Memaki Bisa Bikin Fisik Lebih Kuat

Penulis:: Darmansyah

Senin, 22 Mei 2017 | 10:02 WIB

Dibaca: 0 kali

Memaki tidak hanya menyebalkan tetapi bisa  juga memberi dampak baik bagi kesehatan seseorang, terutama meningkat kekuatan fisik

Selama ini, meneriakkan kata-kata makian dan umpatan memang bukan kebiasaan baik.

Sebuah penelitian yang dipimpin Richard Stephen, psikolog dari Keele University, Inggris,  meminta sekelompok sukarelawan mengikuti sejumlah uji coba.

Para relawan itu diminta memasukkan tangannya ke ember berisi air es dan bertahan selama yang mereka mampu.

Terkadang mereka diminta untuk mengumpat atau mengucapkan kata netral seperti “kayu” atau “cokelat”.

Hasilnya, ternyata orang yang mengumpat mampu merendam tangan mereka di air es lebih lama, yakni rata-rata sekitar empat puluh detik lebih lama.

Menurut Stephen, mengumpat bisa menjadi bentuk manajemen nyeri, bahkan meningkatkan kekuatan.

Contoh lain yang banyak dialami dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seorang ibu sedang berjuang untuk melahirkan. Tanpa sadar ia akan mengucapkan kata-kata makian yang bisa jadi kasar.

Ketika proses kelahiran usai, biasanya ibu tersebut merasa sangat malu dan meminta maaf kepada dokter dan perawat yang telah dimaki-maki. Ternyata, dokter yang menangani persalinan sudah biasa menghadapi hal-hal semacam itu dan menganggapnya normal.

“Memaki sepertinya memang meningkatkan rasa toleransi tubuh pada rasa sakit,” kata Stephen.

Memaki juga diketahui memiliki efek pada tubuh manusia.

Studi tahun 2011 menunjukkan, meneriakkan kata-kata yang dianggap kasar seperti “f**ck” merupakan reaksi emosi tersembunyi seseorang.

Hal ini akan meningkatkan daya konduksi  atau hantaran di kulit.

Mengumpat juga dianggap sebagai bahasa emosi dasar, dan diduga diatur oleh bagian otak ketika emosi meningkat.

Terkadang, ketika semua kata tak mampu mengekspresikan perasaan, kata-kata kotor sering yang muncul.

Kata-kata makian yang keluar  seringkali muncul saat mereka marah, frustasi, atau sebal.

Untuk menghindarinya, menahan diri saat marah, misalnya dengan mengambil nafas dalam atau menghitung sampai sepuluh.

Kita juga bisa mengajarkan anak untuk menuliskan perasaannya dalam bentuk kalimat.

Misalnya “Saya marah karena..”

Bagian ini kita sebenarnya sudah banyak belajar.

Orang-orang Jawa yang menganggap kata “bajingan” sebagai kata kasar, sering mengubahnya menjadi bajigur atau kata “anjing” menjadi anjrit.

Nah hal yang sama bisa kita terapkan untuk anak kita.

Jadi bila anak Anda mengucapkan kata kasar tertentu, koreksilah dan ingatkan untuk menggunakan kata lain yang tidak berkonotasi kasar atau menghina.

Mendengar kata kasar di depan umum atau di depan saudara-saudara kita memang akan membuat kita malu.

Tapi disarankan agar kita tidak bereaksi berlebihan dengan menyentil mulutnya atau meneriaki misalnya.

Anda cukup menegurnya, dan menanyakan apakah dia tahu arti kata itu.

Lalu jelaskan bahwa kata itu memiliki makna yang tidak baik, dan dapat menyakiti hati orang yang dipanggil dengan sebutan tersebut.

Tegaskan lagi soal kesepakatan untuk tidak menggunakan kata-kata tertentu yang tidak baik.

Dengan menetapkan aturan dan konsisten mematuhinya, kita akan bisa menghilangkan kata-kata kasar dari mulut buah hati kita, sekaligus juga dari mulut kita.

Komentar