Musik Berperan Mencegah Penuaan Otak

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 19 Oktober 2017 | 09:50 WIB

Dibaca: 0 kali

Nah, apakah Anda suka musik?

Ya, siapa yang tak suka musik

Dan  sebuah penelitian menyebutkan bahwa mendengarkan musik mampu menyembuhkan berbagai penyakit yang berhubungan dengan saraf otak.

Baru-baru ini sebuah penelitian bahkan menyebutkan bahwa mendengarkan musik bagi pasien demensia ternyata juga dapat mengurangi kecemasan hingga memperbaiki suasana hati.

“Mendengarkan musik akan bisa mencegah penuaan atau kepikunan,” tulis  “healthy.”

Mendengarkan musik dapat membuat otak manusia untuk lebih aktif mengingat kembali berbagai kenangan penting.

Stimulasi dari kenangan masa lalu akan membangkitkan emosi secara positif.

Mendengarkan musik dan bernyanyi akan mengaktifkan otak kiri dan kanan pasien demensia.

Otak akan bekerja secara menyeluruh dan membuat otak  menggunakan kapasitasnya lebih dari biasanya dan memacu berbagai fungsi otak.

Selain itu, mendengarkan musik bagi mereka yang tua dapat membuat suasana hati lebih tenang dan merangsang interaksi positif, memfasilitasi fungsi kognitif dan mengkoordinasikan gerakan motorik

Juga djelaskan mendengarkan musik dapat membuat orang tua  lebih tenang dalam menghadapi sundown syndrome, yaitu perilaku saat mengalami disorientasi dan kebingungan menjelang matahari terbenam.

Musik dapat membantunya lebih rileks dan membuat suasana hati lebih terjaga.

“Sementara bagi anak muda dan lansia yang tidak terkena demensia, mendengarkan musik dapat mengurangi risiko demensia di masa yang akan datang karena mengurangi risiko depresi,” katanya.

Selain itu musik juga bisa menghilangkan rasa nyeri

Seperti ditulis Journal of Music Therapy,  musik memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap nyeri.

“Kami telah mengamati efek ini dalam beberapa pemeriksaan klinis seperti rumah sakit dan fasilitas medis lainnya,” kata Jin Hyung Lee penulis jurnal tersebut.

Dilansir dari laman Reuters. Lee mengatakan, selain banyaknya uji klinis yang menyelidiki efek dari intervensi musik pada rasa sakit, ia juga melihat peningkatan jumlah terapis musik yang bekerja di rumah sakit.

Lee meneliti kembali sembilan puluh tujuh uji coba secara acak yang dilakukan

Kebanyakan percobaan tersebut melibatkan interaksi dengan terapis musik untuk pengobatan.

Uji coba tersebut memeriksa dampak intensitas nyeri yang dilaporkan oleh responden seperti tekanan emosional dari rasa sakit, gejala serius yang dialami serta jumlah obat penghilang rasa sakit yang diambil.

Beberapa penelitian yang di-review Lee tersebut membiarkan peserta memilih jenis musik yang mereka ingin dengarkan, seringkali termasuk klasik, easy listening, slow jazz, dan soft rock.

Seperempat dari uji coba menggunakan musik yang dipilih oleh peneliti. Rata-rata, peserta mendengarkan sekitar tiga puluh delapan menit musik selama percobaan.

Secara keseluruhan, pasien yang mendapatkan intervensi musik berhasil dinilai bahwa intensitas nyeri mereka berada pada satu titik rendah, yakni nol sampai skala sepuluh setelah sesi musik dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan musik.

Tapi, hasilnya tidak konsisten di antara semua studi.

Studi ini juga menemukan penurunan yang signifikan dalam penggunaan anestesi (obat-obatan) di kelompok musik dibandingkan dengan kelompok non-musik.

Selain itu, denyut jantung, tekanan darah dan laju respirasi diketahui lebih rendah di antara peserta dalam kelompok musik.

Musik merangsang indera selain reseptor rasa sakit, sehingga menarik perhatian pasien, mengurangi stres dan kecemasan dengan kualitas menenangkan.

“Selain itu, terapis musik menyediakan terapi dengan berbagai musik yang lebih spesifik seperti misalnya untuk menimbulkan harapan dan kontrol diri, sehingga mampu menstimulus pasien,” katanya.

Meskipun efektif, pengobatan lewat musik ini tidak dijadikan pengobatan utama untuk mengatasi penyakit. Lee menegaskan, selama melakukan pengobatan lewat musik, pasien juga masih mengonsumsi pengobatan komplementer dan perawatan medis yang dianjurkan.

Musik hanya mengalihkan perhatian dan membuat pasien lebih santai, kata Dr. John Marshall dari University of Missouri School of Medicine di Columbia, Missouri.

“Ketika melakukan studi musik pada pasien kolonoskopi bertahun-tahun yang lalu, kami juga memberikan pasien obat penenang,” kata Marshall.

Para pasien terjaga selama prosedur mereka. Musik tampaknya menjadi tambahan yang  membantu untuk meningkatkan pengalaman pasien.

“Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan ketika merancang sebuah program musik untuk pasien. Jadi saya akan merekomendasikan konsultasi terapis musik ketika membentuk program pengobatan musik,” kata Lee.

Komentar