Komunikasi dan Cinta Utuhkan Pasangan

Penulis:: Darmansyah

Sabtu, 27 Februari 2016 | 10:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda memiliki hubungan komunikasi yang bagus dan rutin bercinta dengan pasangan?

Nah, menurut hasil studi terbaru para ilmuwan, seperti ditulis “The Journal of Sex Research,” Sabtu, 27 Februari 2016, dipastikan akan merasa puas terhadap kehidupan yang dijalani

Penelitian yang akan dipublikasikan secara luas itu mengukur tingkat kepuasan seks dan juga kebahagiaan seseorang terhadap kehidupannya dengan istri atau pasangan.

Laman situs “Independent,” yang juga mengutip hasil penelitian itu, menulis kepuasan seks diukur dalam skala satu sampai tujuh, yang diartikan sama dengan masa enam bulan pertama dari sebuah hubungan.

The Wall Street Journal sempat melaporkan bahwa mayoritas, dari mereka yang memiliki komunikasi baik dan rutin berhubungan dari para pasangan mengaku puas selama kurun waktu enam bulan pertama.

Namun persentase itu turun hingga setengahnya, saat ditanya tentang kehidupan seksualnya saat ini.

“Sebanyak delapan puluhpersen responden pria dan lebih dari delapan puluh persen lainnya wanita yang menyatakan puas dengan kehidupan seksnya, mengaku melakukan hubungan seksual minimal satu kali setiap minggunya,” tulis laporan tersebut.

Asisten Profesor Kesehatan Psikologi, Universitas Chapman, David Frederick menilai, untuk menentukan mana yang lebih utama di antara kepuasan seksual dengan frekuensi hubungan seks, sama saja dengan membahas siapa yang lebih dulu antara ayam dan telur.

Dalam penelitian itu, ada beberapa hal menarik lainnya yang ditemukan saat mengukur faktor kepuasan wanita dan pria.

Pada penelitian tersebut, kemungkinan tertinggi dari faktor yang dapat membuat kaum wanita puas dengan hubungan adalah seberapa sering mereka orgasme, bagaimana pasangannya dapat mengatur suasana hati mereka dan juga cara berkomunikasi.

Sedangkan untuk kaum pria, yang utama adalah bagaimana pasangan menciptakan suasana hati mereka, variasi dalam bercinta, dan yang terakhir adalah komunikasi.

Dengan penelitian itu, Sosiolog dan Pakar Percintaan Profesor Jacqui Gabb menilai komunikasi sebagai faktor penting yang harus dijaga dalam sebuah hubungan.

Kepada Independent, Gabb juga mengungkapkan bahwa komunikasi verbal dan non-verbal adalah esensi utama untuk membuat sebuah hubungan percintaan bertahan lama.

Penampilan biasanya menjadi hal pertama yang membuat seseorang tertarik dengan orang lain, lalu akhirnya jatuh cinta.

api penelitian baru dari University of Texas menemukan bahwa hal itu akan berubah seiring berjalannya waktu.

Peneliti bernama Paul Eastwick dan Lucy L. Hunt mengatakan hal tersebut akan berubah ketika satu sama lain mencoba mengenal jauh lebih dalam sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.

Eastwick dan Hunt melakukan penelitian terhadap ratusan mahasiswa.

Pada awal semester mereka menanyakan siapa yang dinilai paling menarik.

Mereka juga bertanya apakah mereka ingin kencan dengan orang yang menurut mereka paling menarik.

Saat itu, banyak yang memiliki pilihan yang kembar karena sama-sama menyukai orang yang berpenampilan menarik. Tapi ternyata, pada akhir semester, jawaban mereka berubah.

Setelah kenal satu sama lain, mereka memiliki pandangan yang lebih unik, yakni tak hanya menilai dari penampilan, tapi juga dari perilaku orang tersebut.

Mereka juga mempertimbangkan keramahan, potensi kesuksesan, bahkan sampai menilai kemampuan untuk menjalin hubungan yang lebih romantis.

“Meskipun kita tidak pernah mempertimbangkan teman atau kenalan untuk dijadikan kekasih, bagi sebagian orang, itu hanya soal waktu saja,” kata Eastwick dikutip dari Medical Daily

Memutuskan hubungan dengan seseorang kerap dianggap sebagai salah satu bentuk menyakiti hati orang lain.

Banyak yang tidak menyadari bahwa meminta pasangan untuk menyudahi hubungan sebagai bentuk dari kejujuran.

Bagi mereka yang menyebut putus hubungan sebagai hal yang menyakiti, biasanya akan mengulur waktu untuk bersikap jujur. Kenyataannya, mengulur waktu malah membuat sebuah hubungan akan disudahi dengan lebih menyakitkan.

Padahal, ada beberapa cara untuk membuat putusnya hubungan sebagai keputusan yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Bahkan, putus dapat juga malah saling menguatkan masing-masing pihak.

Meski tidak pernah ada cara yang gampang untuk menyelesaikan hubungan dengan seseorang, namun ada beberapa cara yang dapat dicoba untuk membuat hubungan Anda diakhiri dengan lebih mudah.

Ketika itu menyangkut sebuah hubungan dan bagaimana hal itu berakhir, penulis Scott Neustadter dan Michael H. Weber sepertinya sudah memahami bahwa banyak orang yang berpikir terlalu jauh mengenai bagaimana sebuah hubungan berakhir.

Duo penulis itu dikenal dengan karya mereka dalam cerita film 500 Days of Summer, yang dirilis pada tujuh tahun silam.

Sebuah film drama komedi yang berusaha jujur menampilkan sisi nyata dari romantisme dan bukan menjual bagian klisenya.

Neustadter mengaku, naskah film itu tadinya dibuat sebagai bentuk terapi untuk dirinya sendiri, karena terlibat dalam sebuah hubungan dramatis yang tak berhasil dilakoninya.

“Saya tidak melihat bahwa dia tak tertarik untuk meneruskan hubungan. Saya tidak bisa memahami hal itu,” ujarnya seperti dikutip dari Time.

Weber menimpali, film yang diperankan oleh Joseph Gordon Levitt sebagai Tom dan Zooey Deschanel sebagai Summer itu, dibuat dengan satu perspektif yang akan mengantarkan penonton dengan satu tujan.

“Kita semua tahu bahwa putus hubungan menimbulkan cerita yang berbeda dari masing-masing pihak,” katanya.

Untuk menampilkan penghakiman dari salah satu sisi cerita, Neustadter dan Weber pun akhirnya memilih untuk tidak menunjukkan perspektif dari karakter Summer.

Hal itu dilakukan karena menurutnya, banyak orang yang mencari siapa yang bersalah pada saat sebuah hubungan selesai.

“Anda akan selalu merasa lebih menghargai orang yang diputuskan dari pada orang yang meminta untuk putus.”

“ Padahal kebanyakan, jika salah satu pihak mengajukan putus, hal itu dilakukan karena merasa pihak lain tidak dapat melakukanny,” ujar Neustadter.

Pakar Psikologi Klinis di Los Angeles, Jessica Zucker, mengatakan Bersikap jujur kepada diri Anda dalam sebelum meminta putus bukanlah murni keegoisan salah satu pihak.

“Anda akan ingin melihat ke belakang dan merasa kuat karena terlah mampu menjaga diri sendiri.,” ujarnya.

Menghidari kejujuran hanya akan membuat segalanya menjadi parah. Terlebih menyangkal adanya masalah.

Hal itu tidak akan membuat masalah lantas pergi. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa menghindari sumber stress – seperti putus dengan kekasih, akan membebani diri Anda lebih berat lagi.

Sesingkat apapun sebuah hubungan, kesulitan untuk mengakhiri tetaplah sama. Era digital pun membuat tanda dibina atau disudahinya sebuah hubungan pun tidak lagi sama.

Penolakan ajakan kencan pun sering kali dianggap sebagai pertanda putusnya sebuah hubungan.

Perhatian seseorang, ajakan untuk pergi ke bioskop dan makan malam bersama, meletakan tangan di bahu, seringkali dianggap sebagai pertanda ajakan untuk memulainya sebuah hubungan.

Namun, salah satu pihak ternyata menyatakan hanya melakukan hal itu sebagai tanda hubungan pertemanan.
Momen seperti itu jelas menyakitkan.

Tapi yang harus disadari, setelah Anda mendengar pernyataan itu, maka tidak akan ada lagi rasa penasaran yang menggayut di kepala Anda pada keesokan harinya.

Komentar