Kopi, Asam Lambung dan Mitos

Penulis: Darmansyah

Kamis, 30 April 2015 | 11:17 WIB

Dibaca: 0 kali

Kopi, asam lambung dan mitos adalah sebuah campur aduknya persepsi tentang kafein yang terdapat di dalam coffe. Berbagai pendapat dari penelitian yang berbeda telah menempatkan tiga kata itu sebagai kenikmatan, bahaya dan kepercyaaan semu.

Banyak orang berpendapat, perut terasa sakit usai minum secangkir kopi itu karena bahan minuman ini memiliki zat asam.

Benarkah?

“Sebetulnya, yang bikin sakit lambung usai minum kopi bukan karena asamnya kopi. Kalau kita melihat dari sisi asam, tingkat keasaman kopi cuma kecil. Sebanarnya ti minum kopi aman saja.”

Sebenarnya, setiap orang memiliki kemampuan berbeda-beda dalam mencerna kafein.

Bentuk murni kafein itu sendiri adalah racun yang sangat kuat, maka ketika masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh melindungi dirinya.

Perut terasa sakit setelah mengonsumsi kopi sekaligus penanda kalau kadar kafein di dalam tubuh sudah cukup.

Bagi mereka yang memiliki masalah pencernaan usai minum segelas kopi, disarankan mengganti kopi robusta ke arabika. Sebab, kadar kafein robusta dua kali lipat dari torabika.

Konsumsi kafein dalam jumlah normal bersifat menguntungkan karena dapat mencegah kantuk, menaikkan daya tangkap pancaindera, mempercepat daya pikir, serta mengurangi rasa bosan.

Meskipun kopi memang bisa mencegah kantuk, mengonsumsinya secara berlebihan juga tidak baik. Terlalu banyak kafein bisa memengaruhi secara negatif mood, energi, bahkan kesehatan Anda.

“Beberapa riset bahkan mengaitkan dosis kopi yang tinggi dengan infertilitas, dan meningkatnya risiko patah tulang pinggul pada wanita tua,” ujar Keri M Gans, MS, RD, CDN, penulis buku The Small Change Diet.
Anda yang biasa mengonsumsi kafein dalam jumlah banyak lalu tiba-tiba menghentikannya akan mudah marah, lelah, sakit kepala, bahkan depresi.

Oleh karena itu, American Dietetic Association menyarankan untuk tidak mengonsumsi kafein lebih dari tiga ratus miligramsehari.

Setiap hari Anda harus mengandalkan kopi agar bisa bertahan sampai sore tanpa mengantuk. Pada sebagian orang, yang dibutuhkan mungkin kafein dalam bentuk lain, minuman kola misalnya.

Menurut David J Clayton, MD, penulis buku The Healthy Guide to Unhealthy Living, kadar kafein dalam sekaleng minuman kola bisa sama banyaknya dengan secangkir espresso.

Selain dapat memicu penurunan energi, kandungan asam pada minuman bersoda bisa merusak enamel gigi jika diminum setiap hari. Batasi minuman soda hingga sekaleng saja sehari, lalu gosoklah gigi untuk membantu mengurangi efek erosi pada enamel gigi.

Warna kuning gelap atau oranye pada urine merupakan tanda dehidrasi. “Kopi bersifat diuretik yang bisa menyebabkan dehidrasi karena peningkatan jumlah urine, mengakibatkan Anda kehilangan banyak cairan tubuh,” kata Amy Gross, MPH, RD, CDN, pakar diet klinis di New York Presbyterian Hospital.

Namun, sebenarnya Anda tidak akan mengalami dehidrasi hanya dengan mengonsumsi kafein. Baru ketika jumlahnya mencapai 500 mg, Anda akan terkena dehidrasi.

“Kafein membutuhkan sekitar empat puluh lima menit hingga satu jam untuk diserap dan bertahan lama.
Artinya, ia bisa tetap ada di tubuh selama beberapa jam dan akhirnya memengaruhi siklus tidur Anda,” ujar Molly Morgan, RD, pemilik Creative Nutrition Solutions di Vestal, New York, dan penulis buku The Skinny Rules.

Jika Anda butuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk terlelap pada malam hari, coba hindari mengonsumsi kafein setelah pukul 12.00 untuk melihat apakah hal itu lebih mudah membuat Anda tertidur.

Bila benar, hindari juga sumber kafein lainnya, termasuk teh hijau dan kopi decaf. Kopi decaf masih menyimpan sekitar sepertiga jumlah kafein, lho!

Pengaruh kafein pada sebagian orang memang berbeda-beda. Ada yang telapak tangannya berkeringat, jantung berdebar, sulit tidur, dan gelisah. Kafein bisa memperburuk stres dan depresi karena mengacaukan senyawa kimia di otak yang disebut adenosine.

Selain itu, kafein juga bertindak sebagai stimulan yang memicu kelenjar adrenal untuk melepaskan lebih banyak hormon stres seperti adrenalin yang dapat meningkatkan detak jantung dan membuat Anda makin gelisah.

Anda tahu ketika isi perut rasanya naik kembali ke kerongkongan? Hal ini terjadi ketika otot pada bagian akhir esofagus membuat makanan dan asam lambung naik sehingga ada rasa terbakar di bawah dada.

Bila hal ini terjadi pada Anda, kemungkinan penyebabnya adalah kelebihan kafein. Kafein melepaskan otot di bagian akhir esofagus tersebut yang membuat asam lambung naik. Coba hentikan dulu minum kopi untuk melihat apakah rasa tak nyaman tersebut mereda

dari berbagai sumber

Komentar