Penis Bengkok? Kini Ada Terapi Terbaru

Penulis:: Darmansyah

Senin, 7 November 2016 | 09:31 WIB

Dibaca: 2 kali

Apakah Anda termasuk salah seorang lelaki dewasa yang memiliki penis bengkok?

Kalau iya jangan menyimpan kekhawatiran yang berlebihan.

Anda bisa  mengatasi “Mr P”  yang bengkok itu dengan mendatangi  dokter urologi.

Kalau tidak diobati?

Wah,  masalahnya bisa semakin memburuk.

Untuk Anda tahu , penis bengkok atau dalam istilah medis disebut peyronie merupakan masalah yang tidak bisa dianggap ringan karena pengaruhnya pada kehidupan seksual pria.

Penis bengkok bisa mengganggu penetrasi dan membuat hubungan seksual jadi menyakitkan.

Masalah ini juga berdampak pada kondisi psikologis pria yang menjadi kurang percaya diri.

Peyronie terjadi karena adanya jaringan parut di sekitar penis atau disebut plak peyronie. Tetapi, penyebab pasti peyronie hingga saat ini tak diketahui pasti.

Dan umumnya, peyronie dialami pria berusia empat puluhan dan enam puluhan tahun.

Para pria yang mengalami peyronie seharusnya tak perlu malu mencari bantuan ke dokter urologi.

Dengan perkembangan dunia medis, peyronie bisa diatasi dengan terapi suntik, yaitu Xiaflex.

Xiaflex merupakan obat injeksi baru yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat sejak tiga tahun silam.

Ahli urologi Dr. Leo R. Doumanian mengaku telah melakukan terapi tersebut kepada sejumlah pasien peyronie dan hasilnya cukup baik.

Obat suntik tersebut bekerja dengan cara melunakkan atau menghancurkan jaringan parut yang meyebabkan penis bengkok.

Lama-kelamaan plak akan berkurang dan penis pria tersebut bisa kembali tegak saat ereksi.

Untuk hasil terbaik, terapi suntik Xiaflex biasanya dilakukan sebanyak empat kali dengan waktu yang ditentukan.

Jika obat suntik tidak efektif pada pria tersebut, pilihan pengobatan lainnya adalah dengan operasi pembedahan.

Pembedahan dilakukan dengan cara mengikis plak tersebut.

Selain pengobatan medis, biasanya pria juga membutuhkan dukungan psikologis dalam mengatasi masalah seksualnya.

Para peneliti mengatakan, selama ini memang sudah ada beberapa obat yang telah digunakan untuk mengatasi peyronie, tetapi sebenarnya obat-obatan itu disetujui dan dikeluarkan izinnya untuk mengobati penyakit lain.

Xiaflex merupakan obat pertama yang disetujui untuk digunakan mengobati peyronie. Selain itu, pilihan pengobatan lainnya adalah operasi.

“Disetujuinya izin edar membuat obat ini menjadi pilihan bagi pria yang mengalami penyakit peyronie,” ujar Audrey Gassman, Direktur Deputi Divisi Tulang, Reproduksi, dan Produk Urologi FDA.

Xiaflex diperuntukan bagi pria yang mengalami benjolan pada penisnya, hasil dari pembengkokan paling tidak tiga puluh derajat dari ereksi.

Obat tersebut dapat menghancurkan jaringan ikat pada penis yang membuat adanya perubahan bentuk penis.

FDA menyatakan, efek samping dari obat meliputi kumpulan darah di bawah kulit penis, pembengkakan penis, nyeri pada penis, bahkan “patah” penis.

Karena adanya efek samping tersebut, dokter perlu lebih berhati-hati meresepkan obat ini.

Menurut situs kesehatan Mayo Clinic, pembengkokan penis sendiri disebabkan oleh bekas luka pada jaringan di bawah kulit penis yang dirasakan seperti benjolan.

Bekas luka tersebut biasanya didapat setelah penis mengalami cedera dari berhubungan seks atau olahraga.

Weill Cornell Medical College mengatakan, belum jelas berapa data pria yang mengalami kondisi tersebut, tetapi diperkirakan mencapai satu sampai tiga  persen dari populasi pria.

Data sulit didapatkan karena kebanyakan pria masih sangat tertutup dengan kondisi tersebut, bahkan tidak mengetahui jika mengalaminya.

Selama ini memang muncul macam-macam isu tentang penis penyebab penis bengkok.

Misalnya saja akibat celana dalam.

Padahal tidak pernah ada laporan bahwa penis menjadi bengkok karena terjadi ereksi di dalam celana dalam yang sempit.

Karena itu, tidak ada anjuran bagaimana “meletakkan” penis pada posisi tertentu di dalam celana dalam agar tidak bengkok.

Penis yang bengkok belum tentu menunjukkan adanya gangguan.

Bahkan banyak penis yang posisinya bengkok, tetapi tidak berpengaruh terhadap fungsi seksual. Jadi, kalau penis Anda bengkok ke bawah, itu pasti bukan karena sering ereksi di dalam celana dalam yang sempit.

Tetapi kalau penis Anda terasa sakit ketika ereksi dalam keadaan bengkok ke bawah itu, seharusnya Anda berkonsultasi lebih jauh dan memeriksakan diri.

Menggunakan atau tidak menggunakan celana dalam ketika tidur sebenarnya tidak ada perbedaan yang bermakna, baik terhadap fungsi seksual maupun kesuburan.

Alasannya, celana dalam pada umumnya tipis sehingga tidak akan meningkatkan temperatur kelamin, khususnya testis.

Namun, memang benar temperatur yang tinggi di bagian testis dapat mengganggu sperma

Komentar