Kala Masakan Padang Dihakimi Kolesterol

Penulis: Darmansyah

Kamis, 19 Mei 2016 | 15:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Masakan padang?

“Ah.. nggak lah. Kolesterol”

Masakan padang kolesterol?

Ya. Masakan padang selalu  dikaitkan dengan penyakit jantung dan stroke karena memiliki lemak tinggi. Kolesterol.

Apa benar masakan padang menimbulkan efek yang sedemikian rupa?

Untuk menjawab itu seorang ahli kesehataan bernama  Jessica Florencia, yang juga seorang dokter, memberi jawabannya..

“Siapa yang tak  kenal masakan padang,” ujar Florencia dengan lembut.

Jangan tanya rasanya. Ehhemmm…

Dan makanan ini bisa ada di seluruh pelosok negeri  dan juga kota-kota lain di seluruh dunia, tempat banyak warga Indonesia bermukim.

Masakan ini menjadi  hidangan klasik.

Posturnya sederhana, tapi selalu berhasil menggugah selera.

Dan tentu saja kita tidak boleh lupa bahwa dunia internasional juga sudah memberikan pengakuan terhadap rendang daging sebagai makanan paling enak di dunia.

Namun, seringkali masakan padang menjadi kambing hitam berbagai penyakit, terutama penyakit jantung, karena kandungan santan didalamnya.

Apakah benar demikian?

Satu hal  Anda harus tahu  kelezatan masakan padang terletak pada gurihnya ramuan santan, rempah-rempah, dan sambal.

Hampir sebagian besar lauknya dimasak menggunakan kuah santan yang kental, berlemak, dan berbumbu.

Selain itu, santan juga membuat aroma masakan padang lebih menggugah selera.

Cara memasak makanan dengan santan ini memang tidak ada bandingnya.

Namun, santan termasuk bahan makanan yang mengandung lemak jenuh yang tinggi.

Lemak jenuh adalah jenis lemak yang juga terdapat pada daging merah, daging unggas, dan produk susu.

Jenis lemak ini termasuk dalam jenis lemak yang apabila berada dalam suhu ruang berubah bentuk menjadi bentuk padat.

Dalam tubuh manusia, lemak jenuh ini meningkatkan kadar kolesterol LDL atau Low Density Lipoprotein yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.

Melalui berbagai penelitian, lemak jenuh telah ditemukan menjadi penyebab meningkatnya kadar LDL dalam darah.

Penumpukan ini dapat berujung menjadi penyumbatan pembuluh darah ke organ penting, seperti jantung, dan otak.

Hal ini dapat berujung pada serangan jantung atau serangan stroke mendadak.

Selain dari kandungan santan yang gurih, masakan khas padang biasanya memiliki rasa yang cenderung asin.

Rasa asin dan gurih ini juga memegang peranan penting dalam kelezatan masakan padang.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa asupan garam yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah yang dapat menjadi penyebab masalah ginjal dan jantung di kemudian hari.

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol atau tidak diketahui juga dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke.

Daging merah ataupun unggas yang berlemak, serta ‘jeroan’ mengandung lemak jenuh yang tinggi.

Serupa dengan santan, lemak jenuh yang tinggi ini dapat menjadi pemicu awal munculnya berbagai masalah kesehatan di masa depan.

Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa santan tidak disarankan untuk dikonsumsi setiap hari karena kandungan lemak jenuhnya yang tinggi.

Kandungan lemak jenuh yang tinggi pada santan dapat menyebabkan penyakit jantung.

Namun dalam penelitian lain terhadap suku Padang, ditemukan bahwa santan bukanlah satu-satunya ‘biang kerok’ yang menyebabkan hal ini.

Asupan bahan makanan seperti daging dan bahan makanan tinggi kolesterol lainnya juga turut berperan.

Rendahnya asupan makanan berserat juga ikut menjadi salah satu penyebab hal ini dapat terjadi. Selain itu, kandungan garam dalam masakan padang juga merupakan potensi masalah kesehatan.

Jadi, apa kita tidak boleh lagi mengonsumsi masakan padang?

Tentu boleh. Namun, prinsip dasar asupan nutrisi seimbang perlu diterapkan dalam pemilihan makanan sehari-hari.

Dan sebaiknya, masakan padang tidak dikonsumsi secara berlebihan ataupun dikonsumsi setiap hari.

Komentar