Orgasme Berulang Lelaki? Kenapa Tidak!!

Penulis:: Darmansyah

Senin, 18 April 2016 | 09:11 WIB

Dibaca: 0 kali

Siapa yang bisa membantah puncak kenikmatan seksual itu adalah orgasme.

Ya. Orgasme memang sebuah penantian ketika pasangan memulai  berhubungan seks.

Pada wanita, orgasme berulang adalah hal yang  mungkin.

Lantas, bagaimana dengan pada pria?

Sebenarnya orgasme berulang pada pria juga bukan sesuatu yang mustahil.

Tapi, untuk mencapainya perlu diketahui perbedaan antara orgasme dan ejakulasi.

Orgasme, menurut Ava Cadell, Ph.D, seksolog dari Los Angeles, merupakan bagian dari pengalaman seksual yang terjadi antara dua hingga tujuh  detik sebelum ejekulasi.

“Orgasme merupakan kombinasi dari sensitivitas seluruh tubuh, napas yang semakin cepat, dan sensasi aliran darah ke penis dan skrotum,” kata Cadell.

Sementara itu ejakulasi adalah langkah final dari stimulasi dan melibatkan pelepasan cairan semen.

“Selain itu neurotransmitar akan mengirimkan sinyal agar tubuh masuk ke mode istirahat dan pemulihan,” tambahnya.

Ketika pria sudah masuk dalam periode istirahat, maka untuk sementara ia akan lemas.

Itu sebabnya, menurut Cadell, multi-orgasme berarti lebih banyak kepuasan, selain permainan bisa berlangsung lebih lama, pria juga akan mencapai klimaks lebih kuat dari sebelumnya.

Meski belum jelas berapa kali seorang pria bisa orgasme, tapi mengutip studi yang dilakukan Maters and Johnson disebutkan, seorang pria bisa mencapai tiga orgasme dalam sepuluh menit.

“Cara mencapainya, ketika Anda merasa akan mencapai puncak, kontraksikan otot PC. Ini adalah otot yang sama yang dipakai untuk menghentikan aliran urine.”

“ Jika waktunya tepat, tentu dibutuhkan latihan, Anda pasti bisa menghentikan ejakulasi tapi masih merasakan klimaks,” katanya.

Secara definisi hubungan seksual yang memuaskan adalah ketika Anda dan pasangan bisa mencapai orgasme.

Lantas bagaimana mencapai orgasme itu?

Banyak taktik untuk mencapai orgasme, tetapi hal sederhana yang sering dilupakan adalah permainan awal atau foreplay.

Foreplay atau sesi pemanasan bertujuan untuk membangkitkan gairah bercinta. Ibarat makan, selera bisa timbul karena bentuk makanannya, warna, rasa, dan juga cara penyajiannya.

Demikian pula halnya dengan bercinta.

Hal tersebut berarti Anda perlu memperhatikan kondisi fisik dan psikis untuk membuatnya tergoda.

Ketahui apa yang bisa dengan cepat membangkitkan hasratnya.

Misalnya jika Anda memakai lingerie tertentu, mandi bersama, saling memberi pijatan, atau kata rayuan dan pujian di sela-sela acara berciuman.

Usaha yang kita lakukan di sesi pemanasan ini bukan hanya akan membangkitkan gairah bercinta tapi juga bisa mendatangkan sensasi lebih lama ketika orgasme datang.

Sebuah penelitian yang dilakukan tim dari McGill University di Kanada membuktikan hal tersebut.

Dalam sebuah penelitian terhadap tujuh puluh enam pria dan wanita yang diminta melakukan masturbasi di sebuah laboratorium khusus, para peneliti memasang kamera pemindaian panas untuk mengukur tingkat gairah para partisipan.

Tingkat suhu mereka diukur sebelum terangsang, setelah gairah muncul, sesaat sebelum klimak, sesaat setelah orgasme, dan lima belas menit setelah orgasme.

Hasilnya, suhu tubuh baik pria dan wanita meningkat saat mereka merasa terasang.

Tidak mengherankan memang, tetapi ketika pria mencapai ejakulasi suhu tubuh mereka dengan cepat turun.

Sebaliknya dengan para wanita setelah mereka orgasme.

Hal ini bisa menandakan puncak kenikmatan seksual mereka berlangsung lebih lama.

Semakin lama mereka mendapatkan foreplay, semakin lama puncak kenikmatan seksual yang dirasakan.

Hasil penelitian ini bisa mengingatkan Anda dan pasangan tentang pentingnya melakukan sedikit usaha lebih di sesi pemanasan agar orgasme yang dirasakan lebih hebat.

Hubungan suami istri pun akan lebih mesra.

Selain itu Anda juga harus tahu  orgasme itu ternyata ikut berubah kualitasnya seiring dengan pertambahan  usia.

Ketika seorang pria memasuki tahap kehidupan menikah dan memiliki anak, orgasme mereka tak lagi terasa sepanas seperti di masa bulan madu.

Lantas apa penyebabnya?

Saat Anda masih hidup berdua saja dengan pasangan, ketika berhubungan seks pun Anda bisa seratus persen fokus pada pasangan.

Namun menjaga fokus yang sama saat berusia pertengahan akan lebih sulit, terlebih saat ada begitu banyak pengalih perhatian, seperti pekerjaan, keuangan, dan juga anak.

Otak kita berperan penting dalam tercapainya orgasme. Untuk mencapai klimaks, ada beberapa bagian otak yang aktif.

“Hal itu akan lebih sulit dicapai jika pikiran kita melayang ke mana-mana,” kata Darius Paduch, kandidat profesor bidang urologi dan reproduksi dari Weill Cornell Medicine.

Ia menjelaskan, persepsi kita terhadap orgasme dan kualitas orgasme juga dipengaruhi oleh lingkungan. Karena itu untuk meningkatkan kembali fokus pada sensasi bercinta, jangan segan untuk memberi sentuhan dan terbuka pada sentuhan dari pasangan.

Melakukan pijatan adalah cara paling efektif untuk rileks dan juga mengalihkan fokus kita dari hal-hal harian yang sering menjadi beban pikiran.

Ingat, saat Anda pertama kali menjalin hubungan dengan pasangan, rasanya sulit untuk berjauhan dengannya.

Bergandengan tangan, memeluk, atau mencium, sangat sering kita lakukan.

Seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, sentuhan-sentuhan kecil yang mengekspresikan rasa cinta sudah semakin langka. Padahal, kondisi itu ikut berpengaruh pada kualitas orgasme.

Dalam penelitian, pasangan yang jarang bersentuhan memiliki kemungkinan sulit mencapai orgasme dua koma empat  kali dibanding dengan pasangan yang sering berpelukan, berpegangan tangan, atau berciuman. Sentuhan akan meningkatkan sensasi keintiman dan mengurangi rasa terasing.

Hormon testosteron berperan penting dalam sensasi orgasme. Sayangnya, seiring bertambah umur kadar hormon ini terus berkurang.

Penurunan  hormone ini, yang juga dikenal dengan testosteron juga mengurangi libido, mengurangi kekerasan ereksi di pagi hari, dan beresiko sulit ereksi. Kadar testosteron yang rendah juga menurunkan volume semen.

Selain itu faktori berat badan berlebih menjadi salah satu penghalang tercapainya orgasme berkualitas.

“Pria yang obesitas mengubah testosteron mereka menjadi estradiol,” kata Paduch.

Penelitian menunjukkan, kelebihan estradiol dapat menghalangi ereksi. Kemungkinan ini terjadi karena terganggunya rileksasi otot halus di bagian penis.

Komentar