Patah Hati Kok Bisa Gemuk Ya!!

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 9 November 2016 | 09:35 WIB

Dibaca: 0 kali

Patah hati dan kegemukan adalah dua hal yang saling berhubungan dan sangat sedikit orang yang tahu kenapa hal itu bisa terjadi.

Dan siapa yang bisa membantah patah hati tidak memengaruhi kesehatan?

Dan salah satu efek yang nyata terlihat adalah berat badan bertambah.

Kegemukan.

Ketika tak ada lagi orang yang dicintai di samping kita, tentu ada perubahan kebiasaan yang dialami.

Perasaan kesepian dan marah mungkin mendominasi.

Reaksi terhadap perubahan itu juga dirasakan tubuh dengan bertambahnya berat badan.

Dan lantas bagaimana hal itu bisa terjadi?

Secera ilmiah jawaban pertamanya adalah akibat kekosongan otoritas.

Seseorang yang pergi itu; apakah orangtua, kekasih, atau anak, memiliki otoritas dan pengaruh dalam hidup kita.

Kita menjalani kehidupan untuk mencintai dan menghormati orang itu.

Saat ia tidak ada, kehilangan itu memicu gen tertentu dan membuat tubuh lebih gampang naik berat badan.

Apalagi jika terjadi perubahan pola makan.

Untuk Anda tahu, sekuat apa pun Anda, akan ada saat dalam hidup di mana Anda butuh seseorang untuk memberi kenyamanan, dukungan, dan pemahaman.

Saat seseorang yang menjadi bagian dari sistem suport itu tak ada, akan ada rasa kesepian yang besar.

Biasanya saat kesepian seseorang akan mencari hal lain yang memberi rasa nyaman, yaitu makanan.

Tanpa disadari berat badan pun bertambah.

Menyadari bahwa Anda memiliki teman atau keluarga yang selalu ada untuk mendukung Anda bisa membantu mengurangi rasa kesepian dan keinginan untuk makan.

Selain masalah itu ada persepsi umum yang menyebut bahwa orang gemuk sebenarnya memiliki masalah psikologi yang belum disadari.

Tetapi, hal itu tak selalu benar.

Menganggap kenaikan berat badan karena kehilangan seseorang bisa menambah perasaan tidak bersalah.

Apalagi saat patah hati, kita pun menjadi lebih rentan.

Jangan jadikan kesedihan sebagai alasan untuk makan apa yang kita suka secara berlebihan

Masih ada pertanyaan lain yang muncul dari masalah ini, mengapa patah hati menyebabkan kita kehilangan nafsu pada makanan?

Pakar hubungan, Marina Pearson dan Debra Smouse, menjelaskan penyebabnya, bahwa tubuh dan pikiran terhubung, sangat masuk akal jika saat Anda sedih atau marah, tubuh Anda pun akan terpengaruh.

Ia menjelaskan bagaimana kadar kimia dalam tubuh bereaksi saat pikiran dalam kondisi stres.

“Hal pertama yang dilakukan tubuh adalah memproduksi lebih banyak adrenalin, yang akan mengalir ke seluruh tubuh dan meningkatkan kadar kortisol dalam tubuh.”

Terlalu banyak kortisol dalam tubuh secara terus-menerus dapat menyebabkan meningkatnya gula darah, berkurangnya kalsium dalam tulang, depresi, tekanan darah tinggi, hilangnya masa otot, meningkatnya jumlah lemak, bahkan hilangnya fungsi kognitif.

Singkatnya, kondisi ini sangat berefek pada sistem imunitas tubuh. Selanjutnya, karena sistem imunitas tubuh ada di dalam usus, bukan hal yang mengejutkan jika patah hati memengaruhi nafsu makan Anda.

Smouse menambahkan, ada kalanya ketika sedang berdamai dengan patah hati, sebagian orang memilih menikmati “comfort food”, seperti cupcakes, wine, es krim, atau cokelat.

Namun, di sisi lain, banyak orang yang juga merasa sakit ketika mencoba untuk makan.

“Seolah-olah memang ada hubungan antara perut kita dan hati kita. Ketika makanan masuk melalui bibir, hal itu seakan mengirimkan rasa sakit pada tubuh.”

“ Kita merasa sangat kesulitan untuk menelan. Kita memaksa diri untuk makan sesuatu, dan di saat bersamaan nafsu makan tak ada sama sekali,” urai Smouse.

Smouse menambahkan, “Ketika kita merasa kehilangan harapan dan belum siap untuk menyembuhkan diri, kita cenderung menghindari rasa sakit lainnya. Oleh karena itu, kita memilih menjauh dari makanan.”

Ketika hati kita terluka, masuk akal jika tubuh kita pun merasa terluka. “Dalam situasi ini, tubuh hanya ada dalam dua kondisi, entah itu dalam ‘perbaikan’ atau dalam mode ‘istirahat’,” ujar Pearson.

Jika patah hati berefek negatif, maka tubuh akan berusaha memperbaikinya. Jika tubuh terus-menerus dalam kondisi perbaikan, ini akan memengaruhi nafsu makan karena berarti tubuh bekerja dari waktu ke waktu.

Hilangnya nafsu makan tentu akan menyebabkan penurunan berat badan, dan tak jarang ini menyenangkan. Namun, Smouse memperingatkan kita untuk menghindari wilayah tak sehat ini.

“Kehilangan berat badan bisa terjadi pada masa patah hati. Namun, membiarkan diri kelaparan adalah pilihan buruk karena itu berarti bahwa Anda tidak menjaga diri,” ujar Smouse.

Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menerima kondisi secara emosional dan mental. Biarkan diri Anda merasakan semuanya.

Semakin lama Anda menunda setiap proses perasaan Anda, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih.

“Putus cinta memang akan menghadirkan duka dan kesedihan karena Anda kehilangan hubungan yang telah dibangun. Namun, percayalah, hati Anda akan sembuh dan akan menemukan cinta yang lain, yang mungkin lebih baik.”

Komentar