TekoKopi - Promo HARBOLNAS

Kebahagiaan Akan Pergi di Usia 30-an

Penulis:: Darmansyah

Senin, 6 Maret 2017 | 10:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Benarkah kebahagiaan akan pergi kala seseorang menjalani usia kepala tiga, atau tiga puluhan?

Sebuah penelitian terbaru seperti yang ditulis laman situs “shape” membenarkan.

“Ya, kebahagiaan sesorang akan lenap kala ia memasuki usia tiga puluha,” tulis laman itu.

Sebelunya, para peneliti pernah mengungkapkan  bahwa orang dewasa lebih bahagia dibandingkan anak-anak.

Alasannya, orang dewasa memiliki kebebasan dan kesempatan untuk memenuhi rasa penasaran, seperti misalnya menyetir mobil, memakan semua permen di toko, dan tidur lebih malam untuk menonton televisi.

Namun, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science menuliskan, terjadi penurunan kualitas kebahagiaan pada seseorang saat menginjak usia tiga puluhan.

Kondisi ini terjadi karena ambisi dan obsesi orang-orang zaman sekarang pada segala hal yang sifatnya konsumtif.

Periset mengatakan bahwa budaya individualis menciptakan sebuah kebutuhan untuk tidak toleransi pada gangguan dan kesalahan kecil dalam sebuah rencana.

Pemikiran yang demikian terus menerus dan setiap hari membuat beban pikiran yang berubah menjadi stres semakin berkembang serta parah.

Depresi dan kecemasan orang yangterus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 silam, jumlah penderita depresi mencapai paling tertinggi.

Tahun tersebut juga terjadi penurunan pernikahan paling drastis.

Periset percaya bahwa berpasangan dan menikah merupakan pereda stres yang bisa meningkatkan rasa bahagia seseorang.

Studi ini menyarankan agar orang-orang modern tetap mempertahankan pertemanan, bersosialisasi, olahraga, berpikir positif, dan optimis.

Lima hal tersebut dipercaya bisa memberikan semangat dan rasa bahagia pada diri Anda.

Selain itu, periset juga mengungkapkan bahwa menolong seseorang menciptakan pikiran lebih tenang dan bahagia.

Memang banyak pendapat yang variatif sehubungan dengan bilangan usia tengah baya.

Sebut saja, Hurlock yang  membatasi usia tengah baya

Dalam banyak hal, periode tangah baya adalah waktu timbulnya tekanan emosional. Oleh Bernice Nengeartein  dikatakan bahwa peroiode ini merupakan suatu masa ketika orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya.

Meskipun bagi orang lain  ada kalanya periode ini justru merupakan  permulaan kemunduran.  Bagi Erik Erikson, dalam periode ini individu memiliki antara kearifan dan penyerapan pribadi.

Kearifan yang dimaksud adalah kapasitas untuk mengembangkan perhatian terhadap orang lain atau masyarakat sekitar.

Orang yang gagal mengembangkan kapasitas kearifan ini mungkin menjadi semakin terserap pada diri mereka sendiri seperti larut dalam kehidupan duniawi dan bendawi saja.

Teori Erikson ini  berpijak pada kenyataan yang dia sinyalir bahwa dalam setiap tingkat kehidupan selalu dicirikan dengan pilihan-pilihan antara dua pendekatan terhadap kehidupan, satu positif dan satunya negatif.

Tampaknya tengah baya merupakan  salah satu waktu dalam hidup seseorang dimana banyak terjadi peristiwa besar yang memaksanya untuk mengadakan penataan kembali.

Penataan kembali itu kiranya terjadi karena adanya beberapa perubahan besar dalam hal fisiologis, psikologis, seksual dan perubahan-perubahan sosial yang menyertai ketiga perubahan itu.

Menurut teori perkembangan Erikson, tugas perkembangan yang utama pada usia baya adalah mencapai generatifitas

Generatifitas adalah rasa peduli yang sudah lebih dewasa dan luas daripada intimacy karena rasa kasih ini telah men”generalize” ke kelompok lain, terutama generasi selanjutnya.

Bila dengan intimacy kita terlibat dalam hubungan di mana kita mengharapkan suatu timbal balik dari partner kita, maka dengan generativity kita tidak mengharapkan balasan

Dewasa tengah dapat mencapai generatifitas dengan anak-anaknya melalui bimbingan dalam interaksi sosial dengan generasi berikutnya.

Jika dewasa tengah gagal mencapai generatifitas akan terjadi stagnasi.

Stagnasi adalah lawan dari generatifitas yakni terbatasnya kepedulian kita pada diri kita,  tidak ada rasa peduli pada orang lain.

Orang- orang yang mengalami stagnasi tidak lagi produktif untuk masyarakat karena mereka tidak bisa melihat hal lain selain apakah hal itu menguntungkan diri mereka seketika.

Kita tahu banyak contoh orang yang setelah berusia setengah baya mulai menanyakan ke mana impian mereka yang lalu, apa yang telah mereka lakukan dan apakah hidup mereka ada artinya.

Beberapa orang yang merasa gagal dan tidak lagi punya harapan untuk mencapai impian mereka, pada saat-saat ini berusaha untuk merengkuh masa-masa yang bagi mereka terlewat sia-sia.

 

Komentar