Mitos Sesat Tentang Seks pada Usia Tua

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 6 Oktober 2017 | 08:25 WIB

Dibaca: 0 kali

Kegiatan seks di usia tua membosankan?

Ah, jangan dulu berprasangka jelek terhadap rutinitas seks di usia “senja.”

Memang, banyak orang menganggap jika kehidupan seks di usia senja membosankan dan tidak senikmat di masa muda.

Padahal, mitos seks ini tidak selalu benar.

Kebanyakan wanita paruh baya justru mengakui jika mereka merasakan seks yang lebih baik di usia tua karena sudah mengetahui apa yang benar-benar mereka dan pasangannya butuhkan ketika berhubungan seksual.

Memang sih, faktor menopause dan premenopause akan membuat gairah seksual mengalami penurunan.

Tapi, bukan berarti pasangan paruh baya tidak bisa memiliki seks yang berkualitas?

Bagi Anda yang akan memasuki usia paruh baya, yaitu usia empat puluh  sampai lima puluhan, cari tahu beragam mitos dan fakta seputar kehidupan seksual paruh baya di bawah ini.

Bisa mencapai orgasme adalah sebuah dambaan bagi setiap pasangan, terlebih bagi wanita. Namun, kebanyakan orang menganggap jika orgasme hanya bisa dicapai pada usia muda, yaitu saat hasrat seksualnya sedang membara.

Padahal, tidak demikian kenyataannya.

Dalam survei yang dilakukan oleh Natural Cycles, diketahui wanita justru kebanyakan mengalami orgasme terbaiknya di atas usia tiga puluh enam tahunn

Terapis seks Ian Kerner, Ph.D., tidak terkejut dengan temuan ini. Pasalnya, seseorang wanita yang memasuki usia 40-an, umumnya sudah tahu apa yang memang mereka butuhkan dan inginkan soal seks.

Selain itu, wanita yang sudah menjalani kehidupan rumah tangga atau perkawinan yang lama umumnya akan merasa lebih percaya diri dalam berhubungan seksual.

Ini terjadi karena seiring bertambahnya usia, mereka akan mendapatkan dukungan sosial dan psikologis terhadap hasrat seksualitas mereka sendiri.

Jadi, jangan percaya mitos seks bahwa orgasme itu hanya untuk mereka yang masih muda dan penuh gairah.

Testoteron dan estrogen adalah dua hormon yang berperan dalam gairah seksual. Namun, seiring bertambahnya usia, kedua hormon tersebut memang akan mengalami penurunan sehingga berdampak pula pada penurunan gairah seksual Anda.

Penurunan gairah seksual yang dipengaruhi oleh usia memang tidak bisa dihindari. Tapi, bukan berarti kondisi ini tidak bisa diatasi.

Cobalah untuk berkonsultasi ke dokter atau pakar kesehatan seksual untuk mengatasi gairah seksual Anda yang rendah.

Selain karena perubahan hormon, penurunan gairah seksual ini juga bisa disebabkan banyak faktor, seperti depresi, mengonsumsi obat tertentu, sampai penyakit diabetes.

Beberapa wanita mengaku mengalami atrofi vagina ketika melakukan seks setelah menopause. Atrofi vagina adalah penipisan dan peradangan yang terjadi di dinding vagina.

Kondisi ini akan membuat penetrasi terasa menyakitkan sehingga membuat kebanyakan pria dan wanita mengurungkan niatnya untuk berhubungan seksual.

Kenyataannya, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal American Menopause Society, sebanyak enam pulouh tujuh persen wanita setelah menopause memang mengalami atrofi vagina.

Namun, wanita yang tidak berhubungan seks secara teratur paling rentan mengalami atrofi vagina.

Anda bisa mengatasi kondisi ini dengan menggunakan pelumas atau pelembap supaya membuat seks terasa nikmat kembali. Selain itu, rutin berhubungan intim juga bisa membantu menghindari risiko tersebut.

Anda pasti pernah dengar mitos seks yang satu ini. Seks di usia senja merupakan sebuah aktivitas membosankan atau kewajiban belaka ketika usia semakin bertambah.

Padahal, seks di usia tua tetap sama menariknya dan penuh petualangan seperti ketika muda.

Ini bisa karena di usia tersebut, Anda biasanya punya lebih banyak waktu luang dan masih punya cukup energi untuk bermain cinta.

Dibandingkan dengan zaman muda dulu, di mana Anda terlalu letih bercinta karena harus mengurus anak sepanjang hari dan sibuk bekerja.

Jika kehidupan seks Anda membosankan, sebaiknya cobalah memulai hal-hal baru bersama pasangan.

Beberapa pasangan nyatanya belum pernah benar-benar mengembangkan seni foreplay atau pemanasan, di mana sangat penting untuk mencapai klimaks atau orgasme saat berhubungan seksual.

Selain itu, jangan ragu untuk mengajak pasangan mencoba posisi baru, bercinta di tempat yang berbeda (jangan cuma di kamar), memakai alat bantu seks, atau pun meminta rangsangan langsung di area sensitif Anda.

Namun bagaimana jika sepasang suami istri tersebut sudah memasuki usia tua alias lanjut usia?

Apakah mereka dapat  tetap melakukan seks?

Adakah risiko atau dampak kesehatan yang timbul jika melakukannya di usia lanjut?

ebagian besar masyarakat menganggap bahwa hubungan seksual sudah tidak diperlukan lagi ketika seseorang memasuki usia tua.

Tapi ternyata, hubungan seksual justru memberikan manfaat yang baik jika dilakukan oleh pasang lanjut usia, walaupun memang frekuensi hubungan seksualnya sudah tidak sesering ketika pasangan tersebut masih muda.

Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa pasangan lanjut usia yang melakukan seks, berpeluang lebih rendah untuk terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan pasangan yang tidak melakukan seks sama sekali.

Selain itu, seks juga terbukti dapat menurunkan tingkat stres,  meningkatkan kepercayaan diri, serta menjaga keharmonisan dari pasangan tersebut.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Health and Social Behaviour menyatakan bahwa pasangan lanjut usia yang sangat sering melakukan hubungan seksual menimbulkan dampak yang berbeda bagi laki-laki dan wanita. Laki-laki yang sudah tua kemudian melakukan hubungan seksual lebih dari 2 kali dalam seminggu dengan pasangannya, justru berisiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung.

Risiko penyakit jantung ini muncul akibat penggunaan obat kuat atau suplemen yang berguna untuk meningkatkan stamina dan performa seksual laki-laki.

Tidak bisa dipungkiri, kemampuan seksual laki-laki juga menurun seiring dengan bertambahnya usia. Laki-laki berusia lanjut usia lebih sulit untuk mencapai ‘klimaks’ karena alasan medis atau kondisi mentalnya dibandingkan dengan laki-laki yang berusia masih muda.

Sehingga, untuk mencapai orgasme laki-laki menggunakan obat kuat serta suplemen penambah stamina sebagai solusi penurunan kemampuan seksual mereka.

Selain itu, ‘usaha keras’ seorang laki-laki yang berusia lanjut untuk mencapai orgasme membuat laki-laki tersebut mengalami kelelahan serta stres yang tinggi, sehingga dapat mempengaruhi kerja jantungnya. Hal ini juga meningkatkan risiko penyakit jantung.

Sedangkan wanita lanjut usia yang melakukan hubungan seksual saat justru dianggap dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan peluang untuk mengalami penyakit jantung. Hal ini disebabkan karena dukungan emosi yang didapatkan dari hubungan seksual membuat wanita tersebut terhindar dari stres sehingga menurunkan risiko penyakit jantung.

idak seperti frekuensi yang dapat menimbulkan perbedaan dampak bagi laki-laki dan wanita, hubungan seksual dengan kualitas yang baik justru membuat laki-laki ataupun wanita lanjut usia terhindar dari risiko penyakit jantung.

Hal ini telah dibuktikan oleh para peneliti dari Michigan State University  yang menunjukkan bahwa kualitas hubungan seksual penting untuk membangun dukungan emosi dan meningkatkan kepercayaan diri dari kedua pasangan tersebut.

Pengelolaan emosi yang baik adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya penyakit jantung.

Komentar