Kamar Tidur Bukan Tempat “Pengungsian”

Penulis:: Darmansyah

Sabtu, 26 April 2014 | 18:52 WIB

Dibaca: 0 kali

Kamr tidur bukanlah tempat pengungsian. Ia bisa menjadi tempat pelarian untuk mendapatkan kenyamanan. Untuk itu kamar tidur yang nyaman tidak perlu dibuat bernuansa gelap.

Arsitek Anne Barret dari 30E design sudah membuktikannya.

Barret menerima pengarahan spesifik dari pemilik rumah, bahwa mereka menginginkan kamar tidur utama yang tidak tampak seperti pusat pengungsian.

Barret harus membuat kamar menyerupai hotel butik. Selain itu, kamar yang akan digubah Barret pun perlu menarik bagi anak-anak.

Bukan hanya Barret, hampir semua desainer sepakat bahwa kamar tidur harus jadi tempat kenikmatan.
Selain itu setiap orang pasti punya kesukaan mendapatkan ketenangan yang sempurna di kamar tidur. Terlebih, bagi mereka yang tinggal di tengah kota.

Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh para pemilik rumah? Desainer interior Estee Stanley mengungkapkan, mulailah dengan memikirkan cara atau gaya hidup mewah dan kenyamanan sempurna.

“Pikirkan gaya hidup mewah dan kenyamanan sempurna. Tempat Anda tidur, seharusnya menjadi lokasi relaksasi, juga sebagai tempat perlindungan dari kehidupan yang sibuk. Dengan memadukan material mewah, aksesoris, dan pencahayaan kunci, Anda bisa mengubah kamar tidur menjadi oase yang damai,” ujar Stanley.

Menurut sang desainer, mulailah dari seprai dan pelapis keperluan tidur lainnya yang berkualitas baik. Seprai berkualitas baik umumnya nyaman ketika disentuh. Hal ini bisa memang bisa bergantung pada berbagai hal. Misalnya, bahan pembuat seprai, produk sabun cuci, cara mencuci, dan cara penyimpanannya.

Stanley menganjurkan Anda menggunakan pelapis yang empuk dan buat tempat tidur berlapis-lapis untuk membuat kesan dan rasa nyaman dan mewah. “Saya menganjurkan penggunakan kain putih dengan detail sulam untuk menangkap kesederhanaan yang elegan.

Bantal dan selimut lembut juga penambahan yang istimewa untuk tempat tidur dan melindungi Anda di malam hari,” ujar sang desainer.

Selain itu, siapkan juga tempat-tempat duduk di kamar Anda. Menurut Stanley, menyediakan tempat duduk di kamar tidur utama menciptakan dinamika yang lebih hidup.

“Lampu juga sangat penting, jadi berinvestasilah dalam lampu meja berukuran besar di sisi tempat tidur Anda. Hal ini untuk menciptakan drama dan daya tarik, meski juga untuk alasan praktis. Jika Anda berbagi tempat tidur, lampu baca terpisah yang bisa diatur pola cahayanya pun bisa Anda pertimbangkan. Cara ini memfokuskan lampu tanpa mengganggu pasangan Anda,” imbuhnya.

Terakhir, sediakan rak kayu dan letakkan dengan berbagai barang beserta lilin terapi aroma. Letakkan di sisi tempat tidur Anda. Hal ini akan menambah kenyamanan Anda sendiri.

Misalnya, kamar tidur yang dikerjakan Barret ukurannya besar. Kamar ini berada di bagian loteng rumah klasik New England milik Ethan, David, dan dua anak mereka, Marly dan Yandel.

Memang, meskipun memiliki ukuran besar, loteng tersebut sebelumnya tampak penuh dan berantakan.

Seperti dikutip Dwell, Barret kemudian mulai “menyortir” interior ruangan itu. Dia menggunakan material-material yang senada untuk memperindah tampilan ruangan, serta menambahkan tempat penyimpanan.

Pertama-tama, Barret menggunakan lantai bermotif bambu. Dibandingkan dengan lantai motif kayu, lantai ini cenderung lebih ramai.

Selain itu, Barret juga menghias ruangan dengan nuansa warna oranye ceria (cat berjenis Calypso dari merk Benjamin Moore). Seolah ingin “menjinakkan” warna oranye yang begitu cerah, dia juga menggunakan warna putih untuk bagian lain dinding di kamar ini.

Hampir semua loteng, termasuk loteng yang dikerjakan Barret, memiliki atap miring. Atap semacam ini membuat salah satu bagian kamar lebih pendek dari bagian lainnya. Nah, di sinilah langkah kedua Barret bekerja. Dia menggunakan bagian terendah untuk membangun ruang penyimpanan built-in.

Ternyata, pemanfaatan ruang penyimpanan built-in tersebut menghemat banyak ruang. Pasalnya, jika tidak dibuat menjadi ruang penyimpanan, bagian tersebut pun tidak bisa digunakan.

Ketiga, Barret membagi loteng dengan seksama untuk menekan biaya. Dia sengaja menempatkan kamar mandi tepat di atas kamar mandi lainnya agar tidak perlu memasang saluran baru yang akan menambah biaya.

“Tenaga kerja terlatih, seperti pemasang saluran air dan tukang listrik umumnya aspek paling mahal dari proses konstruksi interior,” ujar Barret.

Bicara mengenai kamar mandi, konsep terang dan berwarna “mengejutkan” masih dilanjutkan hingga ke dalam kamar mandi. Barret menggunakan warna oranye, putih, dan hitam di dalam kamar mandi tersebut. Di kamar mandi, sang arsitek berhemat dengan cara menggunakan barang-barang produk massal keluaran Ikea, seperti bak cuci dan keran.

sumber : dwell.com dan huffingtonpost

Komentar