“Negative Thinking” Bisa Cepat Tua

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 13 Juni 2017 | 09:09 WIB

Dibaca: 0 kali

“Negative thinking?”

Ya, banyak diantara kita yang terjebak dalam pola pikir itu.

Dan tidak banyak orang yang tahu  kekuatan pikiran positif bisa memberikan energi positif dalam diri kita.

Sayangnya, kita sering sulit mengendalikan pikiran-pikiran negatif.

Bila berlebihan, kebiasaan “negative thinking” ini sebenarnya merugikan.

Bukan hanya membuat rasa percaya diri berkurang, pikiran negatif juga membuat hidup tidak bahagia, selalu penuh curiga, kecemasan, dan ternyata juga membuat penampilan terlihat lebih tua.

Sudah waktunya kita memegang kendali pada apa yang kita pikirkan.

Mulailah menyingkirkan  pikiran negatif ini dari hidup kita.

Setiap orang pasti pernah stres, tapi jika hidup kita sudah dikuasai stres, bisa menyebabkan penuaan dini akibat kematian sel secara prematur.

Bagaimana terjadinya?

Masa hidup sel dikendalikan oleh struktur sel yang disebut telomer, yang melindungi DNA dan membantu membelah sel.

Setiap kali sel membelah, telomer akan menjadi lebih pendek, yang akhirnya menjadi terlalu pendek dan akhirnya mati.

Dalam analisis studi yang melibatkan 7.000 orang, peneliti menemukan telomer cepat menjadi pendek pada mereka mengalami depresi dibanding mereka yang lebih bahagia.

Memaafkan orang yang kita anggap mengganggu hidup kita memang tidak mudah.

Dorongan untuk membalas perbuatan mereka pasti besar dan kita pun akan merasa puas.

Menjauhi sikap bermusuhan dan maafkan ternyata bukan hanya membuat hati lebih damai, namun juga membuat kita awet muda.

Membiarkan sikap sinisme tumbuh dalam diri merupakan bibit dari permusuhan.

Sering ragu dan mencurigai motif seseorang, bersikap skeptis terhadap gagasan baru, merupakan penghambat kita untuk maju.

Selain itu, menurut sebuah studi, pria yang sini sjuga beresiko serangan jantung dan stroke lebih tinggi, terutama jika sikap sinisme itu dikombinasi dengan sikap permusuhan.

Mengharapkan hal-hal buruk terjadi berdampak negatif untuk kesehatan Anda.

Dalam penelitian tiga tahun silam, peneliti mengukur hubungan pesimis dan ukuran telomer pada lima ratusan pria.

Hasilnya, semakin pria pesimis, maka semakin pendek pula ukuran telomer dalam selnya.

Makin pendek telomer, makin besar pula risikonya menderita penyakit jantung.

Bila Anda mencoba mengikat pikiran dari pengalaman yang menyakitkan, itu adalah refleksi dan tak bermasalah.

Namun, bila Anda terus-menerus mengulang dan situasi itu terjadi hingga belasan tahun, dampaknya adalah kecemasan.

Pikiran pada peristiwa menyedihkan dan sulit memaafkan akan meningkatkan hormon stres dan denyut jantung meningkat.

Di lain pihak, mencoba mengubur sebuah pikiran juga tidak dianjurkan.

Refleksikan apa yang sudah dialami, peristiwa baik dan buruk sehingga hati lebih tenang. Ini akan membantu kita berdamai dengan diri sendiri.

Kunci dari menghindari rasa dendam adalah belajar memaafkan.

Evaluasi apakah manfaat yang akan Anda dapat dari memuaskan rasa dendam karena seringkali hanya akan menambah panjang rasa permusuhan.

Fenomena meningkatnya sikap negative thinking di tengah masyarakat tentu memprihatinkan, apalagi pikiran kebencian juga sudah mulai menyentuh pikiran mereka sejak dini.

Perilaku seorang adalah cerminan perilaku orang lain yang dilihatnya lalu ditiru.

Beruntung jika ia mencontoh hal positif, tetapi melihat fenomena sikap intoleransi, kemungkinan mereka juga mempelajarinya dari orang di sekitarnya.

Orang terdekat anak, baik orangtua atau guru, seharusnya mengajarkan kebaikan pada anak.

Memberi tahu bahwa sikap membeda-bedakan, dalam hal ini agama, adalah salah.

Komentar