Pasangan Hidup yang Harmonis Bercerai?

Penulis:: Darmansyah

Senin, 8 Januari 2018 | 14:41 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman “livebout,” hari ini, Senin, 08 Januari, menurunkan tulisan tentang pertanyaan kenapa pasangan yang harmonis tetapi memutuskan untuk bercerai?

“Banyak pasangan yang terlihat ideal dan harmonis ternyata memutuskan untuk berpisah,” tulisan laman itu

Menurut tulisan itu kehidupan pernikahan dengan segala lika-likunya dipengaruhi banyak faktor.

Konflik dengan suami atau istri pasti tak mungkin dihindari, namun ada pasangan yang bisa bertahan dan tak sedikit yang akhirnya memilih perceraian sebagai jalan terbaik.

Dalam mempelajari penyebab perceraian, penelitian sosial memiliki dua cara, yaitu mengamati berbagai pasangan suami istri dan menyimpulkan faktor apa yang membuat mereka bercerai, sedangkan cara kedua adalah melakukan wawancara kepada pasangan yang memilih berpisah.

Ada banyak faktor penyebab perceraian ini.

Bahkan, pasangan yang terlihat ideal bisa saja dihadapkan pada situasi ini. Bukan hanya selebriti atau politikus, orang yang kita ketahui terlihat begitu mesra dan serasi pun bisa juga kandas pernikahannya.

Nah, apakah yang menyebabkan pasangan yang napak harmonis dan baik-baik saja tiba-tiba bisa dirundung perceraian?

Pasangan yang mengkhianati janji perkawinannya adalah penyebab paling sering hancurnya rumah tangga.

Pihak yang merasa sakit hati tentu lebih memilih berpisah. Meski demikian, tak sedikit pasangan yang berhasil melalui masalah ini dan sepakat untuk membuka lembaran baru dalam pernikahannya. Dibutuhkan komitmen dan ketulusan yang kuat untuk memaafkan.

Terkadang orang tidak mau ‘bekerja’ dalam pernikahan. Ada sugesti yang keliru bahwa pernikahan akan membuat kita bahagia.

Hal ini menyebabkan kekeliruan cara pandang, seolah-olah pernikahan adalah hal yang terpisah dari luar diri kita yang akan bertahan dan berkembang dengan sedikit usaha dari suami dan istri.

Wanita kerap merencanakan hal besar dalam pernikahannya. Segala keperluan untuk pernikahan disiapkan sedetail mungkin tanpa tahu makan pernikahan yang sebenarnya.

Sementara itu, pria mencari pasangan yang rela merawat, menyayangi dan menikahi wanita yang tidak menuntut banyak pada dirinya.

Namun, apa yang terjadi bila pasangan merasa kecewa akan pernikahannya?

Sayangnya, mereka mulai mencari di luar diri mereka untuk menentukan keretakatan rumahtangannya daripada melihat situasinya dan mempertanyakan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.

Hal utama yang kerap dilakukan biasanya saling menyalahkan. Memang lebih mudah menyalahkan pasangan atau pernikahan itu sendiri.

Biasanya, mereka justru lari dari tanggung jawab dan enggan memikirkan perubahan yang mungkin diperlukan untuk memperbaiki keadaan.

Orang terlalu malas untuk melakukan eksplorasi diri, belajar untuk memperbaiki hubungan yang lebih baik dan berusaha untuk memenuhi hal yang dibutuhkan dalam pernikahan.

Pernikahan membutuhkan kerja keras dan jika keduanya tidak memiliki komitmen untuk bekerja keras, maka jangan berharap pernikahan akan bertahan lama.

Sebenarnya ini hal yang mudah dan sederhana. Namun, masih banyak yang belum memahami cara berbicara satu sama lain dan seni mendengarkan.

Banyak juga pasangan yang menghindari percakapan hanya karena takut saling melukai.

Berapa pun usia pernikahan Anda, komunikasi adalah keterampilan utama yang harus dimiliki.

Cara termudah untuk membangun kepercayaan dalam pernikahan adalah melalui keterampilan komunikasi yang terbuka dan jujur.

Jika berbicara dan mendengarkan tidak menjadi kebiasaan dalam rumah tangga, maka tidak ada harapan rumah tangga itu akan bertahan selamanya.

Komunikasi dapat menjadi jalan untuk mendiskusikan solusi. Masalah perkawinan tidak bisa dipecahkan tanpa kemauan untuk berkomunikasi. Anda bisa mengetahui cara efektif berkomunikasi dengan pasangan sejak masa pacaran sehingga tidak mudah tersulut emosi saat menghadapi tekanan.

Komunikasi sebelum menikah dapat mencegah harapan yang tidak realistis yang mungkin timbul dalam pernikahan.

Memasang harapan yang tinggi memang bagus untuk memacu semangat kita. Namun, ini tidak berlaku pada pernikahan.

Harapan tinggi yang berpadu dengan kemalasan akan membuat pernikahan hanya berakhir dalam perceraian.

Wanita yang membeli gaun pengantin mahal itu mungkin juga memiliki harapan pernikahan yang sangat tinggi.

Pria dan wanita sama-sama membuat banyak asumsi dalam pernikahan dan apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan.

Ekspektasi pernikahan jarang selaras dengan realitas kehidupan seperti di dalam pernikahan.

Ada banyak mitos yang beredar dalam pernikahan, misalnya keyakinan bahwa pria hanya menginginkan seks dalam pernikahan atau wanita adalah pihak yang memboroskan uang.

Salah paham inilah yang kerap menimbulkan masalah dalam pernikahan.

Selain itu, kedua pasangan seyogianya juga menyadari bahwa kehidupan perkawinan tidak akan luput dari kemungkinan terjadinya konflik. Penyebabnya bisa beragam, antara lain perbedaan latar belakang pendidikan, budaya, dan harapan.

Kedua pasangan perlu menyadari bahwa mereka berasal dari latar belakang yang berbeda satu sama lain. Jadikanlah konflik sebagai ajang bagi peningkatan saling mengenali antar-pasangan.

Untuk itu, seyogianya kedua pasangan mampu mengelola dan menyiasati konflik dengan cara kompromistis.

Komentar