Pekerjaan yang Dibenci Merusak Kesehatan

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 12 September 2017 | 12:10 WIB

Dibaca: 0 kali

Situs “rodalenness,” hari ini, Kamis, 12 September, meminta kepada mereka yang tidak menyenangi kerjaannya untuk enyah saja.

Sebab bila bertahan dengan  pekerjaan yang dibenci akan bisa memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

“Jika Anda benci pekerjaan yang sekarang, jangan membiarkannya terlalu lama. Bertahan pada pekerjaan yang kita benci berdampak serius pada kesehatan jangka panjang,”tulis laman itu memberi saran ekstrim.

Dalam penelitian yang dilakukan tim dari Ohio State University, terungkap bahwa penurunan kepuasan kerja atau pun membenci pekerjaan di usia dua puluh dan tiga puluhan tahun, berdampak pada status kesehatan di kemudian hari.

“Kepuasan kerja berdampak pada kesehatan di usia empat puluhan,” kata peneliti Jonathan Dirlam.

Efek pekerjaan yang tidak kita sukai itu antara lain depresi, gangguan tidur, dan kecemasan. Mereka juga cenderung akan didiagnosis memiliki masalah emosional.

Sebaliknya, orang yang pada awalnya bahagia dengan pekerjaannya kemudian makin tidak puas, juga memiliki gejala-gejala kesehatan yang sama.

Bedanya, mereka tidak terlalu depresi.

Dampaknya ternyata tidak sebatas pada psikologi saja, tetapi juga pada fisik.

Mungkin Anda pernah mengalami rasa tidak enak badan setiap kali bangun tidur dan harus ke kantor. Mungkin juga Anda sering izin sakit.

Penelitian lain menunjukkan bahwa stres bekerja karena pekerjaan yang dibenci juga terkait dengan jumlah sel darah putih yang sedikit. Itu berarti risiko infeksi juga meningkat.

Kabar baiknya, status kesehatan akan meningkat jika kita meninggalkan pekerjaan tersebut dan mendapat ganti pekerjaan yang disukai.

Ingatlah untuk memprioritaskan kesehatan. Kita bisa mendapat pekerjaan lain, tapi hanya punya hidup satu kali.

Terkadang, kita tak selalu harus pindah ke perusahaan lain. Minta dipindahkan ke posisi atau departemen lain seringkali berdampak besar pada kepuasan kerja.

Setiap orang sebenarnya memiliki masalah dengan kesehatan mentalnya, namun tidak semua orang menyadarinya.

Sama  seperti penyakit fisik, gangguan kesehatan mental tidak memiliki saklar “mematikan” dan “hidupkan”, yang berarti kebanyakan orang akan masalah mereka ke mana pun setiap hari, termasuk ke tempat kerja.

Dibandingkan satu dekade lalu, saat ini sudah banyak perusahaan yang menyadari pentingnya kesehatan mental bagi karyawannya.

Menurut Michelle Riba, profesor psikiatri dari Universitas Michigan Amerika Serikat, ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk meningkatkan status kesehatan mental di tempat kerja.

Setiap individu seharusnya belajar cara merawat diri mereka sendiri.  Dimulai dari aktif secara fisik, makan dengan baik dan tidur cukup. Kesehatan fisik bisa meningkatkan kesehatan mental Anda.

“Partisipasi dalam olahraga bisa bersifat meditatif   Berpartisipasi dalam olahraga yang dilakukan bersama-sama memupuk rasa positif kebersamaan. Selain itu, bila seseorang berusaha sehat secara fisik, biasanya tidak ingin menggunakan zat atau makan yang memiliki kandungan buruk,” kata Riba.

Efek lanjutan lain adalah pada orang terdekat. Saat anak-anak melihat ayah atau ibu mereka suka beraktivitas fisik, mereka juga akan termotivasi untuk banyak bergerak. Olahraga bisa menjadi aktivitas keluarga—dan sangat penting.

Stres bisa menyebabkan masalah pada kesehatan mental jika Anda memiliki pekerjaan yang sangat berat.

Saling peduli pada rekan kerja bisa mencegah menurunnya status kesehatan mental, misalnya dengan membuat kelompok untuk berjalan-jalan saat makan siang atau kegiatan lain yang bersifat rekreatif untuk sejenak lepas dari urusan kantor.

Memilih menu camilan yang lebih sehat juga bisa memperbaiki mood.

Menurut Riba, jika seseorang mulai merasa tertekan, hal pertama yang harus dilakukan adalah berbicara dengan seseorang yang paham, bisa ke psikater atau psikolog. Anda juga bisa mencari program bantuan karyawan yang mungkin tersedia di kantor.

Orang harus secara teratur mengevaluasi diri mereka sendiri dan mengenali cara mengatasinya.

“Minta orang lain di rumah atau di luar rumah untuk membantu Anda. Terkadang hal-hal yang tampak kecil sangat penting. Misalnya, makan bersama sambil ngobrol santai, meluangkan waktu untuk berdiskusi tanpa ada gangguan dari TV dan gadget,” katanya.

Beberapa orang memiliki kemampuan mengatasi hal buruk.

Kurangi aktivitas yang kurang baik untuk kesehatan mental Anda, seperti menonton televisi terlalu banyak, terus-menerus berada di media sosial dan tidak berkomunikasi dengan orang lain.

Coba matikan TV setelah bekerja, nikmati makanan dan bicaralah dengan teman.

“Meditasi sangat membantu. Yoga, Tai Chi atau terapi lain bisa bermanfaat. Cobalah belajar sesuatu yang baru atau ambil kelas. Ikut kegiatan sosial adalah cara lain yang baik untuk keluar dari diri sendiri,” saran Riba.

Jika Anda mengalami perubahan suasana hati  selama dua pekan atau lebih, misalnya menjadi murung, sedih, dan tak bersemangat, Anda harus berbicara dengan ahli seperti psikiater atau profesional kesehatan mental lainnya.

“Bila Anda secara teratur ibadah, dan kemudian berhenti, kemungkinan besar ada masalah Jika Anda merasa sangat putus asa atau ingin bunuh diri, sekarang saatnya untuk mendapatkan bantuan ahli,” katanya.

Untuk gejala anak-anak dan remaja mungkin gejalanya berbeda: Mereka mungkin memiliki catatan buruk dari guru di sekolah, tidur berlebih atau kehilangan minat dalam aktivitas normal.

Mengungkapkan kondisi kesehatan mental tidak berbeda dengan mengungkap kondisi medis lainnya. Itu tergantung dari tujuan pengungkapan.

Pikirkan mengapa Anda ingin mengungkapkan informasi pribadi Anda. Seperti informasi medis lainnya, terserah Anda apakah Anda ingin merahasiakannya.

Lingkungan kerja yang sehat menambah nilai perusahaan dan produk. Individu yang memiliki peran kepemimpinan harus mempertimbangkan untuk mengadopsi program yang baik bagi perusahaan.

Seorang manajer harus memahami bahwa staf mereka juga bisa memiliki kehidupan yang rumit.

Komentar