Mode “Hijabers” Indonesia Merambah Dunia

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 5 Juni 2013 | 11:02 WIB

Dibaca: 14 kali

Fashion” busana muslim global telah menempatkan Indonesia sebagai kiblat barunya. Pembuktian dari masuknya Indonesia sebagai arah “trend” para kaum “hijabers” dunia ditandai dengan terjadinya akumulasi “modernitas” dari para perancang muda serta makin gandrungnya para artis menukar busananya dengan “hijab”

Terakumulasinya artis dalam kaun “hijabers” dimulai dari perubahaan penampilan Inneke Koesherawati yang dengan sangat ekstrim mengubah dirinya dari busana terbuka ke busana terutup. Diikuti oleh Dessy Ratnasari, Peggy Melati Sukma, Ayu Azhari dan terakhir diamini oleh Dewi Sandra.

Mengleompoknya para artis ini ditandai pula secara fenomenal oleh Fatin Shidqia Lubis, yang diterima dengan keikhlasan oleh publik untuk menjuarai ajang musik paling “keren” X-Factor Indonesia dengan penampilan ber”hijab.”

Meluasnya “fashion” muslimah ini di Indonesia ini telah meluaskan kepak sayap mode “hijabers” Indonesia hingga ke Timur Tengah. Bahkan Layla Eshki, sempat kaget menahan decak kagumnya ketika mengamati gaun putih bermotif abstrak di bagian ujung yang dikenakan salah satu pemenang World Muslimah Beauty 2012, Deanita.

Ketika itu, para pemenang WMB 2012 tengah bertemu masyarakat Indonesia di Jeddah dan warga Arab untuk mengenalkan ajang pencarian duta Muslimah inspiratif itu di Jeddah. “It’s beautiful! I never seen hijab like this in here,” tukas Lyla sambil berkali-kali menyentuh pakaian muslim dari rumah busana Mumtaaz itu.

Lyla bercerita bahwa di Arab Saudi, para perempuan hanya terpaku pada sebuah baju muslim dengan warna hitam. “Di sini, semuanya hitam. Tak ada warna-warna cantik seperti ini,” tutur perempuan yang bekerja sebagai fotografer lepas itu.

Lyla melihat tampilan busana muslim karya para desainer dari Mumtaaz bisa menjadi salah satu panduan bagi perempuan Arab untuk berbusana muslim. Pasalnya, lanjut Lyla, kini perempuan Arab —khususnya di Jeddah— banyak yang terjebak dengan busana muslim yang tidak Islami.

“Mereka mengenakan celana jeans ketat sampai terlihat g-string, atau menggunakan baju ketat sampai terlihat belahan dadanya. Jelas ini sudah salah mode,” tuturnya.

Menurut Lyla, kesalahan mode itu lebih banyak terjadi di Jeddah. Sementara di Mekkah dan Madinah, hal tersebut tidak terjadi karena kedua kota itu adalah kota suci bagi umat Islam. Di Mekkah dan Madinah, aku Lyla, cara berpakaian perempuan sangat diatur secara ketat, berbeda halnya dengan di Jeddah.

Manajer Operasional Mumtaz Boutique, Surya Artaty, menjelaskan bahwa pemilihan baju-baju yang dikenakan para pemenang WMB benar-benar dipilih secara selektif. Pasalnya, pada sesi pemotretan kali ini, para pemenang WMB dituntut untuk lebih menekankan busana muslim yang syar’i. Busana muslim syar’i yakni yang menutup aurat, tidak menunjukkan lekuk tubuh, dan kerudung menutup hingga bagian dada.

“Untuk membuat busana muslim yang syar’i ini kami tidak memiliki tema khusus yang diangkat karena setiap desainer yang bergabung dengan kami memiliki ciri khasnya masing-masing,” imbuh Taty.

Setidaknya ada 20 pakaian yang dikenakan para peserta WMB selama di Arab Saudi. Seluruh pakaian muslim itu merupakan karya dari Malik Moestaram, Dian Pelangi, Shebe, Adhy – Alie, Sascha, Astrie, Zebu, Jenahara, Nuniek Mawardi, Bilqis, dan Lia Afif.

World Moslem Beauty merupakan ajang pencarian duta Muslimah inspiratif sedunia yang diselenggarakan oleh World Moslem Beauty Foundation. WMB merupakan acara tahunan yang dilakukan sejak tahun 2011. Tahun ini, WMB mengubah namanya menjadi Annual Award of World Muslimah.

Komentar