Orang Cerdas Itu Tidurnya Larut Malam

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 27 Januari 2017 | 09:43 WIB

Dibaca: 0 kali

Media Inggris terkenal “daily mail,” dalam tulisan terbarunya pagi ini, Jumat, mengungkapkan bahwa orang cerdas tidurnya selalu larut malam.

“Ya, orang cerdas tidurnya selalu larut,” tulis media itu.

Kenyataan nini ditemukan oleh ilmuwan Inggris  yang mengaitkann antara orang yang menikmati gaya hidup nokturnal dengan kecerdasan mereka.

Studi yang diberi judul Why Nights Owl are More Intelligent itu menemukan mereka yang terjaga hingga larut cenderung lebih cerdas dibandingkan yang pergi tidur lebih cepat.

Mereka pun menemukan anak yang tidur lebih larut cenderung berkembang menjadi orang dewasa cerdas.

Hasil penelitian itu didasarkan pada konsep bahwa orang yang cerdas cenderung mengadopsi nilai-nilai evolusioner, seperti tidur lebih larut.

Nenek moyang kita secara tradisional pergi tidur dan bangun pagi. Mengubah pola tidur menunjukkan kita mampu mengadaptasinya menjadi kehidupan moderen.

Tetapi, itu bukan satu-satunya manfaat dari tidur larut. Studi lain membuktikan pula selain memiliki kecerdasan lebih tinggi, burung hantu pun cenderung lebih makmur.

Para ahli dari University of Madrid melakukan tes pada seribu orang remaja dan menemukan mereka yang memilih tidur lebih larut menunjukkan sejenis kecerdasan yang berhubungan dengan pekerjaan bergengsi dan pendapatan lebih tinggi.

Namun bukan berarti bangun pagi tidak ada manfaatnya.

“Orang pagi” sering menunjukkan hasil ujian lebih baik. Mungkin karena pelajaran ditangkap pada waktu yang salah di kalangan “orang malam”.

Namun b egitu, akibat tidur larut mala mini muncul gejala lapar.

Riset membuktikan kebenaran hal ini. Anda mungkin tak menyadari berapa kalori tambahan yang diasup saat kurang tidur.

Belakangan ini cukup tidur muncul sebagai pilar ketiga untuk mengontrol berat badan bersama dengan olahraga dan pola makan sehat.

Studi-studi sebelumnya berhasil membuktikan hubungan kurang tidur dengan obesitas dan diabetes tipe 2.

Namun riset baru ini merupakan yang pertama menghitung ekstra kalori sebagai akibat kurang tidur.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan di European Journal of Clinical Nutrition, periset menghitung jumlah tambahan kalori yang dimakan oleh mereka yang kelelahan akibat kurang tidur.

Untuk melakukan riset tersebut, peneliti mengumpulkan hasil dari  sebelas studi sebelumnya yang meneliti “kurang tidur parsial” dan konsumsi kalori.

Kurang tidur parsial berarti seseorang tidur hanya sebagian tidak sepanjang malam.

“Tidur tidak sepanjang malam ini dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur,” kata peneliti Gerda Pot, PhD.

Periset menemukan orang yang kurang tidur mengonsumsi rata-rata ekstra kalori sehari.

“Ini setara dengan empat setengah potong roti,” kata Pot.

“Tambahan lagi, mereka mengonsumsi lebih banyak lemak dan lebih sedikit protein,” tambah Pot.

Konsumsi karbohidrat secara kasar kurang lebih sama.

Periset lain berspekulasi kurang tidur mungkin mempengaruhi hormon yang berhubungan dengan rasa lapar seperti leptin dan ghrelin.

Tetapi Pot dan rekan-rekannya percaya pejelasannya mungkin “hedonis”, artinya makan berlebihan saat kurang tidur karena mereka mencari kesenangan.

Sharon Zarabi, RD, direktur program bariatrik di Lenox Hill Hospital New York City berbagi dugaan yang sama.

Keinginan makan berlebihan mungkin karena mereka gelisah dan tak dapat memuaskan kecemasan mereka dengan makan. Zarabi tak terlibat dalam studi baru tersebut.

Peneliti pun menemukan terjaga di malam hari sebenarnya tak membakar kalori ekstra. Ini membuktikan tak cukup tidur dalam jangka panjang adalah resep untuk mengalami kenaikan berat badan.

Tetapi, tak satu pun dari studi yang diikutsertakan berlangsung tak lebih dari dua minggu sehingga tak mungkin mengetahui jika tambahan kalori itu juga menambah berat badan pula.

Peneliti saat ini melakukan riset pada orang yang tak tidur cukup.

“Kami perlu melakukan riset tambahan terhadap tidur sebagai faktor risiko yang dapat diperbaiki untuk obesitas dan mungkin juga penyakit kardio-metabolik seperti diabetes, khususnya di tengah masyarakat saat ini yang cenderung kurang tidur,” kata Pot.

Komentar