TekoKopi - Promo HARBOLNAS

Kini Ada “Obat” untuk “Penyakit” DE

Penulis:: Darmansyah

Senin, 27 Maret 2017 | 14:44 WIB

Dibaca: 2 kali

Laman situs “independent,” hari ini, Senin, 27 Maret, memberi kabar gembira bagi mereka yang mengalami disfungsi ereksi, atau dikenal dengan sebutan DE, bahwa “penyakit itu bisa di”sembuh”kan lewat penanaman sel punca.

“Terobosan riset sel punca atau dikenal dengan sebuatn ilmiah stem cell akan  memberikan harapan bagi pria DE,” tulis “independen” mengutip rilis dari  European Association of Urology.

Berkat terobosan itu, mereka yang menderita DE setelah operasi prostat berkesempatan menikmati hubungan seks normal lagi.

Dalam percobaan klinis awal, delapan dari lima belas pria yang tak bisa menahan buang air kecil dan mengalami DE mampu berhubungan seks, enam bulan setelah menjalani terapi stem cell satu kali.

“Semua pria yang terlibat sudah mengonsumsi pil atau pun alat untuk membantu mereka bisa ereksi sebelumnya,” kata pemimpin penelitian, Dr Lars Lund.

“Lima puluh tiga persen pria tetap memiliki kemampuan berhubungan seks setelah satu tahun tanpa menggunakan obat, implan atau pun alat-alat lain.

Ini sangat menjanjikan,” tambah profesor dari Odense University Hospital di Denmark itu.

Operasi prostat bertanggung jawab menyebabkan sampai tiga belas persen kasus disfungsi ereksi.

Peneliti menghilangkan sel-sel lemak dari perut pasien lewat sedot lemak.

Mereka menjalani terapi singkat yang berubah menjadi stem cell multitujuan.

Artinya, sel-sel itu mampu bermutasi hampir menjadi sel apa saja di tubuh.

Lund mengatakan studi ini merupakan pertama yang menginjeksi stem cell langsung ke penis memakai penyuntik.

Di situ stem cell berubah menjadi sel-sel saraf dan otot juga sel endotelial yang melapisi pembuluh darah.

Para pria itu diberi bius saat menjalani prosedur itu dan keluar dari rumah sakit di hari sama.

Langkah penelitian selanjutnya adalah melaksankan percobaan terkontrol acak terhadap terapi itu.

Peserta akan diberi secara acak satu dari beberapa intervensi klinis bersama dengan grup kontrol di mana para peserta akan diberi plasebo alias terapi tanpa khasiat.

Riset ini masih di tahap awal. Hasilnya sejauh ini sudah menjanjikan.

Ketidakmampuan ereksi, menurut hasil riset itu,  bukan cuma disebabkan karena tidak adanya libido

Gangguan penyakit sampai masalah psikologis dengan pasangan bisa membuat penis menjadi tak bertenaga.

Seseorang disebut menderita DE jika ia tidak mampu melakukan ereksi selama lebih kurang tiga bulan.

Ketidakmampuan ini berjalan terus-menerus, bukan selang-seling terkadang bisa terkadang tidak. Kondisi itu juga tetap berlangsung meski dengan partner yang berbeda

Secara umum ada dua penyebab utama disfungsi ereksi, yakni faktor psikogenik dan organik.

Faktor psikogenik adalah semua hal yang berkaitan kondisi kejiwaan.

Penyebabnya bisa karena komunikasi yang kurang baik dengan pasangan. Penyebab lain adalah merasa tidak berdaya karena tidak mampu membuat pasangan orgasme.

Rasa rendah diri karena tidak berhasil menuntun pasangan mencapai orgasme ternyata bisa membuat seorang pria merasa stres, depresi, merasa bersalah, sampai takut akan keintiman.

Sementara itu, yang dimaksud dengan penyebab organik adalah gangguan penyakit.

Hampir dua pertiga disfungsi ereksi disebabkan karena faktor ini.

Selain diabetes yang tidak terkontrol, penyakit yang bisa menyebabkan impotensi adalah Kolesterol tinggi, hipertensi, atau memiliki riwayat kecanduan.

Penyakit-penyakit tersebut dapat merusak saraf dan pembuluh darah sehingga aliran darah ke organ penis yang diperlukan untuk terjadinya ereksi menjadi terhambat.

Ada beberapa gejala yang menyertai penyebab organik, yakni hilangnya minat pada aktivitas sosial, ukuran testis yang mengecil, serta penurunan pada penanda seksual sekunder, misalnya melemahnya kekuatan otot.

Mengenali penyebab-penyebab disfungsi ereksi bisa membantu memilih terapi pengobatan yang paling tepat.

Pengobatan DE sendiri terdiri dari tiga lini, yang pertama adalah mengobati penyebabnya yang diikuti dengan melakukan perubahan gaya hidup dan mengonsumsi obat.

Misalnya dengan obat golongan PDE-5 inhibitor.

Jika pengobatan lini pertama tidak berhasil, pasien bisa melakukan terapi lini kedua berupa injeksi sildenafil ke badan penis serta injeksi sildenafil ke saluran kencing.

Sementara itu, pengobatan di lini terakhir adalah operasi atau terapi hormon yang diikuti dengan terapi seks.

Kunci keberhasilan pengobatan adalah menjaga pola hidup sehat, dengan asupan bernutrisi seimbang dan olahraga.

Kecuali karena kondisi genetik, disfungsi ereksi bisa diperbaiki dengan pola hidup sehat. Pola yang sama juga harus dijalani usai menjalani pengobatan.

Komentar