Orang Religius Bisa Merasa Lebih Aman

Penulis: Darmansyah

Jumat, 26 Januari 2018 | 10:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda seorang relegius?

Kalau jawaban iya, maka Anda termasuk orang byang beruntung.

Dan Anda termasuk orang yang  lebih tenang atau punya perasaan lebih aman

Sebuah penelitian terbaru menyebuh bahwa berpikir tentang Tuhan membuat Anda merasa dilindungi dan didukung.

Hal ini membuat orang religius merespon iklan yang menakutkan dengan cara yang berbeda.

Para peneliti dari University of Pittsburgh dan Duke University, Amerika Serikat menyelidiki bagaimana pengaruh religius membentuk tanggapan kita terhadap iklan yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti penontonnya.

Untuk itu, para peneliti merekrut seratus delapan puluh enam orang dari kelas bisnis dan kapel kampus yang tak merujuk pada suatu agama tertentu pada percobaan pertama.

Mereka menunjukkan sebuah iklan tentang bahaya zat kimia pada botol plastik kepada kedua kelompok tersebut.

Hasilnya, kelompok pertama lebih mudah khawatir terhadap konten iklan tersebut.

Pada percobaan kedua, para peneliti merekrut enam ratus dua peserta.

Para peserta diminta untuk menulis tanggapan terhadap kutipan tentang Tuhan yang memberi dukungan selama masa-masa sulit dan kutipan non-religius.

Kelompok religius menunjukkan reaksi yang kurang takut terhadap risiko BPA.

Sedangkan kelompok non-religius cenderung mengurangi penggunaan botol air yang menggunakan BPA.

Pada pendekatan lain, dua ratus tujuh belas peserta yang dianggap lebih religius, yang menuliskan konsep Tuhan, membuat iklan asuransi banjir kurang efektif.

Dengan kata lain, temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Marketing Research ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap agama membuat orang kurang takut terhadap situasi yang berisiko.

“Kami menemukan bahwa orang yang memikirkan Tuhan tidak tertarik dengan produk yang menawarkan kehati-hatian dengan iklan yang berakar dalam ketakutan,” ungkap Kaisha Cutright, co-author penelitian ini dikutip dari Newswee.

“Jika sebuah iklan tentang vaksin dibuat dengan cara menakut-nakuti, misalnya, maka orang yang lebih religius cenderung tidak merespon,” sambung profesor pemasaran dari Duke University tersebut.

Cutright juga menyebut, hal ini dikarenakan mereka menarik kenyamanan, dukungan, dan rasa perlindungan yang diberikan Tuhan.

“Kami menemukan mereka percaya bahwa mereka akan didukung oleh Tuhan dan tidak peduli apa yang terjadi, sedangkan orang non-religius tidak mungkin berpikir semuanya akan baik-baik saja,” kata Cutright.

Temuan ini dianggap mempunyai implikasi pada iklan yang ditargetkan.

“Secara demografis, pemasar harus berpikir dua kali untuk menggunakan iklan berbasis rasa takut di daerah yang sangat religius, atau di antara orang-orang yang cenderung religius, seperti pada populasi yang lebih tua,” ujarnya.

“Anda mungkin bisa menjual produk yang sama, tapi harus menggunakan taktik yang berbeda,” imbuhnya.

Manariknya, penelitian ini menemukan efek yang sama, meski sedikit lemah, pada orang atheis. Ini menunjukkan bahwa orang-orang tidak beriman kuat pada Tuhan masih dikelilingi konsep Tuhan dalam budaya mereka.

Cutright juga menekankan bahwa temuan ini tidak menunjukkan bahwa agama atau keyakinan terhadap Tuhan mencegah orang untuk mendengarkan informasi tentang risiko atau bahaya.

Sebaliknya, gagasan tentang Tuhan membuat otak memroses informasi semacam ini dengan cara yang berbeda.

Studi terbaru lainnya yang dihimpun psikolog Will Gervais perilaku moral.

Karenanya, banyak yang berasumsi bahwa komitmen agama adalah tanda kebajikan, atau bahkan bahwa moralitas tidak bisa ada tanpa agama.

“Dalam hal apa pun, kesalehan beragama hanya berkaitan longgar dengan teologi. Karenanya, kepercayaan dan perilaku orang yang beragama tidak selalu sesuai dengan doktrin keagamaan resmi. Sebaliknya, kesalehan populer cenderung lebih praktis dan intuitif. Ini yang oleh para ilmuwan agama disebut “ketidaktepatan teologis”.

Itu sebabnya sosiolog Mark Chaves menyebut gagasan bahwa orang berperilaku sesuai dengan kepercayaan dan perintah agama sebagai “religious congruence fallacy” atau kekeliruan mengenai kesejajaran agama.

Perbedaan di antara keyakinan, sikap, dan perilaku ini adalah fenomena yang lebih luas. Meskipun komunisme adalah ideologi egalitarian, tapi orang komunis pun tidak bersikap kurang egoisnya

Jadi, apa bukti nyata mengenai hubungan antara agama dan moralitas?

Riset ilmiah sosial pada topik ini menawarkan beberapa hasil yang menarik.

Ketika peneliti menanyakan orang untuk melaporkan perilaku dan sikap mereka sendiri, individu yang religius mengaku lebih altruistik, penyayang, jujur, beradab, dan dermawan ketimbang yang tidak alim. Bahkan di antara saudara kembar, yang lebih religius menggambarkan dirinya lebih murah hati.

Namun ketika kita melihat perilaku sesungguhnya, perbedaan tersebut tidak bisa ditemukan.

Peneliti sekarang telah melihat berbagai aspek perilaku moral, mulai dari beramal dan menyontek saat ujian, hingga membantu orang asing yang membutuhkan, dan bekerja sama dengan orang tidak dikenal.

Komentar