Mengenali Ruang Makan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 17 Januari 2013 | 17:20 WIB

Dibaca: 0 kali

Ruang makan? Ya!!
Iya juga terhadap letak dan fungsinya. Iya juga untuk memenuhi kebutuhan gengsi rumah keluarga. Tidak hanya bagi keluarga moderen, tetapi juga bagi keluarga tradisionil, sebagaimana pentingnya ruang tamu, ruang keluarga dan dapur.

Ruang makan kini telah berkembang bersama kemajuan desain sebuah rumah. Ia telah melewati masa yang panjang untuk beradaptasi keluarga dan berinterakas dengan iselera zamannya.

Ruang makan di sepanjang perjalannya tidak selamanya terikat dengan luas dan sempitnya ketersediaan ruang sebuah rumah keluarga. Itu tidak penting, nasihat ahli gambar dan desain interior. Yang penting, jangan pernah mengabaikan fungsinya. Dan aturlah letaknya sehingga menjalarkan kehangatan keluarga sebagaimana tujuan awal keberadaannya.

Kegiatan makan, kini dan dulunya, tidak sekadar suap menyuap santapan atau kudapan dari yang ringan hingga yang berat. Kegiatan makan sejak zaman “baheula” merupakan sosialita yang rutinitasnya tak pernah membosankan. Ia bisa sebagai tempat berbagi curhat, mengevaluasi hubungan, memecahkan problem, hinggs mengakrab diri sembari berbagi dengan mengalirkan pengalaman pada orang-orang terdekat.

Saking istimewa dan privasinya, acara makan ini memerlukan ruang yang sangat khusus di rumah-rumah keluarga dengan penamaan kegiatannya secara spesifik dengan sebutan breakfast, launch dan dinning. Makan pagi, makan siang dan makan malam.

Ruang makan sejak dulu pun tidak hanya terbatas kehadirannya di rumah-rumah keluarga. Ia juga bisa hadir di penginapan, restauran, ruang pertemuan atau pun di tempat-tempat khusus sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Bahkan kini ruang makan di luar rumah keluarga telah mengalami “revolusi” penataan. Semuanya tentu bertujuan untuk mendapatkan nilai “plus” dari kegiatan makan-makan, yang yang privasi mau pun formal.

Di kesempatan ini kita ingin lebih fokus menulis keberadaan ruang makan di rumah-rumah keluarga, sesuai dengan fungsi, letak dan tujuan awalnya sebagai salah satu ruang utama. Ruang yang memberi nuansa pada kebutuhan “familiar” yang kental dan lebih dari sekadar menu, kursi dan meja.

Bersamaan dengan perkembangannya, ruang makan di rumah keluarga secara garis besar, tidak melihat besar kecilnya rumah, memiliki tiga tipikal sesuai dengan “lifestyle” penghuninya. Ketiga tipikal itu mengacu pada satu peruntukan, yaitu kepraktisannya dan modernitasnya.

Untuk itu lokasi dan posisi ruang makan dibedakan atas tiga kemungkinan. Bergabung dengan dapur, menyatu dengan ruang keluarga dan ruang tamu atau berada di sebuah ruang khusus yang terpisah.

Ruang makan yang berada di dapur dikenal dengan sebutan “breakfast nook.” Model seperti ini sudah pasti mengutamakan kepraktisannya akibat keterbatasan ruang Cenderung berukuran kecil, dengan meja mini dan jumlah kursi dua atau tiga buah., kegiatan makan di sini juga lebih sederhana dengan menu seadanya serta penggunaan kelengkapan yang minim.

Berlainan dengan tipe kedua, ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga atau ruang tamu. Tipe kedua ini adalah penggabungan dua harmoni dalam satu ruang yang biasanya tanpa pembatas atau sekat yang bersifat masif dan meleburkan antara suasana rilek dengan kehangatan. Desain ruang makan jenis ini biasanya terasa lebih luas dan mendominasi rumah-rumah masa kini.

Keuntungan dari ruang makan tipe ini selain menghemat ruangjuga bisa menyatukan beragam kegiatan anggota keluarga pada satu lokasi dengan mengalirkan kehangatan serta keakraban yang terus menerus sesama penghuni inti, saudara dan tamu.

Model ruang makan ketiga, adalah yang terpisah dengan dapur, ruang tamu atau pun ruang keluarga. Biasanya ruang makan jenis ini berada di rumah-rumah berukuran luas dengan mengutamakan penataan formal. Tipe ruang makan yang terpisah ini mengutamakan sinkronisasi antara unsur waktu, menu dan peralatan makan yang komplet atau dikenal dengan “dining set.”

Kesan formal pasti tak terhindarkan di ruang makan model terpisah ini. Pengaturan jadwal antara “breakfast, launch dan dinning disesuaikan dengan menu dan seting peralatan serta posisi meja dan kursi. Ruang makan ini juga mengutamakan elemen lantai, dinding dan plafon yang diserasikan dengan detil pencahayaan yang tidak tergantung pada “general lighting.”

Faktor kenyamanan di tipe ruang makan terpisah ini sangat menonjol. Tidak hanya mengutamakan “ekslusif” posisi, tapi ia juga disertai dengan hitungan luas, jenis pintu dan jendela beserta bukaannya sekaligus sirkulasi udara.

Jenis meja dan kursi juga harus disesuaikan. Berepa panjang dan lebar meja serta berapa kursi yang mengelilinginya. Dan entah apa lagi yang rumit-rumit untuk membuat suasana cantik dan sehat.

Komentar