Ketika Lelaki Menopause? Ee.. Andropause

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 19 Agustus 2016 | 10:17 WIB

Dibaca: 2 kali

Anda seorang lelaki yang memasuki usia lanjut?

Kalau iya, bersiaplah untuk menerima kenyataan, menopause. Eeee. Salah  Andropause.

Ya, andropause.

Dan andropause ini adalah suatu gejala ketika menurunnya atau bahkan sampai berkurangnya hormon seorang pria.

Kasus serupa juga dialami wanita, dan disebut dengan  menopause.

Salah satu hormon yang penting bagi tubuh kita ialah hormon testosteron.

Kalau pria mengalami penurunan hormon ini maka munculah apa yang disebut andropause.

Pria yang mengalaminya akan merasakan penurunan dalam energi, kemampuan bekerja dan olahraga, berkurangnya gairah seksual dan ereksi, berkurangnya massa otot dan tulang, berkurangnya kemampuan konsentrasi  dan kenyamanan hidup, meningkatnya massa lemak terutama di daerah perut, terganggunya tidur.

Pria yang mengalami andropause tentu memerlukan pengobatan kalau ingin kualitas hidupnya tetap baik.

Tetapi tentu diperlukan pemeriksaan dokter sebelumnya. Makanan sehat yang cukup tentu diperlukan, tetapi tidak ada yang khusus untuk meningkatkan testosteron.

Andropause  ini adalah sebuah kondisi ketika pria memasuki  usia tengah baya yang mempunyai gejala-gejala dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita.

Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian.

Jadi secara harfiah, andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria.

Berbeda dengan wanita yang mengalami menopause, dimana produksi ovum dan hormon estrogen serta siklus haid berhenti dengan cara yang relatif mendadak.

Pada pria, penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron, dan hormon lainnya terjadi secara perlahan.

Mekanisme terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi sistem reproduksi pria yang menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dibawah angka normal.

Hormon yang turun pada pada andropause ternyata tidak hanya testosteron saja, melainkan penurunan multi hormonal

Penyebab utama terjadinya Andropause sama seperti menopause, perubahan hormon.

Perubahan ini akan berdampak pada beberapa hal.

Pada pria, akan terjadi perubahan pada kesuburan dan hormon seks.

Berbeda dengan wanita yang akan berhenti menstruasi, pria yang mengalami Andropause tetap memiliki kemampuan menghasilkan sperma, hanya saja terjadi penurunan libido dan penurunan kemampuan dalam hal keintiman dengan pasangan.

Jika pasangan Anda mulai menunjukkan gejala Andropause, hal itu wajar dan tidak bisa dicegah.

Yang harus diperhatikan adalah pola makan yang harus lebih teratur, mulai kurangi atau hentikan kebiasaan merokok dan olahraga teratur, misalnya berjalan tiga puluh menit setiap pagi.

Beberapa pria lebih sensitif dan mudah marah pada masa ini, karena itu sabar adalah kunci menghadapi pria yang sedang mengalami Anddropause.

Seperti juga kaum wanita yang kerap mengalami mood swing saat memasuki masa menopause, pria pun begitu.

Berkurangnya kadar testosteron dalam tubuhnya kerap membuat seorang pria jadi mudah gelisah dan gampang marah-marah.

Perubahan fisik -menjadi botak, perut gendut, otot tidak kencang lagi- juga membuat percaya diri pria menurun.

Akibatnya, sebagai istri, mungkin Anda terheran-heran melihat perubahan tersebut. Suami tercinta yang semula kalem, tak banyak omong, dan cenderung tak pedulian, tiba-tiba jadi rewel, nyinyir, dan tukang mengeritik.

Memang, banyak pria tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka mulai memasuki masa andropause.

Biasanya mereka baru merasa khawatir bila hasrat dan kemampuan seksual mereka makin menurun dari waktu ke waktu.

Mulai dari kehilangan ereksi di pagi hari, hingga sama sekali tak bisa ereksi lagi. Nah, kalau sudah begitu, baru deh, mereka pontang-panting ke dokter,”

Meski begitu, penurunan kadar testosteron pada pria berlangsung perlahan-lahan, tidak seperti penurunan kadar estrogen dan progesteron pada wanita yang berlangsung nyaris drastis.

Perbedaan lain: bila wanita sudah memasuki masa menopause, otomatis cadangan sel telurnya juga habis, sehingga tidak bisa hamil lagi meskipun ia menjalani terapi sulih hormon estrogen dan progesteron.

Sebaliknya, pria tetap memproduksi sperma, meskipun jumlah dan kualitasnya berkurang -apalagi bila dibantu dengan terapi sulih hormon testosteron- dan tetap bisa menghamili wanita!

Celakanya, kemampuan seksual yang semakin menurun itu tak jarang justru membuat sebagian pria jadi tertantang untuk membuktikan diri bahwa ia masih menarik di mata wanita dan masih jantan di tempat tidur.

Apalagi, di usia lima puluhan, umumnya pria sudah mapan secara ekonomi dan status sosial, sehingga relatif lebih mudah ‘mendapatkan’ wanita.

Makin muda dan cantik wanita tersebut, makin tertantang mereka.

Jadi jangan heran bila banyak pria setengah baya mendadak jadi genit, gemar bersolek, dan senang tebar pesona di hadapan wanita.

Diberi perhatian sedikit saja oleh wanita, egonya langsung tersanjung.

Karena itu kemudian muncul istilah puber kedua, puber ketiga, atau pubertas terbalik, yang sebenarnya merupakan istilah lain dari pria-pria yang mulai memasuki masa andropause.

Komentar