close
Nuga Life

Mereka Bahagia Pun Bisa Dihampiri Stres

Laman “hello sehat” kembali menulis tentang stress.

Kali ini laman  kesehatan itu tentang mereka yang “merasa” hidup bahagia juga bisa dikunjungi stress

Ketika Anda merenungkan kehidupan Anda, Anda merasa sangat bahagia karena sebagian besar hal yang ada dalam hidup berjalan sempurna.

Anda memiliki karier yang stabil, Anda dikelilingi dengan orang-orang tercinta dan yang mencintai Anda, Anda bisa menikmati setiap hal-hal kecil di sekitar, dan Anda punya semua yang Anda inginkan.

Namun kadang, Anda tetap merasa tertekan, tegang, dan khawatir. Apakah wajar kalau hidup bahagia tapi stres?

Hidup itu dinamis. Stres adalah reaksi alamiah tubuh yang terjadi mengikuti setiap perubahan yang ada pada lingkungan sekitar Anda.

Tubuh akan bereaksi terhadap segala hal yang membuat Anda merasa tidak nyaman atau terancam, terlepas dari apakah itu benar-benar membahayakan atau tidak.

Stres biasanya dimulai dari rasa kewalahan akibat banyaknya tekanan dari luar dan dalam diri yang telah berlangsung cukup lama.

Sebagai mekanisme pertahanan diri, tubuh akan memproduksi berbagai hormon seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin.

Kombinasi hormon ini membuat Anda merasakan dorongan energi dan peningkatan konsentrasi supaya Anda bisa merespon sumber tekanan tersebut secara efektif.

Stres adalah hal yang normal dan justru baik bagi Anda dalam situasi tertentu.

Pada umumnya, stres membuat Anda bisa semakin terpicu untuk fokus untuk menyelesaikan masalah dan meningkatkan kinerja.

Namun, apabila stres muncul di saat-saat yang tidak diinginkan, banyak orang yang justru sulit berpikir jernih.

Setiap orang memiliki pemicu stres yang berbeda-beda.

Menurut survei yang dilakukan di Amerika, stres di tempat kerja menempati urutan teratas. Pemicu stres umum lainnya termasuk kematian orang yang dicintai, perceraian/perpisahan, kehilangan pekerjaan, peristiwa traumatik, hingga penyakit kronis.

Namun stres tidak hanya datang dari faktor luar saja, juga seringkali datang dari dalam diri Anda sendiri.

Misalnya, kecemasan dan kekhawatiran tentang masa depan yang sebenarnya belum pasti terjadi

Sikap dan persepsi Anda ketika menghadapi sesuatu juga dapat memengaruhi bagaimana Anda menilai stres.

Misalnya, jika Anda mengalami kerusakan mobil karena tabrakan dan Anda berpikir “mobil hancur!

Padahal uang tabungan mau dipakai untuk kebutuhan lain, duh!”.

Jika Anda berpikir demikian, maka sudah pasti hanya stres yang akan Anda dapat. Bandingkan dengan pemikiran “Untung hanya mobilnya saja yang rusak. Asalkan saya dan keluarga masih diberi keselamatan, itu jauh lebih penting”. Pemikiran kedua akan jauh lebih menenangkan ketimbang pemikiran yang pertama.

Terlebih, setiap orang merespon stres dengan cara yang berbeda karena memiliki kepribadian yang juga berbeda-beda. Apa yang menyebabkan Anda stres, belum tentu juga bisa menyebabkan stres pada diri orang lain.

Maka, bukannya tidak mungkin orang yang sudah hidup bahagia tapi stres tetap saja bisa menghampirinya.

Ini semua tergantung dari bagaimana Anda melihat sesuatu yang bisa menyebabkan stres, dan cara Anda menangani stres tersebut.

Jadi, tidak menjamin bahwa hidup bahagia akan membuat seseorang terhindar dari stres. Pada intinya, setiap perubahan besar dalam hidup Anda bisa menyebabkan stres jika Anda tidak mampu mengelolanya dengan baik.

Jangankan perubahan buruk, perubahan baik saja juga bisa menjadi pemicu stres. Itu sebabnya stres merupakan bagian dari hidup yang pasti Anda alami dan (untuk sebagian besar kasus) tidak dapat dihindari.

Hal yang terpenting adalah belajar untuk memandang dan menghadapi stres dengan cara yang lebih positif.

Seberapa baik kemampuan Anda menghadapi stres dapat semakin mendorong diri agar tetap terus maju mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mungkin Anda tidak menyadari bahwa stres melanda hidup Anda di satu waktu tertentu, karena Anda memiliki cara-cara jitu nan efektif untuk menyelesaikan masalah tersebut sebelum bertambah runyam.