Kesehatan Gigi Bisa Hindari Penyakit Kronis

Penulis:: Darmansyah

Minggu, 5 Mei 2013 | 12:13 WIB

Dibaca: 4 kali

Kebersihan gigi? Dengarlah iklan “pepsodent” yang setiap saat ditayangkan televisi dengan suara yang unik dari Tasya. Tanpa melihat visualnya kita dibikin asyik dengan dialog antara ayah dan anak, yang kemudian dikuatkan oleh Tasya.

Kebersihan gigi memang banyak yang tidak disadari orang. Islam sendiri, sebenarnya, sangat menganjurkan kebersihan gigi dengan anjuran bersiwak. Malah Rasul pernah mengatakan, kalau tidak memberatkan umatku, sudah kuanjurkankan untuk bersiwak. Atau menggosok gigi.

Malah, menurut riwayat, ketika sedang sakit berat menjelang hari kematiannya, Rasul tetap bersiwak. Itulah pentingnya kesehatan gigi. Tidak hanya dari sisi kesehatan yang dianjurkan para dokter.

Cobal simak sebagian besar penyakit pada gusi yang umumnya disebabkan oleh kebersihan gigi yang buruk. Namun sebagian besar masyarakat masih mengabaikan kebersihan gigi dan mulut.

Infeksi lanjutan pada gusi bisa menyebabkan gusi meradang, membentuk kantong nanah, dan membentuk plak lebih banyak. Kuman-kuman dari kantong nanah ini bisa menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.

“Infeksi ini memang bermula di gusi namun diabaikan. Akibatnya kuman berhasil sampai ke peredaran darah dan terbawa aliran,” kata dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, drg.Yudha Rismanto Sp.Perio.n

Akibat  yang ditimbulkan dari peredaran kuman tersebut bergantung pada organ tempat kuman berlabuh. Jika kuman terbawa aliran darah ke tubuh bagian bawah, maka jantung dan ginjal bisa terganggu.

Demikian juga jika kuman terbawa ke tubuh bagian atas, kuman bisa “nyangkut” di selaput yang menyelimuti otak sehingga mengakibatkan meningitis.

Dalam dunia kedokteran ini ini disebut juga dengan odontegenic infection. Meski jarang, namun penelitian telah membuktikan kaitan antara kesehatan gigi dan mulut dengan timbulnya penyakit-penyakit kronis.

Karena itu Yudha menyarankan penambalan segera pada gigi berlubang atau pun pembersihan plak secara rutin. Pada gigi, lubang yang segera ditambal akan menghentikan kerja bakteri menemukan jalan ke pembuluh darah. sementara pada gusi segera periksa bila gusi bengkak.

“Bengkak menandakan adanya infeksi di lokal area gigi dan gusi. Kendati begitu, lamanya infeksi bergantung ketahanan, toleransi, dan”asupan gizi tiap orang. Semakin lemah maka infeksi berjalan makin cepat. Jangan anggap remeh dan sepelekan sinyal tubuh berupa nyeri,” katanya.

Perubahan hormonal pada wanita bisa memicu penyakit gusi berdarah pada wanita. Meski begitu, hal tersebut juga tergantung pada ada tidaknya penumpukkan plak pada pertemuan gigi dan gusi.

Gusi berdarah merupakan gejala awal terjadinya peradangan gusi atau gingivitis.

“Biasanya didahului dengan adanya kuman atau tumpukan plak. Perubahan hormon akan memacu kerja kuman-kuman itu,” katanya. Karena kuman bertambah aktif, gusi akan terangsang untuk mengeluarkan reaksi imunitas sehingga terjadi radang dan bengkak.  “Reaksi ini menyebabkan gusi mempertebal dindingnya pada bagian leher. Makanya jadi bengkak,” kata dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Bila bengkak dibiarkan, dinding yang dibangun akan jebol dan mengakibatkan kuman masuk ke dalam lapisan gigi. Kuman tersebut berpotensi menimbulkan luka pada pembuluh darah dan jaringan di dalamnya sehingga menimbulkan gusi berdarah.

Sedikitnya ada 5 hal yang menandakan terjadinya radang, yakni bengkak, rasa sakit, timbulnya demam, kerusakan jaringan, dan kerusakan sel. Pada radang gusi, demam terjadi di tingkat sel sehingga tidak bisa dirasakan.

Penyakit gusi berdarah karena perubahan hormon memang sulit dihindari karena tidak mudah mengontrol hormon dalam tubuh.

“Untuk mencegah terjadinya gusi berdarah bisa dilakukan dengan rajin membersihkan gigi dan karang gigi, serta memeriksakan gigi dan gusi,” katanya

 

Komentar