Menunggu Punahnya Kopi Terbaik Dunia

Penulis: Darmansyah

Rabu, 28 Desember 2016 | 09:56 WIB

Dibaca: 1 kali

Kopi terbaik dunia akan punah.

Itu yang ditulis para ahli tentang bakal lenyapnya produksi kopi dari Meksiko dan Amerika Tengah.

Punah?

Ya, ini akan memaksa penggemar kopi saat ini mungkin harus mulai berhemat minum kopi.

Para  peneliti memprediksi bahwa setengah dari kopi terbaik dunia akan lenyap pada tiga puluh btahun  mendatang.

Lenyapnya kopi terbaik dunia dari peredaran ini disebabkan oleh serangan jamur kopi.

Penyakit kopi yang disebabkan oleh jamur ini dikenal dengan nama karat daun kopi

“Itu sangat menyedihkan karena kami memperkirakan bisa mendapat panen yang bagus tahun lalu,” kata Guadalupe Avendano, petani kopi di Veracruz, Meksiko.

“Tapi ini adalah yang terburuk,” kata pria yang sudah bertani sejak 20 tahun lalu ini dikutip dari Vice.

Karat daun kopi ini ‘membunuh’ tanaman kopi dengan cara menyerap semua nutrisi yang ada pada tanaman tersebut.

Di dua tahun lalu, penyakit tersebut menghancurkan panen kopi sampai tujuh puluh persen di Meksiko dan Amerika Tengah.

Masalah karat daun kopi menjadi sebuah masalah yang serius di seluruh dunia selama berabad-abad.

Namun musim hujan yang tak terprediksi akibat perubahan iklim membuat penyebaran jamur makin meluas. Penyebaran jamur ini memengaruhi petani kopi dalam berbagai segi.

“Kami menggantungkan hidup pada kopi, tapi kini tidak bisa lagi,” katanya.

Selain itu, sebuah penelitian di Inggris menulis hal yang sangat mengejutkan.

Menurut para peneliti, tujuh dekade mendatang, kopi liar di hutan tropis negeri akan punah untuk selamanya.

“Kepunahan kopi arabika bisa terjadi pada tujuh puluh tahun mendatang,” ujar Aaron P. Davis, peneliti dari Royal Botanic Gardens yang berbasis di Surrey, Inggris.

Kesimpulan itu muncul dari analisis peneliti Inggris dan Ethiopia yang dilaporkan melalui jurnal ilmiah PLoS ONE.

Analisis dikerjakan melalui bantuan mesin pembaca nasib kopi yang dibuat menggunakan program komputer. Kopi arabika dipilih karena merupakan jenis yang paling banyak disukai.

Penikmat kopi memang sangat bergantung pada kopi arabika, yang menguasai tujuh puluh  persen penjualan kopi di seluruh dunia.

Adapun tiga puluh persen sisanya diisi kopi robusta.

Kecanduan penikmat kopi terhadap spesies arabika disebabkan rasanya yang sangat kaya.

Ragam rasa kopi arabika merentang mulai dari paling lembut dan manis hingga yang beraroma paling tajam.

Biji kopi arabika yang belum disangrai mengeluarkan aroma mirip blueberry. Setelah disangrai, biji kopi ini menebarkan bau harum bercampur aroma manis buah-buahan.

Peneliti kopi Surendra Kotecha, melalui Coffee Improvement Programme Phase IV, menyebut Ethiopia sebagai gudang genetik kopi arabika.

Ragam genetik kopi arabika tersimpan pada pohon-pohon kopi yang tumbuh liar di hutan Ethiopia.

“Kopi arabika liar di Ethiopia bersama keragamannya sangat diperlukan dunia,” kata Davis.

Sayangnya, kata dia, perubahan iklim mengancam kehidupan pohon kopi arabika liar. Peneliti dan petani mengetahui kopi ini sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.

Jika suhu meningkat hingga dua derajat Celsius, seperti prediksi sejumlah ahli iklim, biji kopi matang lebih cepat, dibarengi penurunan kualitas rasa.

Kenaikan temperatur lebih tinggi lagi akan menimbulkan stres terhadap tumbuhan ini. Depresi pada pohon kopi liar biasanya menyebabkan daun menguning, bahkan muncul tumor pada batang.

Untuk melakukan analisis, peneliti harus pergi ke museum untuk mengumpulkan data varietas kopi arabika liar.

Untuk meniru kehidupan kopi di alam, mereka membuat model penyebaran setiap varietas kopi.

Penyebaran ini dijalankan hingga tahun 2080 dengan memperhitungkan efek perubahan iklim. Model perubahan sebaran kopi arabika liar ini diketahui sebagai yang pertama di dunia.

Hasil yang ditampilkan sangat baik, ditunjukkan oleh resolusi data yang mencapai satu kilometer.

Lewat program komputer tersebut ,peneliti dapat mengetahui bahwa kopi arabika liar akan hancur

“Model ini secara jelas menunjukkan perubahan iklim melahap penyebaran kopi arabika liar,” kata dia.

Davis mengatakan, ancaman kepunahan bisa terjadi lebih cepat dan lebih parah. Sebab, analisis yang ia lakukan hanya memperhitungkan faktor perubahan iklim.

Padahal terdapat faktor perambahan hutan yang mengancam kehidupan tanaman kopi selama beberapa tahun terakhir di Ethiopia.

Faktor negatif lain muncul dari hama dan penyakit. Kopi arabika terkenal sebagai spesies yang sangat sensitif terhadap gangguan organisme lain.

Ancaman tambahan muncul pula dari perubahan waktu berbunga dan pengurangan jumlah burung penyebar bibit kopi yang dipengaruhi perubahan iklim.

Komentar