Orgasme Tanpa Ejakulasi? Kenapa Tidak!!

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 4 Februari 2016 | 09:22 WIB

Dibaca: 5 kali

Laman situs “lifestyle,” Ask Men, mengutip para ahli yang berkumpul di London, beberapa hari lalu, dan membahas kasus bahwa pria dapat mencapai orgasme tanpa ejakulasi.

Para ahli itu, menurut laporan, menghadiri sebuah seminar seks terbesar di Inggris dengan mengundang beberapa nama bintang dewasa beserta pakar seks untuk membahas topik yang berjudul “Cumming without cumming

Para pakar mengatakan orgasme bisa terjadi tanpa ejakulasi pada pada pria, dan hal ini terjadi pada sebuah praktik seks kuno yang disebut dengan Tantric Sex atau Seks Tantra.

Teknik seks ini termasuk dalam ilmu sensualitas spiritual menggunakan energi fokus dan kesadaran.

Drew Lawson seksolog terkemuka menerangkan bagaimana pria dapat orgasme tanpa ejakulasi terlebih dahulu:
Membangun energi positif dengan menciptakan rasa rileks saat bercinta dapat menciptakan ejakulasi.

Lawson menjelaskan, “Kebanyakan pria yang saya temui dalam pekerjaan saya mengalami kebiasaan buruk.”
“ Mereka melakukan hal berulang selama masturbasi dengan mengulangi gerakan yang sama saat berhubungan seks,” ujarnya dalam seminar.

Ia menambahkan, gerakan yang sama seringkali terjadi dengan menegangkan tubuh, bokong, kaki, dan rahang.
Untuk mengatasi hal tersebut, Lawson menyarankan untuk menciptakan gerakan yang santai tanpa harus menegangkan bagian tubuh para pria.

Merasakan nafas yang beraturan dan juga menikmati suara di sekitar mampu membuat tubuh merasakan rileks sehingga tubuh dan otot membuka ulang sistem sarafnya.

Sebelum para pria mampu memisahkan orgasme dari ejakulasi, Lawson menerangkan, pria juga harus mampu membuat otot mereka berkontraksi sehingga menghasilkan orgasme kering.

“Memiliki otot yang sehat, sangat baik dan penting untuk mendapatkan orgasme tanpa ejakulasi. Dengan melakukan latihan kegel dan otot mampu membantu kondisi tersebut,” ujar Lawson.

Lawson mengatakan jika orgasme sudah mulai dirasakan pria, kuncinya ialah tetap fokus mengambil napas sedalam mungkin dari bagian perut.

“Terkadang para pria mendapatkan ejakulasi retrograde ketika cairan diserap kembali ke dalam kandung kemih,” jelasnya.

Lawson juga menerangkan bahwa keadaan tersebut tidak berbahaya, namun tak terlalu ideal juga.
Ejakulasi bagi seorang pria merupakan saat yang menentukan.

Momen ini menjadi penanda apakah seorang pria bisa dikatakan tahan lama dalam urusan ranjang atau tidak.
Karena itu, banyak pria ingin agar momen ini tidak berlangsung cepat. Kalau perlu diperlambat proses ke arah itu.

Bagaimana caranya? Berikut petunjuk dari Terapis Seks dari Inggris Anne Hoopers untuk memperlambat ejakulasi

Kadang teknik ini disebut cubitan.

Dikembangkan oleh Masters dan Johnson.

Penekanan dilakukan persis sama seperti namanya.

Saat seorang pria merasa akan mencapai ejakulasi, ia atau pasangannya menekan atau mencubit dengan jari tangannya ujung penis pada tempat glans penis bersambungan dengan korpus penis dan menahan tekanan tersebut selama beberapa detik.

Ia mungkin kehilangan sedikit ereksi, tetapi akan kembali lagi jika hubungan seksual dilanjutkan.

Teknik ini dapat diulangi sebanyak yang diperlukan atau dikehendaki selama hubungan seksual.
Jika ejakulasi hampir terjadi, tegangkan otot pada pangkal penis. Setelah beberapa detik, kendurkan otot tersebut.
Menegangkan dan mengendurkan otot ini dapat membantu memperlama hubungan seksual.

Anda atau pasangan dapat merangsang penis secara manual. Hentikan stimulasi jika ejakulasi hampir terjadi.

Setelah beberapa detik, lakukan lagi.

Dengan berlatih, Anda dapat belajar mempertahankan diri dalam tingkat rangsangan yang tinggi. Jika orgasme terjadi akan terasa lebih kuat.

Ejakulasi dini termasuk disfungsi seksual wanita tidak seharusnya dikategorikan sebagai sebuah penyakit, menurut argumen peneliti.

Mereka kemudian menambahkan bahwa faktor penyakit kemungkinan dibuat oleh pakar obat seksual dibawah pengaruh perusahaan obat.

“Penting untuk mengetahui bahwa pada ejakulasi dini, fisiologi ejakulasi dan orgasme tidak terganggu. ”

“Dan ini adalah hal yang normal terjadi pada remaja pria, terutama mereka yang baru pertama kali berhubungan seksual,” ujar Dr. Vincenzo Puppo, salah satu penulis makalah yang diterbitkan oleh jurnal Clinical Anatomy, yang dilansir dari Times of India

“Anak remaja dan pria dewasa bisa belajar memahani repson seksual mereka ketika masturbasi dan belajar mengendalikan ejakulasi tanpa terapi obat,” tambah Puppo.

Juga, tepat setelah ejakulasi, pria memasuki periode refraksi yang lebih lama seiring bertambahnya usia.

Menurut salah satu penulis, Dr. Giulia Puppo, orgasme yang didapat dari rangsangan vagina tidak pernah ada, jadi lamanya waktu penetrasi tidak berpengaruh penting terhadap orgasme wanita.

“Pada semua wanita, orgasme selalu mungkin terjadi jika organ ereksi wanita terstimulasi secara efektif ketika masturbasi, seks oral, atau rangsangan yang dilakukan pasangannya, sebelum dan sesudah ejakulasi pria, atau ketika melakukan penetrasi vagina yang dibantu menstimulasi klitoris dengan jari,” yang dijelaskan oleh Dr. Giulia dalam makalahnya.

Dalam sebuah makalah lain yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine, peneliti mengindikasikan terapi untuk para pria penderita hiperseks harus juga menyertakan prinsip terapi seks yang dapat meningkatkan fungsi dan menemukan kebosanan pada aktifitas seks.

Dalam studi terhadapa pria Eropa, hiperseksualitas, kegemaran akan fantasi seksual, atau kegemaran berlebihan terhadap aktifitas seksual-mempunyai korelasi dengan kecenderungan terhadap kebosanan seksual dan fungsi ereksi.

“Pada beberapa pria, perilaku hiperseks merupakan mekanisme bantuan terhadap kebosanan seksual,” ujar Verena Klein, penulis utama makalah tersebut.

Komentar