Krisis Paruh Baya? Anda Mengalaminya!

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 15 Januari 2016 | 09:01 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda pernah mendengar krisis paruh baya?

Ya istilah yang sering ditujukan untuk lelaki empat puluhan atau wanita yang sedang menuju menopause.
Lantas apa yang terjadi dengan lelaki dan wanita ini.

Saat seseorang memasuki usia paruh baya, atau memasuki rentang umur empat puluhan, kerap terjadi kegalauan.

Wajar saja, di rentang usia tersebut, istilah ‘muda’ sudah tak lagi relevan.

Di usia empat puluhan, seseorang biasanya sudah menikah, punya anak berusia remaja, bahkan menjelang dewasa. Kehidupan mereka mapan.

Tapi, di sisi lain, mereka juga berkutat dengan krisis paruh baya.

Mereka khawatir digantikan pekerja yang lebih muda, cemas dengan kulit yang tak lagi kencang, tubuh yang tak lagi singset, atau rambut yang menipis.

Imbasnya, banyak orang di usia tersebut yang tiba-tiba melakukan hal ekstrem, seperti berolahraga keras atau mencoba hobi baru yang selama ini tak pernah dilirik. Ada juga yang tiba-tiba ‘genit’, sehingga muncul istilah ‘puber kedua’.

Tapi, sebuah penelitian baru yang dilakukan di University of Alberta, Kanada, menyebut bahwa krisis paruh baya hanyalah mitos yang dikompori sejak muda.

“Krisis paruh baya sekarang menjadi fenomena yang diterima umum di dunia,” kata Harvey Krahn, kepala peneliti, seperti dilansir Daily Mail.

Tertarik dengan fenomena tersebut, Krahn melakukan penelitian untuk membuktikan adanya ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan saat seseorang memasuki usia paruh baya.

Hasilnya, studi yang dilakukan Krahn menyimpulkan bahwa krisis paruh baya, hanyalah mitos belaka.

“Selama lima puluh tahun lebih, kita percaya bahwa kurva kebahagiaan berbentuk seperti huruf U dengan level bahagia terendah di usia paruh baya. Tapi penelitian kami menemukan sebaliknya,” ujar Krahn.

Dia menemukan bahwa bahagia tidak berkurang dan berhenti di usia 40an ke atas, melainkan terus bertambah dari saat remaja hingga mencapai usia senja.

Studi yang dilakukan Krahn juga diklaim lebih valid karena menggunakan metoda longitudinal, alih-alih lintas faktor.

“Dalam penelitian ini, kebahagiaan seseorang diukur seiring berjalannya waktu. Dengan begitu, tingkat kebahagiaan terus terukur saat usia seseorang bertambah,” jelas Krahn.

Para peneliti mengikuti dua kelompok besar, yakni kelompok asal salah satu sekolah menengah di Kanada dan kelompok dari salah satu universitas.

Kedua kelompok tersebut menunjukkan kebahagiaan tertinggi berada di usia tiga puluhan dan hanya sedikit menurun saat memasuki usia empat puluhan.

Penelitian itu juga melibatkan berbagai kejadian besar dalam hidup para partisipan, seperti putus-sambung hubungan asmara, pekerjaan, serta hubungan dengan keluarga.

“Kami menemukan orang-orang merasa lebih puas dan bahagia setelah mereka menikah, atau punya kondisi fisik yang prima, sementara mereka paling tidak bahagia saat tidak punya pekerjaan. Semua itu, tidak berkaitan dengan usia,” tutur Krahn.

Studi tersebut dipublikasikan di jurnal Developmental Psychology

Mitos yang beredar di masyarakat, laki-laki wajar mengalami pubertas kedua di usia paruh baya.

Konon, di usia tersebut laki-laki suka mencari kesenangan baru, termasuk istri muda atau wanita idaman lain.

Jika orang berpikir laki-laki semacam itu memiliki kemampuan seksual yang luar biasa, itu tidak benar sama sekali.

Sebaliknya, hal itu menandakan kesehatan seksual mereka yang menurun.

Dia tidak mengakui kalau kesehatan seksualnya menurun maka dia cari partner baru, karena merasa partner baru pasti rangsangannya lebih tinggi

Sayangnya, meskipun pasangan baru memberikan rangsangan lebih tinggi, rangsangan itu tidak akan bertahan lama, dan akhirnya si lelaki akan akan kembali mencari pasangan lain.

Padahal sebaliknya, berganti-berganti pasangan intim menandakan lelaki tersebut mencari rangsangan baru karena dia tidak mengetahui adanya gangguan kesehatan.

“Yang baik adalah ketika dia dengan pasangan yang tetap, dan tidak ada masalah.”

Kurangnya testosteron pada laki-laki bisa disebabkan oleh dua faktor, primer hipogonadisme dan sekunder hipogonadisme.

Testis merupakan ‘pabrik’ testosteron dan sperma. Kurangnya testosteron hipogonadisme) bisa terjadi karena testis yang rusak.

“Testosteronnya cukup tapi pabriknya) enggak mau membuat, dalam dunia kedokteran ini disebut primer hipogonadisme.”

Kondisi berikutnya adalah ketika testis berfungsi dengan baik tapi testosteron yang dihasilkan tidak cukup.

Mungkin karena gaya hidup, pekerjaan yang tidak jelas, kondisi ini disebut sebagai sekunder hipogonadisme atau kurangnya testosteron karena pengaruh yang lain.

Gambaran orang-orang yang menderita hipogonadisme adalah berperut buncit, lekas lelah, mudah mengantuk, disfungsi ereksi, itu adalah sindrom keluhan hipogonadisme.

Komentar