Dampak Positif “Pemalas” bagi Lingkungan

Penulis: Darmansyah

Jumat, 2 Februari 2018 | 15:36 WIB

Dibaca: 1 kali

Benarkah orang “pemalas” tak baik bagi lingkungannya?

Jawabnya, tidak selamanya.

Kemajuan teknologi membuat hidup semakin praktis.

Kita tak perlu lagi ke luar rumah hanya untuk berbelanja atau membeli makanan. Bahkan, kita tak perlu menyewa DVD atau pergi ke bioskop untuk menonton film.

Cukup dengan menggunakan fasilitas teknologi, kita semua bisa melakukan apapun yang kita inginkan, tanpa harus mengeluarkan keringat dan meninggalkan rumah.

Sayangnya, banyak orang berpendapat bahwa mereka yang hanya berdiam diri di rumah adalah pemalas.

Dan, banyak orang yang percaya bahwa mereka yang pemalas akan tertinggal dalam kehidupan, lalu tak akan mampu meraih kesuksesan.

Namun kini, sebuah riset terbaru di Amerika Serikat mematahkan anggapan tersebut.

Ini adalah kabar yang mengejutkan sekaligus, -mungkin, menggembirakan.

Disebutkan, mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, justru mendatangkan dampak positif bagi lingkungan.

Beberapa tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan dalam jumlah pengguna toko online dan konsumsi video streaming.

Selain itu, jumlah individu yang bekerja dari rumah juga turut meningkat. Dan, tanpa diduga kondisi itu ternyata mampu mengefisienkan penggunaan sumberdaya energi.

Survei yang dilakukan selama satu dekade dari AS mengungkapkan, bahwa tahun lalu orang rata-rata menghabiskan waktu lebih lama delapan hari untuk berdiam diri di rumah, dibandingkan pada beberapa tahun sebelumnya.

Perubahan terbesar terjadi di antara individu berusia delapan belas hingga dua puluh empat tahun, yang menghabiskan tujuh puluh persen lebih banyak waktu di rumah, dibandingkan kelompok populasi lain.

Riset dari University of Texas telah meneliti dampak dari perubahan gaya hidup ini terhadap penggunan energi. Hasilnya, periset menemukan sebuah fenomena yang mengejutkan.

Meskipun banyaknya aktivitas rumah tangga yang menguras cadangan energi bumi, namun penggunaan energi untuk transportasi dan non-hunian semakin berkurang.

Fenomena ini menghasilkan cadangan energi

“Kami memang berharap bisa melihat penurunan energi bersih, tapi kami tidak tahu besarnya,” ucap Ashok Seka, selaku pemimpin riset.

“Riset ini meningkatkan kesadaran akan hubungan antara gaya hidup dan jumlah energi.”

“Sekarang kita tahu jika orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, maka lebih banyak fokus untuk meningkatkan efisiensi energi di tempat tinggal,” tambahnya.

Sayangnya, para peneliti belum memastikan penyebab spesifik perubahan gaya hidup ini. Meski, periset meyakini, kemajuan teknologi adalah penyebab utamanya.

Permintaan energi terus meningkat di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir.

Meskipun ada peningkatan efisiensi energi substansial, konsumsi berlebihan adalah tantangan lingkungan dan sosial yang serius. Para ahli terus mencoba untuk menemukan solusi terbaik atas persoalan itu.

Jadi, jika suatu hari Kamu menyesal karena hanya menghabiskan waktu berdiam diri di rumah, jangan khawatir. Kamu bukanlah seorang pemalas. Kamu hanya mengambil andil untuk menyelamatkan planet

Untuk Anda tahu pula, tuntutan hidup yang semakin tinggi membuat generasi milenial semakin sulit beristirahat dengan tenang.

Riset yang diterbirkan dalam Psychological Bulletin memaparkan bahwa generasi milenial mengukur semua hal dengan standar terlalu tinggi dari generasi sebelumnya.

Pemimpin riset Thomas Curran dan Andrew Hill meneliti lebih dari empat puluh ribu mahasiswa Amerika, Inggris dan Kanada

Riset menemukan bahwa sebagian besar dari mereka menunjukkan tanda-tanda apa yang mereka sebut “perfeksionisme multidimensional”.

Ini menandakan bahwa generasi milenial terlalu mengharapkan kesempurnaan yang didorong oleh harapan yang tidak realistis.

Para periset berpikir kecenderungan ini dapat menjelaskan tingkat masalah mental. Seperti yang dilaporkan oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO masalah ini mencakup usia kelompok remaja, termasuk kecemasan, depresi dan gangguan makan.

Riset yang menganalisis data mahasiswa akhir delapan puluhan sampai dua tahun lalu ini menemukan bahwa orang dewasa muda saat ini merasakan tekanan yang jauh lebih tinggi. Mereka juga cenderung menilai orang lain dengan standar yang tajam.

Curran dan Hill percaya bahwa media sosial bersamaan dengan tekanan kuat dari masyarakat terhadap kemandirian dan penghargaan akan prestasi menjadi penyebabnya. Media sosial juga membuat kita menjadi sering membandingkan hidup dengan orang lain yang terlihat lebih sukses.

Penyebab hal ini juga terletak pada cara orangtua mendidik. Menurut periset, orang tua saat ini selalu menekankan ‘persetujuan orang lain atau perbandingan sosial’ yang pada gilirannya, dapat menjadi bumerang pada keturunan mereka yang malang.

Memasang standar hidup atau harapan yang melebihi kemampuan memang tidak baik bagi kondisi mental, ini tidak hanya berlaku bagi generasi muda saja.

Komentar