Lansia Lebih Sering Tidur di Siang Hari

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 3 Januari 2018 | 09:54 WIB

Dibaca: 0 kali

Pada orang lanjut usia (lansia), terjadi perubahan pada pola tidurnya. Ada beberapa yang mengeluh mengalami kesulitan untuk tidur. Ada pula yang menjadi lebih sering tertidur pada siang hari.

Kesulitan tidur bisa disebabkan oleh penyakit. Apa penyebab lansia sering tidur siang?

Seiring bertambahnya usia, kualitas tidur pada lansia memang menjadi berkurang. Mereka akan sering bangun di tengah malam, sulit untuk terlelap, atau bangun lebih awal.

Tentu hal ini menyebabkan waktu tidur mereka berkurang.

Walaupun normal terjadi, mereka tetap membutuhkan waktu lebih banyak untuk tidur.

Karena itu, lansia biasanya sering tidur beberapa sesi pendek dalam sehari, biasanya tidur siang hari, sehingga memberikan kesan bahwa mereka terlihat tidur sepanjang hari.

Dilansir dari Aging Care, semakin dewasa, durasi tidur pada seseorang akan berkurang. Pada bayi dan anak-anak, mereka membutuhkan sekitar sepuluh jam sampai empat belas jam untuk tidur per hari.

Sedangkan untuk remaja dan orang dewasa mereka membutuhkan sekitar 7 sampai 9 jam untuk tidur per hari.

Kemudian, untuk seseorang di atas tiga puluh tahun, mereka lebih sedikit waktu untuk tidur biasanya 6 jam untuk tidur per hari. Lama atau tidaknya durasi tidur pada lansia dapat dipertimbangkan melalui faktor-faktor seperti:

Tingkat energi dan daya tahan tubuh pada lansia berkurang. Bila lansia melakukan suatu aktivitas, bisa saja membuatnya kelelahan dan membutuhkan waktu istirahat, seperti tidur. Hal tersebut normal terjadi karena adanya aktivitas.

Namun, bila tidur terjadi secara berlebihan tanpa adanya aktivitas, maka ada penyebab lain.

Faktor-faktor itu  dapat menyebabkan tidur siang menjadi berlebihan. Penggunaan obat-obatan dari penyakit dan gangguan mental seperti di atas juga bisa menjadi penyebabnya. Untuk mengatasi hal demikian, konsultasikan kesehatan Anda kepada dokter merupakan langkah terbaik.

Biasanya dokter akan meninjau kembali obat yang dikonsumsi dengan penyesuaian kondisi tubuh dan waktu tidurnya.

Sedangkan untuk menangani kebosanan biasanya dokter akan memberikan saran kegiatan apa yang bisa dilakukan lansia supaya menghilangkan rasa bosannya.

Tidak ada cara pasti untuk memastikan berlebihannya waktu tidur pada lansia. Kebutuhan tidurnya berbeda, ada yang tujuhjam ada pula yang hampir sepuluh jam Lansia yang aktif dan sehat secara mental biasanya memiliki kuantitas tidur yang normal.

Perhatikan apabila selain kebanyakan tidur, ada gejala-gejala lain yang menyertai. Misalnya tidak mau makan, berat badan menurun drastis, atau sering mengalami sakit kepala.

Selain itu ada pula sekitar lima puluh persen orang lansia mengeluh kesulitan untuk tidur.

Hal ini dianggap normal seiring dengan bertambahnya usia sehingga kemampuan untuk tidur nyenyak pun ikut menurun.

Namun, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan lansia susah tidur, yaitu adanya penyakit dan pengaruh terhadap penggunaan obat-obatan tertentu. Apa sajakah gangguan tidur lansia? Simak ulasannya berikut ini.

Dilansir dari Psychiatric Times, lansia yang mengeluhkan kesulitan tidur biasanya menghabiskan waktu lebih lama untuk tertidur, lebih banyak menggerakkan badan ketika tidur, kemudian sering terbangun pada malam hari, dan akhirnya bangun lebih awal.

Hal ini tentu membuat waktu tidur mereka tidak terpenuhi sebab kebutuhan tidur lansia tetap sama dengan orang dewasa.

Masalah lansia kurang tidur diperkirakan bisa melipatgandakan risiko terjadinya kematian.

Penyakit ini menyebabkan penderitanya kesulitan untuk tidur, bahkan bisa terjaga hingga pagi hari. Insomnia sering dikaitkan dengan depresi.

Untuk mengobati insomnia, tidak hanya dengan mengonsumsi obat-obatan sesuai saran dan rekomendasi dari dokter, tetapi juga harus mengikuti terapi perilaku kognitif.

Penggunaan obat juga harus diawasi dan digunakan dalam jangka pendek. Sebab obat-obatan pasti memiliki risiko apalagi bila dikonsumsi oleh lansia.

Gangguan serius pada pernapasan ini terjadi saat tidur, yaitu saluran udara menjadi tersumbat karena dinding tenggorokan yang mengendur dan menyempit.

Dilansir dari NCBI, sleep apnea bisa dikurangi dengan menghindari perilaku atau kebiasaan yang menjadi penyebabnya, seperti mengonsumsi alkohol, merokok, dan penggunaan obat penenang atau obat tidur.

Bila tidak ada perubahan maka pasien akan diberikan alat yang membantu udara masuk selama pernapasan, seperti Continuous Positive Airway Pressure.

Sensasi tidak nyaman, seperti rasa panas dan sakit pada kaki sehingga mendorongan untuk menggerak-gerakkan kaki pada malam hari atau ketika tidur merupakan gejala yang muncul pada restless legs syndrome.

Ritme sirkadian adalah istilah lain untuk jam biologis dalam tubuh yang mengatur aktivitas gelombang otak, produksi hormon, regenerasi sel, dan aktivitas biologis, termasuk untuk siklus tidur dan bangun manusia.

Seiring bertambahnya usia, ritme sirkadian ikut melemah.

Akibatnya, gangguan ini dapat meningkatkan frekuensi terbangun di malam hari dan munculnya rasa kantuk ekstrem di siang hari.

Untuk mengobati gangguan ini, biasanya dilakukan terapi cahaya untuk memperbaiki ritme sirkadian pada lansia.

REM behavior disorder adalah gangguan tidur lansia yang menunjukkan adanya aktivitas motorik refleks selama tidur, seperti memukul, menendang, berteriak, bahkan melompat dari tempat tidur sebagai respons terhadap mimpi yang mereka rasakan.

Bahkan pada beberapa kasus, gangguan tidur ini dapat melukai pasien dan orang yang berada di sekitarnya ketika tidur.

Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan terapi dan mengonsumsi beberapa obat seperti clonazepam dan benzodiazepin. Obat-obatan tersebut dapat menekan atau mengurangi gerakan selama tidur.

Komentar