Otak Saling, Itulah Alasan Kita Punya Firasat

Penulis:: Darmansyah

Senin, 8 Januari 2018 | 14:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Otak memiliki peran penting dalam sebuah perbincangan dan  dapat menghubungkan  dengan pikiran orang lain saat berbincang.

Ahli psikoterapis klinis dari University of Sheffield, Profesor Digby Tatum,  melakukan penelitian tentang kerja otak dan bagaimana orang berkomunikasi.

Seperti ditulis laman media terkenal “daily mail” dan “telegraph,” hari ini, Senin, 08 Januari, Tatum berkata bahwa otak manusia memiliki semacam wireless fidelity atau Wi-fi, yang terus mengumpulkan informasi tentang orang lain saat kita melihat mereka.

Hal inilah yang kemudian melahirkan intuisi atau firasat.

Firasat menurut Psychologytoday,  adalah proses yang memberi kita kemampuan untuk mengetahui sesuatu secara langsung tanpa penalaran analitik, menjembatani kesenjangan antara bagian sadar dan tidak sadar dari pikiran kita, dan juga antara naluri dan nalar.

Tatum yakin bahwa faktor bahasa saat berbincang hanya memainkan sedikit peran dalam komunikasi.

Misalnya saja, seorang pemain poker profesional. Ia mampu menangkap “pesan” dari lawannya hanya dengan melihat gerakan kecil atau tanda-tanda visual lainnya.

Menurutnya, manusia memiliki kemampuan menangkap pesan di alam bawah sadar. Hal tersebut ditulis Tatum dalam bukunya berjudul The Interbrain yang diterbitkan oleh Jessica Kingsley Publisher.

“Kita dapat mengetahui secara langsung tentang emosi orang lain dan apa yang mereka perhatikan. Hal ini didasarkan pada hubungan langsung antara otak kita dan orang lain. Saya menyebutnya interbrain,” kata Tatum.

Tatum menjelaskan konsep interbrain dengan analogi saat ratusan hingga ribuan manusia berkumpul untuk menonton pertandingan bola, konser musik, atau ritual agama.

“Berada di kerumunan bisa membuat kita sejenak larut bersama untuk mengalami bagaimana rasanya melampaui cara pandang tentang konsep waktu, tempat, dan kapasitas kita dalam sejenak,” katanya.

Namun, kerja otak ini tidak akan berfungsi saat manusia berkomunikasi dengan orang lain lewat telepon video. Ini justru akan menganggu proses koneksi antar otak dan itu berbahaya.

“Perasaan emosional akan menular secepat kecepatan cahaya, bukan kecepatan transmisi elektronik. Tatap muka secara visual akan disertai faktor suara, isyarat, bau keringat, sentuhan, dan koneksi,” ujarnya.

Bisakah Anda membayangkan dunia di mana otak pelaku pelecehan seksual ditanami implan yang mencegah mereka melaksanakan keinginannya?

Atau implan ditanam pada otak pasien yang depresi dan ingin bunuh diri?

Ini bisa jadi bukan sekadar imajinasi lagi. Sekelompok peneliti di Universitas Stanford mengungkapkan bahwa dalam hitungan detik, otak mengirimkan sinyal berbeda sebelum ledakan perilaku impulsif terjadi.

Aktivitas elektrik dalam otak tersebut terjadi di area nucleus accumbens dan membanjiri tubuh dengan kenikmatan antisipatif.

Sebagai informasi, area nucleus accumbens di otak berperan untuk mengatur dorongan nafsu manusia, termasuk seks dan makanan.

Kenikmatan tersebut bisa begitu intensif sehingga seseorang bisa mengesampingkan kekhawatiran tentang konsekuensi sosial dari tindakan yang ingin dilakukannya.

Dengan pemahaman ini, para peneliti mengaku telah menemukan cara mematikan sinyal tersebut sebelum perilaku impulsif meledak.

“Bayangkan jika Anda bisa memprediksi dan mencegah usaha bunuh diri, suntikan heroin, konsumsi alkohol, makanan berlebihan, atau rasa amarah yang tidak terkendali,” kata Dr Casey Halpern seorang asisten profesor bedah saraf di Universitas Stanford.

Dr Halpern berkata bahwa hingga saat ini, belum ada cara pasti yang bisa memengaruhi respons saraf terhadap perilaku impulsif berbahaya.

Hal ini karena belum ada yang mampu mencatat karakteristik gejalanya dalam otak yang bisa digunakan jadi pemicu pengiriman data ke implan otak.

Namun, kini para peneliti telah berhasil mengidentifikasikan tanda-tanda biologis secara real-time untuk perilaku impulsif berbahaya dan membuka kemungkinan penggunaan impan otak, seperti yang digunakan pada penderita penyakit Parkinson, untuk pengendaliannya.

Dalam eksperimennya, para peneliti mampu menunjukkan bahwa sinyal dapat dideteksi pada pasien dengan gangguan obsesif impulsif, dan stimulasi elektrik pada otak membuat tikus berhenti makan secara berlebihan.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academies of Sciences.

Lantas bagaimana dengan olahraga dikaitkan dengan kinerja otak?

Dari penelitian yang dilakukan peneliti asal Australia, mereka membuktikan bahwa olahraga tidak hanya untuk kesehatan tapi juga meningkatkan kerja otak.

Subyek olahraga yang mereka teliti adalah aerobik.

Penelitian gabungan antara National Institute of Complementary Medicine Australia dengan Western Sydney University dan the Division of Psychology and Mental Health at the University of Manchester, Inggris, mencari tahu efek aerobik pada wilayah otak yang disebut hipokampus

Perlu diketahui, kualitas otak akan menurun seiring bertambahnya usia. Rata-rata kualitas otak menurun sekitar lima persen dalam satu dekade selepas usia empat puluh  tahun.

Untuk itu, ilmuwan secara sistematis meninjau empat belas uji klinis yang memindai tujuh ratus tiga puluh tujuh otak manusia, sebelum dan sesudah melakukan aerobik.

Orang-orang yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari banyak karakter.

Mulai dari yang sehat, memiliki gangguan kognitif ringan , dan mereka yang didiagnosa memiliki penyakit jiwa

Penelitian ini bahkan disebut memberikan bukti paling pasti untuk mengetahui manfaat olahraga untuk kesehatan otak.

“Saat Anda berolahraga, Anda menghasilkan zat kimia yang disebut brain-derived neurotrophic factor  Zat ini dapat mencegah penurunan usia terkait kemunduran kualitas otak,” ujar salah satu peneliti Joseph Firth, dikutip dari laman Science Daily.

Firth mengatakan, data yang dimilikinya menunjukkan peningkatan ukuran hipokampus. Berkat olahraga aerobik, penurunan kualitas otak diperlambat prosesnya.

“Dengan kata lain, olahraga dapat bermanfaat untuk program perawatan otak,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, seriring dengan membaiknya kualitas otak secara reguler, akan berimplikasi terhadap pencegahan gangguan neurodegeneratif penuaan seperti alzheimer dan demensia.

Menariknya, olahraga adalah salah satu dari sedikit metode yang terbukti dapat menjaga ukuran otak dan bermanfaat di masa tua

Komentar