Penyebab Kehangatan Bercinta Terhenti

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 23 Agustus 2016 | 09:29 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda pernah menghentikan hangatnya percintaan  di tengah-tengah sesi, yang kemudiannya  menjadikan Anda dan pasangan tidak puas?

Ya. Seperti ditulis “daily mail,” Selasa, 23 Agustus 2016, memang banyak pasangan yang mengalami kejadian itu dengan alasan yang berbeda-beda.

Pertama, mungkin, karena faktor anak.

Ketika memiliki anak, pasangan wajib membagikan perhatian serta kasih sayangnya kepada anak.

Hal ini yang selanjutnya memengaruhi Anda dan pasangan dapat berhenti berhubungan seksual.

Dalam sebuah studi bahkan disebutkan pasangan yang memiliki anak di bawah usia lima tahun dilaporkan mengalami ketidakpuasan dalam berhubungan seksual.

Selain kehadiran anak, datangnya stress bisa juga menjadi sebab yang lain.

Studi dalam Journal of Marriage and Family reports melaporkan bahwa stres dapat memicu respon hormonal, yang dapat memengaruhi libido.

Beberapa orang menggonsumsi obat-obatan terkait stres atau masalah emosional untuk mengatasi masalah ini.

Namun, penelitian menunjukkan menggunakan obat cenderung memperburuk situasi, termasuk disfungsi seksual atau memudarkan libido.

Yang parahnya lagi seks itu berhenti karena munculnya ucapan salah satu pihak yang membanding dirinya dengan orang lain

Tentu, tak ada yang suka dibandingkan dengan orang lain, tidak terkecuali dalam berhubungan seksual.

Pasangan tidak akan senang ketika dibandingkan dengan yang lainnya. Percaya diri dan terima apa adanya pada pasangan.

Biarkan Anda bersama pasangan saling memuji, yang kemudian akan meningkatkan kebahagian yang lebih dan mendapatkan kepuasan seksual.

Masa lalu bahkan sebelum menikah, juga  memiliki peranan pula dalam kehidupan seksual.

Seseorang yang menikah muda juga cenderung memiliki kecemasan atau ketakutan untuk berbuat salah, yang kemudian menjadi tekanan untuk memiliki pasangan yang tepat dan mendapatkan kebahagiaan serta kepuasaan.

Memiliki masa lalu yang buruk juga berpengaruh dalam hal ini.

Satu-satunya cara adalah menghabiskan waktu yang lebih banyak bersama pasangan agar lebih terampil dalam berkomunikasi. Selanjutnya ini akan membantu kehidupan seksual yang lebih baik.

Alasan utama pasangan berhenti berhubungan seksual yang terakhir adalah ketidaksesuaian atau perselisihan.

Ketika memiliki pendapat atau pandangan yang tidak sesuai, maka akan memunculkan konflik. Hal ini termasuk untuk urusan seksual.

Bahkan saat sesi bercinta dan Anda bersama pasangan mengalami perselisihan, misalnya terkait posisi atau lainnya, ini dapat menghentikan sesi bercinta.

Kemudian, kepuasaan dan kebahagiaan pun tidak terpenuhi.

Tingkat kepuasan seksual pada pasangan dapat menurun setelah hubungan berjalan satu tahun. Begitu penemuan sebuah studi dari Jerman.

Peneliti dari Ludwig Maximillian University, Munich mencari tahu berapa lama pasangan merasa puas secara seksual dalam sebuah relasi.

Mereka memakai data the German Family Panel Data Study

Studi yang diterbitkan di jurnal Archives of Sexual Behavior itu menemukan kepuasan seks meningkat dalam satu tahun berjalannya sebuah hubungan.

Namun, kepuasan itu menurun setelah satu tahun.

Meskipun hasil penelitian itu tidak mengatakan perkawinan dan hidup bersama memengaruhi kepuasan seks, yang tentu berlawanan dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

Adanya anak-anak juga tampaknya tidak memengaruhi.

Pertengkaran dan perselisihan pendapat yang menjadi akar penyebab penurunan kepuasan seks. Hal ini terlihat pada kepuasan yang menurun setiap terjadi peningkatan perselisihan.

Bahayanya, pasangan cenderung berhenti belajar mengenali kebutuhan satu sama lain setelah hubungan berusia satu tahun.

“Kami tidak menemukan anak berperan besar pada kepuasan seks pasangan suami istri. Riset juga membuktikan, bahwa frekuensi seks amat dipengaruhi keberadaan dan usia anak-anak,” kata peneliti Claudia Schmiedeberg.

Pertanyaaan-pertanyaan di atas, dan masih banyak lainnya, kerap muncul di pikiran pria dan wanita jika menyangkut seks.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap muncul dari kekhawatiran, atau malah ketakutan seseorang tentang seks.

Sebuah situs kesehatan, onlinedoctor.superdrug.com, mencoba menjawab tentang hal tersebut dengan melakukan survei.

Survei ini juga menyebut kalau para pria takut akan ukuran penis mereka. Apakah cukup besar atau tidak. Mereka juga takut mengalami ejakulasi dini.

Sedangkan para wanita takut jika pasangannya tak mau memakai kondom. Ukuran payudara juga jadi hal yang disoroti oleh para wanita.

Ketika menyangkut orgasme, survei ini menyebut kalau para wanita memprioritaskan diri mereka untuk mencapai orgasme.

Sedangkan para pria justru sebaliknya, lebih memikirkan bagaimana membuat pasangannya orgasme.

Komentar