Keuntungan Kala Memilih Hidup Melajang

Penulis: Darmansyah

Senin, 24 September 2018 | 11:03 WIB

Dibaca: 1 kali

Hidup melajang bias menguntungkan?

Ya, itulah yang ditulis majalah “time” dalam edisi terbarunya.

Paling tidak, menburut tulisan “time” itu ada beberapa keuntungan yang didapat bila s

Status lajang sering dipandang sebagai kondisi yang tidak membahagiakan.

Bahkan, orang-orang yang melajang seringkali dipandang tidak bahagia oleh orang lain.

Setidaknya, hal itulah yang menjadi kesimpulan sebuah penelitian yang dipublikasikan di European Journal of Social Psychology pada sepuluh tahun lalu

Hidup mereka yang melajang dianggap belum lengkap ketika belum menemukan pasangan hidupnya.

Di sisi lain, sejumlah pakar lain menjelaskan, hidup sendirian dan bebas dari kehidupan romantis justru memiliki banyak keuntungan. Apa saja keuntungan tersebut?

Pakar hubungan Susan Winter mengatakan, sebuah hubungan cenderung “mahal” secara mental.

Mengelola keintiman dan kebersamaan, dua insan harus menyisihkan ruang dalam pikiran mereka.

Meski hal ini tidak secara sadar dirasakan, namun mereka yang memiliki pasangan cenderung punya kapasitas fokus individu yang lebih sedikit dibanding ketika mereka melajang.

Winter mencontohkan, waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengkhawatirkan pasangannya pada situasi tertentu atau merenungkan pertengkaran-pertengkaran kecil hingga besar.

Hal-hal itu dianggap sebagai “harga” dari sebuah hubungan percintaan. Stres semacam itu bisa menghalangi kebahagiaan seseorang. Sebaliknya, para lajang dianggap memiliki ruang lebih untuk berpikir, bernafas dan tumbuh. Mereka yang lajang juga lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan hidup.

Lebih berani terhadap risiko Status lajang membuat seseorang lebih terbuka menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk dalam hidup.

“Hampir seperti tak punya pilihan lain. Ketika kita melajang, kita harus lebih berkecukupan,” kata Psikolog dan Pakar hubungan dari New York, Dr. Niloo Dardashti.

Ketika melajang, seseorang tak dihalangi siapa pun untuk mengejar ambisinya. “Kita juga akan cenderung mau mengambil risiko dan petualangan terhadap hal-hal baru dalam perjalanan hidup,” ujar dia.

Waktu bersama diri sendiri “Banyak orang mengatakan, ketika memiliki pasangan, mereka tak lagi punya waktu untuk diri sendiri.”

“Hal itu karena kita berhenti melakukan banyak hal secara independen,” kata Dardashti.

Ketika memiliki pasangan, banyak orang berpotensi menjadi tak memiliki waktu untuk diri sendiri, karena mereka jarang sendirian.

Padahal, ketika kita seorang diri, kita punya banyak kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri.

Dardashti menambahkan, komplain utama banyak pasiennya adalah mereka tak punya waktu untuk menemukan sisi kreatif dari dirinya. Ketika melajang, ruang kreativitas itu cenderung lebih terbuka.

“Bisakah kita kreatif dan punya pasangan di satu waktu? Tentu bisa. Tapi rata-rata, sulit untuk menyeimbangkan keduanya,” ujar dia.

Mengejar keinginan dalam hidup Dr. Jenny Taitz, Psikolog klinik dan penulis “How to Be Single and Happy” memandang mereka yang lajang punya lebih banyak kesempatan untuk menemukan misi dalam hidupnya.

Hal itu dinilai sebagai poin kritis seseorang untuk menemukan apa yang dicari dalam hidup.

“Ketika melajang, kita cenderung punya waktu untuk mendalami nilai-nilai dalam hidup kita,” kata dia.

Momentum itulah yang digunakan untuk mengevaluasi dan merefleksikan hal-hal yang bisa dipelajari pada hubungan masa lalu. “Sikap apa yang mau dibangun?

Ketika melajang kita punya waktu untuk memikirkan itu dan fokus pada satu faktor konsisten yang akan membuat perubahan dalam diri kita,” ujar Winter.

Bisa jadi skenario terbaik Memiliki pasangan tidak selalu jadi pilihan terbaik. Dr. Taitz mencontohkan, jika ada tiga pilihan mana yang akan kita pilih?

Opsi pertama adalah bahagia sebagai lajang. Opsi kedua adalah berada dalam satu hubungan yang tidak bahagia.

Sementara opsi lainnya adalah tidak bahagia sebagai lajang. “Melajang dan bahagia nampak seperti pilihan terbaik bagi seseorang yang mencari cinta namun tak mendapatkannya,” ujarnya.

Untuk menjadi seorang lajang yang berbahagia, Dr. Taitz merekomendasikan kita untuk melatih kesadaran diri bahwa banyak kebahagiaan yang bisa diraih dengan menjalani kehidupan saat ini.

Melakukan hal ini juga akan memperkaya aspek hidup seseorang. Kita bisa menguatkan hubungan pertemanan kita dengan kerabat-kerabat terdekat, bisa memastikan hal-hal yang penting bagi diri kita dan mendesain hari-hari terbaik.

“Jika kita menghabiskan waktu lajang kita untuk merenungkan kapan akan menemukan pasangan atau mencaritahu apa yang salah dari diri kita, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mencari hal-hal terbaik dalam hidup,” kata Dr. Taitz.

Lebih bertanggungjawab secara finansial Melajang bisa membuat seseorang lebih independen dalam hal finansial.

Pakar hubungan dan penulis “He’s Just Not Your Andrea Syrtash mengatakan “dalil” ini.

Menurut dia, seseorang yang melajang dan tidak berbagi biaya bersama orang lain. Kondisi semacam itu akan cenderung memaksa diri sendiri untuk bisa mendapatkan uang, karena tidak bergantung pada siapa pun untuk hidup.

“Ini sangat baik untuk karir dan hidup kita,” kafa Syrtash.

Menjadikan diri sendiri prioritas Memiliki pasangan adalah hal yang menyenangkan. Kita bisa berbagi banyak hal dengan pasangan kita, baik susah maupun senang. Tentu, pasangan kita juga melakukan hal yang sama.

“Namun ketika melajang, kita diharuskan untuk fokus pada area dalam hidup kita yang membutuhkan perhatian,” kata Winter.

Area yang dimaksud mulai dari olahraga, sosialisasi dengan teman, ketertarikan pribadi, dan menghabiskan waktu sendiri.

“Ketika kita melajang, tidak ada gangguan yang bisa menjauhkan kita dari perawatan diri dan pengembangan diri,” ujar dia.

Belajar menikmati keadaan Melajang tak selalu berarti kesepian. Faktanya, para pakar mengatakan, kita bisa mendapatkan apresiasi ketika melajang.

Hal ini berarti kita bisa cenderung bisa menikmati apa yang terbaik dari diri kita. “Merasa puas dengan diri sendiri membebaskan kita dari keinginan untuk mengejar orang lain,” kata Winter.

Ketika kita belajar untuk menikmati masa lajang, kita akan lebih selektif untuk memilih orang-orang yang akan menghabiskan waktu bersama dengan kita. Dengan demikian, kita menjadi lebih mampu meningkatkan kualitas hidup kita.

Kepercayaan diri meroket Ketika memiliki pasangan, terkadang kira bergantung pada mereka lebih banyak daripada yang kita butuhkan.

Melajang membuat kita punya kesempatan untuk mengeluarkan kekuatan dari dalam diri yang bisa dianggap sebagai manifestasi kepercayaan diri level tinggi.

“Kesepian melahirkan refleksi diri dan refleksi diri melahirkan kepercayaan diri.” “Hal itu tak mungkin kita dapatkan ketika memiliki pasangan karena kita selalu memikirkan pasangan kita,” ujar Winter.

Syrtash menambahkan, hubungan yang terbaik terjadi jika setiap individu saling memahami kebutuhan dan nilai masing-masing. “Melajang membuat kita bisa fokus dengan hal-hal ini.

Memiliki kepercayaan diri dan kesadaran diri akan membuat kita memiliki hubungan yang baik.”

“Tidak hanya hubungan dalam konteks romantis, tapi semuanya,” kata Syrtash. PenulisNabilla Tashandra EditorGlori K. Wadrianto SumberTime Tag: bahagia finansial

Komentar