Lupa Itu Tidak Melulu Diakibatkan Demensia

Penulis: Darmansyah

Senin, 22 Januari 2018 | 15:00 WIB

Dibaca: 0 kali

Pernah direpotkan dengan kejadian dimana Anda lupa meletakkan sebuah barang?

Banyak orang mengatakan bahwa penurunan daya ingat ini sebagai gejala awal dari demensia.

Apakah hal ini benar?

Menjadi pelupa merupakan suatu hal yang wajar dalam pertambahan usia.

Namun sebagian orang lebih mudah lupa daripada orang lain, meskipun usianya masih tergolong muda.

Kondisi ini kemungkinan pertanda dari gangguan kognitif ringan atau yang lebih dikenal dengan mild cognitive impairment .

Tidak dimungkiri, demensia memang dapat diawali dengan sering lupa.

Tapi tenang, Anda tidak perlu panik. Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan, saat Anda mengalami masalah memori yang sama secara berulang-ulang, hal ini tidak selalu dikaitkan sebagai tanda awal demensia.

Untuk membuktikan itu, Marie Eckerström, seorang mahasiswa doktoral di Institute of Neuroscience and Physiology, Swedia, meneliti  orang dewasa yang mengalami masalah dengan daya ingat.

Penelitian yang dilakukan selama empat tahun tersebut mendapatkan hasil bahwa sembilan dari sepuluh peserta memiliki nilai tes yang baik dalam ujian memori.

Ini karena mereka tidak mengalami perubahan kimia atau fisik di otak, yang berkaitan dengan tahap awal demensia.

Studi tersebut mengungkapkan, tujuh dari sepuluh peserta dalam penelitian mengalami stres, kelelahan kronis, atau depresi.

Menurut Professor of Psychology and Neuroscience di Muhlenberg College, Gretchen Gotthard, saat Anda sedang mengalami stres, tubuh akan meresponsnya dengan fight-or-flight.

Artinya, seseorang yang mengalami stres akan kesulitan untuk berpikir jernih akibat pengaruh hormon kortisol. Alhasil, mereka akan cenderung lupa terhadap suatu hal yang bahkan baru dilakukannya.

“Stres kronis dapat menyebabkan kerusakan pada struktur memori utama di otak, seperti hippocampus,” kata Gotthard.

Nah, itulah penjelasan mengapa sering lupa tak selalu berhubungan dengan demensia. Meski demikian, bukan berarti kondisi ini bisa Anda anggap sepele. Karena sejatinya, sering lupa dapat menganggu aktivitas bahkan menurunkan kualitas hidup Anda.

Gangguan kognitif ringan adalah penurunan fungsi kognitif yang ditemukan pada seseorang, yang kondisinya lebih serius untuk individu seusianya.

Kondisi ini berkaitan dengan sel saraf otak sebagai organ yang berperan dalam mengingat dan berpikir, ataupun riwayat pengobatan yang mempengaruhi aliran darah menuju otak.

Karena masih tergolong ringan, gangguan kognitif ini tidak terlalu berpengaruh terhadap aktivitas atau kehidupan penderitanya.

Gejala gangguan kognitif ringan yang paling sering muncul di antaranya sering melupakan benda pribadi, melupakan janji atau jadwal yang bukan rutinitas, serta kesulitan mengingat nama seseorang. Beberapa hal tersebut termasuk gejala dari gangguan kognitif ringan amnestik.

Selain itu gangguan kognitif juga dapat bersifat nonamnestik yang mempengaruhi kemampuan berpikir.

Sehingga seseorang yang mengalaminya sering mengalami kesulitan untuk mengatur hal, membuat perencanaan, atau memberikan penilaian.

Baik gangguan ingatan ataupun gangguan berpikir dapat terjadi secara bersamaan pada orang yang sama.

Karena memiliki gejala yang tidak spesifik seperti mudah lupa, maka penegakan diagnosis dari gangguan kognitif ringan cukup kompleks.

Pemeriksaan untuk memastikan gangguan ini meliputi riwayat pengobatan, riwayat dementia pada keluarga, status kesehatan mental, serta memeriksakan kondisi kejiwaan untuk menghilangkan dugaan gangguan kesehatan mental dengan gejala serupa sepeti skizofrenia, depresi, atau gangguan bipolar.

Penyebab gangguan kognitif ringan diduga karena adanya kerusakan pada bagian otak yang serupa pada penderita dementia.

Gangguan kognitif ringan tidak termasuk dari gejala demensia karena dampaknya yang tidak cukup serius dan penderita masih bisa beraktivitas sendiri.

Meskipun demikian, gangguan ini dianggap sebagai gejala awal dari demensia dan dapat berkembang menjadi Alzheimer yang merupakan salah satu gejala dari dementia.

Namun, hanya 10-15% penderita gangguan kognitif ringan yang berakhir dengan dementia. Dalam beberapa kasus, kerusakan pada otak juga dapat diperbaiki dengan perubahan gaya hidup. Selain itu, gejala gangguan kognitif ringan seperti mudah lupa dan mengalami kesulitan berpikir dapat dipicu oleh faktor stress.

Faktor paling penting dari perkembangan gangguan kognitif ringan menjadi demensia adalah usia.

Ditambah lagi jika terdapat faktor riwayat penyakit kardiovaskuler, obesitas, dan diabetes yang meningkatkan risiko dementia.

Kerusakan akibat peningkatan kadar protein amyloid pada sirkulisasi cairan otak juga merupakan faktor penting, namun akan sulit untuk dikenali dan memberikan jawaban pasti apakah gangguan kognitif ringan tersebut dapat berkembang menjadi dementia.

Perubahan gaya hidup merupakan upaya yang dapat mencegah sekaligus menghambat perkembangan dari gangguan kognitif ringan.

Hal ini dikarenakan kerusakan otak dapat dimulai saat seseorang mengalami obesitas, atau saat terjadi gangguan pada jantung pada pembuluh darah yang menghambat suplai darah dengan oksigen otak.

Upaya menjaga kesehatan fisik dalam pencegahan penurunan kognitif dapat dilakukan dengan cara rutin beraktivitas fisik

Selain menjaga kesehatan fisik, penderita gangguan kognitif ringan juga disarankan mengikuti kegiatan yang menstimulasi kemampuan kognitif, seperti aktif dalam kegiatan sosial, menyelesaikan puzzle, dan membaca.

Namun hingga saat ini, penurunan kemampuan kognitif otak dan dementia tidak dapat ditangani dengan konsumsi obat.

Kombinasi dalam menjaga kesehatan mental dan fisik dapat memperbaiki kemampuan kognitif dan mencegahnya untuk berkembang menjadi dementia.

Komentar