Efek Memelihara Jenggot Menurut Sains

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 10 November 2017 | 08:54 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda, mungkin, salah seorang yang gemar memelihara jenggot.

Ya, memelihara jenggot menurut sain, memang ada untuk ruginya.

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan hal yang cukup mengejutkan

Ternyata  jenggot di wajah bisa menjadi sarang bakteri yang lebih kotor daripada toilet.

John Golobic, seorang ahli mikrobilogi di Quest Diagnostics, New Mexico, mengakui terkejut dengan hasil penelitiannya terhadap sejumlah jenggot ini.

Ada jenggot yang kandungan bakteri masih dalam taraf normal, sedangkan lainnya, setara dengan kotoran di toilet.

Bahkan, para peneliti mengatakan jika sampel serupa terjadi dalam sistem air maka sistem tersebut harus ditutup dan disterilkan.

“Biasanya saya tidak terlalu terkejut dengan dengan hasil penelitiannya, namun kali ini saya terkejut. Ada tingkat ketidakbersihan yang mengganggu,”kata Golobic dikutip dari Mirror, hari ini, Jumat, 10 November.

Untuk itu, sangat disarankan untuk membiasakan mencuci wajah, termasuk jenggot serta kumis Anda. Jangan lupa juga untuk mencuci tangan dengan sabun.

Kemudian, jangan sering memegang jenggot anda.

Sementara itu, seorang peneliti di Universitas di Queensland, Profesor Alifio V. Parisi justru menjelaskan keuntungan memelihara jenggot.

Menurut penelitian Profesor Parisi, rambut di wajah, salah satunya jenggot, dapat melindungi pemiliknya dari pancaran sinar ultraviolet .

“Meskipun tidak seaman tabir surya, tetapi jenggot dan rambut di wajah dapat menghalangi kulit oleh sinar UV secara langsung,”katan Profesor Parisi dikutip dari Mirror.

Menanggapi temuan tersebut, seorang ahli dermatologi, Dr. Adam Freidman menyampaikan hal yang sama.

Dikutip dari The Independen,  Dr. Freidman mengatakan, “Semakin tebal rambut di wajah akan menangkal sinar matahari lebih banyak, dan kulit anda akan terlindungi dari penyakit karena sinar matahari tersebut.”

Namun demikian, peneliti menyarankan untuk tetap menjaga kebersihan dan kesehatan rambut di wajah, termasuk jenggot.

Dan menurut ahli kulit, janggut ternyata bisa membuat seseorang mencegah dari asma dan mengobati batuk

Menurut penelitian lainnya dari University of Southern Queensland yang  diterbitkan dalam jurnal Radiation Protection Dosimetry, wajah berjanggut menawarkan perlindungan yang signifikan terhadap kerusakan akibat sinar matahari dan kanker kulit.

Para peneliti menemukan, bagian wajah tertutup oleh jenggot dan kumis rata-rata tiga kali kurang terpapar sinar UV yang berbahaya dibandingkan dengan wajah yang bebas rambut.

Penelitian yang dilakukan dengan manekin yang tertempel janggut, serta manekin yang dicukur bersih untuk membandingkannya.

Peneliti menggunakan teknik dosimetrik, yang mengukur jumlah sinar atau radiasi yang diserap dalam waktu tertentu.

Hasil penelitian menunjukkan, jenggot menawarkan perlindungan  dari sinar matahari, tergantung pada panjangnya rambut. “Umumnya rambut menawarkan perlindungan yang baik terhadap sinar matahari,” kata Dr Nick Lowe, dokter kulit terkemuka yang berbasis di London.

Itulah mengapa wanita sedikit yang mengalami kerusakan akibat sinar matahari jika rambutnya menutupi bagian belakang lehernya dan sisi wajahnya.

“Ini juga soal ketebalan rambut,” katanya. “Ini mirip dengan faktor SPF – semakin tinggi kepadatan rambut dan ketebalan, semakin tinggi SPF”.

Namun Dr Lowe menyarankan, pria dengan rambut di wajah tetap menggunakan lotion matahari atau semprotan yang tidak terlalu berminyak di atas rambutnya karena banyak jenggot yang tidak terlalu padat.

Pria yang asma biasanya dipicu oleh serbuk sari dan debu bisa menumbuhkan rambut di wajahnya atau kumis yang tebal karena bisa menolong mengurangi gejala asma.

“Kumis yang mencapai area hidung bisa menghentikan alergen naik ke hidung dan yang terhirup ke paru-paru,” kata Carol Walker, Ahli Medis Rambut dan pemilik Birmingham Trichology Centre seperti dikutip Dailymail.

Dr Rob Hicks yang berbasis di London berpikir itu hanya serbuk sari yang lengket dan mungkin terjebak dengan cara ini, yang mencegahnya masuk ke saluran pernapasan.

Dan meskipun kumis membuat debu terperangkap, menurut Dr Hicks, ini bisa membutuhkan tekanan sebelum masuk ke hidung.

“Secara teori, kumis bisa menghentikan hal-hal yang memicu asma dan memasuki saluran udara, tapi harus menjadi besar,” ujar Dr Felix Chua, seorang dokter konsultan pernapasan di Klinik London, Harley Street.

Seiring waktu, rambut wajah bisa membantu menjaga kulit tetap muda dan dalam kondisi yang baik.

“Rambut menghentikan air meninggalkan kulit sehingga menjaga kelembabannya dengan melindungi dari angin, yang mengeringkan kulit dan menghalangi pelindung kulit,” ujar Dr Lowe.

“Juga, jika Anda memakaikan pelembab letakkan di jenggot atau kumis akan jauh lebih baik dibandingkan pada kulit yang terpapar atau dicukur karena lebih mudah terhapus”.

Ia juga mengatakan, kulit tebal lebih tahan terhadap kerusakan. Bahkan jika orang itu tidak memiliki janggut.

“Dibandingkan dengan wanita, yang kulitnya cenderung lebih tipis dan memiliki folikel rambut sedikit, “kata Dr Lowe.

Janggut tebal yang tumbuh di bawah dagu dan leher akan menaikkan suhu leher dan membantu melawan pilek.

“Rambut adalam isolator yang membuat Anda hangat. Janggut yang penuh, panjang, sebagai perangkap udara dingin dan menaikkan suhu leher yang menjadi bonus ketika Anda berada di suhu dingin,” ujar Carol Walker.

“Bila Anda sakit tenggorokan, tubuh membangun temperatur untuk membunuh virus”.

“Rambut di sekitar dagu dan leher menambahkan lapisan perlindungan.” Rambut wajah dapat bertindak sebagai penghalang fisik terhadap suhu dingin, kata Dr Chua.

“Suhu tubuh yang lebih tinggi bisa membantu batuk, meskipun Anda perlu melihat penyebab untuk mengobatinya”.

Mencukur biasanya merupakan penyebab utama infeksi bakteri di daerah janggut.

“Ini bisa menyebabkan ruam cukur, rambut tumbuh ke dalam dan kondisi seperti ini folikulitis, sehingga orang-orang mendapat manfaat dari menumbuhkan jenggot,” ujarnya.

Meski banyak manfaatnya, ada kabar buruk bagi pemilik janggut. Dr Ron Cutler, ahli mikrobiologi di Queen Mary, University of London, mengatakan, orang dengan wajah rambut harus mencuci rambutnya secara teratur.

“Pria perlu mencuci dan memotong jenggot dan kumis mereka secara teratur dan meyakinkan tak ada sisa makanan di sekitarnya,” ujar Carol Walker.

“Juga berhati-hati ketika memilih tukang cukur, karena Anda bisa terinfeksi jika tidak dibersihkan dengan alat-alat mereka yang benar.”(

Komentar