Kali Ini Mengungkap Fenomena Bunuh Diri

Penulis: Darmansyah

Senin, 1 Oktober 2018 | 10:24 WIB

Dibaca: 2 kali

Apakah bunuh diri jalan pintas mengakhiri persoalan?

Ya, bunuh diri bukanlah jalan pintas mengakhiri derita hidup.

Orang yang berniat bunuh diri atau sudah melakukannya memiliki persoalan penting yang harus diselesaikan yakni gangguan kesehatan mental.

Sehingga, solusi yang tepat bukanlah melanjutkan bunuh diri, melainkan mencari pertolongan memperbaiki kesehatan mental.

Orang yang punya niatan bunuh diri, sudah berada pada kondisi yang akut dan memiliki tindakan yang agresif untuk mengakhiri hidup.

Orang sehat enggak bakal bunuh diri.

Kalau sudah berpikiran negatif, hidup enggak penting lagi, putus asa, itu gejala depresi berat. Jadi, enggak ada orang bunuh diri itu yang sehat, pasti orang sakit kalo dari segi kesehatan mental

Keinginan untuk bunuh diri tidak berkaitan dengan pekerjaan dan agama seseorang. Setiap orang rentan terhadap bunuh diri dan berkewajiban saling mengingatkan agar menjauhi pikiran tersebut.

Semua kita rentan tergantung daya tahan untuk menghadapi masalah tersebut.

Jangan juga dibilang karena kurang beriman, tambah ingin bunuh diri dia. Dia enggak kuat menghadapi kehidupan, makanya kita harus perkuat dia,

Agar terhindar dari bunuh diri,disarankan setiap orang harus mencari pertolongan memperbaiki kesehatan mental dengan menghubungi para ahli seperti dokter atau psikiater.

Banyak orang yang menyepelekan bunuh diri, yang menganggap pelakunya adalah seorang “pengecut” atau aksi tersebut ditafsirkan sebagai suatu kebodohan.

Padahal, kasus bunuh diri, merupakan masalah yang sangat kompleks karena melibatkan berbagai faktor penyebab seperti faktor psikologis, sosial, genetik, biologis, dan lingkungan.

Selain itu, ada pula faktor risiko pada kasus bunuh sepeti kondisi kehilangan pekerjaan yang akhirnya jadi pengangguran, perceraian, atau mengalami kekerasan fisik maupun seksual.

Faktor psikilogis menempati urutan pertama penyebab seseorang bunuh diri.

Lebih dari sembilan persen pelaku bunuh diri adalah orang dengan gangguan kesehatan mental yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Seseorang dengan kesehatan mental yang baik dapat menggunakan kemampuan  dirinya secara maksimal dan menjalankan hidup yang penuh tantangan, sekaligus menjalin hubungan yang positif dengan orang lain.

Sedangkan orang dengan kesehatan mental yang terganggu, ia tak dapat menjalankan kemampuannya secara maksimal dan cenderung memiliki

Ada beberapa gangguan kesehatan mental yang sering berkaitan dengan keinginan untuk bunuh diri, yakni:

Depresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan penderitanya terus-menerus merasa sedih dalam waktu berbulan-bulan.

Penderita depresi cenderung sulit menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal, karena dalam dirinya terjadi kehilangan motivasi untuk melakukan sesuatu, menjadi kurang percaya diri, adanya perasaan bersalah, dan cenderung memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bahkan ingin  bunuh diri.

Gangguan kecemasan adalah suatu kondisi ketika seseorang memiiki rasa cemas berlebihan dan tak dapat mengendalikannya sehingga berdampak negatif terdapat kehidupannya sehari-hari. Selain rasa cemas, penderita biasanya memiliki rasa percaya diri, sulit konsentrasi, dan menjadi penyendiri.

Stres adalah suatu keadaan seseorang yang tertekan secara emosional maupun mental.

Seseorang yang memiliki gangguan stres tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, tidak ingin mengerjakan apa pun karena menurunnya motivasi dalam hidup, serta mudah tersinggung.

Sering kali seseorang yang sudah memiliki niat untuk bunuh diri sudah menunjukkan beberapa gejala psikologis seperti yang disebutkan di atas.

Namun, karena beberapa gejala di atas dianggap biasa saja atau diabaikan, orang-orang di sekitarnya banyak yang “terkecoh” dan akhirnya pertolongan yang bisa diberikan pun terlambat.

Komentar