Ketika Viagra, Kini, Disaingi “Obat” Oles

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 1 Juni 2016 | 08:58 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda mengalami disfungsi ereksi atau gejala impotensi?

Nah, seperti ditulis dalam edisi terbarunya, “daily mail,” Rabu, 01 Juni 2016, tetap menyarankan untuk “mencoba” berkenalan dengan pil biru, Viagra.

“Daily mail,” mengungkapkan fakta bahwa pil biru itu  telah menyelamatkan kehidupan cinta para pria di seluruh dunia dalam dua puluh  tahun terakhir.

Seperti diungkapkan “daily mai,”  kepopuleran pil biru ini bisa saja akan berakhir dengan ditemukannya obat oles yang lebih praktis

Sejumlah ilmuwan telah mengembangkan obat pendongkrak libido yang bekerja lewat kulit, bukan obat telan.

Obat baru ini diklaim bekerja lebih cepat, tak seperti pil biru yang perlu waktu beberapa menit sampai satu jam sebelum memberikan hasil.

Bukan hanya itu, obat yang nantinya akan dipasarkan dalam bentuk seperti koyo ini, disebut-sebut memberikan efek tahan lama bagi penggunanya.

Konon kemampuannya mempertahankan ereksi sampai sepuluh jam.

Koyo tersebut bisa ditempelkan di lengan atas atau perut. Kelebihan lain dari obat ini adalah minim efek samping berupa sakit kepala atau migrain, seperti pada obat yang diminum.

Hasil pengujian terakhir menunjukkan, koyo ini mampu mengurangi sildenafil sitrat, zat aktif yang dipakai oleh Viagra, menjadi seukuran nanopartikel sehingga mudah meresap ke kulit dan masuk ke aliran darah.

Selama bertahun-tahun, para ahli terus berupaya mengembangkan obat antiimpotensi baru yang bisa masuk ke peredaran darah tanpa melalui perut. Tujuannya untuk mengurangi efek samping.

Obat antiimpotensi yang saat ini beredar, misalnya Cialis, juga memiliki efek samping walau bekerja lebih cepat dibanding Viagra.

Pada obat berbentuk koyo ini, digunakan metode pengantaran obat terbaru yang disebut transferome techonology, untuk membuat koyo berukuran kecil, sekitar satu centimeter

Setiap koyo dibuat dari film tipis yang mengandung partikel zat aktif obat.

Kemudian zat itu dilapisi oleh lapisan lemak tipis untuk membantu proses penyerapan di kulit. Penelitian pada tikus menunjukkan hasil yang diharapkan.

Meski begitu, kelemahan dari koyo ini adalah harganya yang lebih mahal dari pil oral.

Memang, sejak dahulu, para pria sudah mencoba berbagai cara untuk mengatasi gangguan sulit ereksi.

Berlainan dengan era  modern dimana orang lebih mengenal Viagra sebagai obat antiimpotensi, jauh sebelum itu ada banyak berbagai jenis pengobatan yang sudah dicoba.

Dalam pengobatan Tiongkok kuno, mereka sejak dulu sudah melakukan tusuk jarum untuk para pria yang penisnya susah ereksi.

Sementara itu di zaman Mesir kuno mereka percaya iblis menyebabkan impotensi dan cara mengobatinya adalah dengan menggosokkan bayi buaya ke organ intim pria.

Orang Yunani dan Roma kuno mengonsumsi ular, demikian pula dengan buah zakar atau torpedo kambing dan ayam jantan.

Walau belum ada jaminan pengobatan yang efektif untuk disfungsi ereksi, tapi masih ada harapan besar para ilmuwan akan menemukan obat yang ditunggu pria di seluruh dunia.

Disfungsi ereksi atau biasa disebut impotensi sering menjadi salah satu masalah yang ditakuti pria ketika melakukan hubungan seksual.

Disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan penis seorang pria untuk mencapai dan mempertahankan kondisi ereksi.

Disfungsi ereksi terjadi ketika aliran darah ke penis tidak maksimal.

Banyak faktor penyebab disfungsi ereksi baik dari segi kesehatan fisik maupun psikologis.

Selain karena bertambahnya usia, paling banyak karena masalah hormonal.

Bisa juga disebabkan oleh orang yang memiliki penyakit kronis seperti kencing manis dan darah tinggi.

Kemudian masalah persyarafan, misalnya pernah kecelakaan di bagian tulang pungung atau pernah operasi di daerah panggul.

Penyebab lain yang juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi yaitu, gaya hidup yang tidak sehat.

Gaya hidup tidak sehat diantaranya merokok, minum alkohol, menggunakan narkoba, hingga kurang berolahraga.

Tak hanya kesehatan fisik, faktor psikologis juga dapat membuat “Mr P” sulit ereksi.

Sering kali ketidakpercayaan diri seorang pria akhirnya membuatnya mengalami disfungsi ereksi.

Dampak disfungsi ereksi ini, tak jarang menyebabkan pria menjadi stres maupun depresi.

Pria yang mengalami disfungsi ereksi juga akan mengurangi tingkat kepuasan seksual sang istri.

Kesehatan seksual penting untuk diperhatikan karena bisa memengaruhi keharmonisan rumah tangga.

Penting juga memahami tingkat kepuasan seksual masing-masing pasangan, karena kepuasan seksual dapat memengaruhi kualitas hidup dalam aktifitas sehari-hari

Komentar