, memalsukan orgasme menjadi solusi bagi wanita untuk melarikan diri dari seks bermasalah.

“Berpura-pura orgasme menjadi strategi yang berguna karena memberi kontrol untuk segera mengakhiri hubungan seksual.”

“Studi ini kecil, tapi fakta bahwa semua peserta berbicara tentang pengalaman seperti ini adalah mengganggu,” jelas Emily Thomas, salah seorang peneliti.

Komentar