Jawaban Terhadap Ketajaman Otak Lansia

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 9 November 2017 | 09:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda termasuk orang yang menuding mereka yang lanjut usia pikun, plus lambat bereaksi?

Kalau iya, mulai sekarang lupakan itu.

Sebab, ternyata, berdasarkan hasil penelitian terbaru yang dipublikasi di jurnal PLOS One, Yasuyaki Taki dan koleganya membantahnya

Mereka tak setuju terhadap pendapat  orang berusia lanjut kehilangan ketajaman otaknya.

Mereka menemukan tidak terjadinya  penurunan kondisi otak walau telah berusia diatas  enam puluh lima tahun.

Penurunan kecerdasan ini seperti dikatakan ahli saraf Marsel Mesulam super ager.

Otak super ager secara fisik berbeda dengan otak manusia pada umumnya. Otak mereka sedikit lebih besar, terutama di bagian korteks luar, bagian otak yang terdiri dari zat abu-abu dan kaya akan neuron.

Namun, apakah kondisi itu terjadi sejak lahir ataukah karena terhindar dari kerusakan akibat penuaan?

Yasuyaki Taki dan koleganya membandingkan otak dari dua puluh empat pria dan wanita super ager dengan dua belas orang lain dengan kondisi otak normal.

Dalam penelitian selama delapan belas bulan, Taki mendapati bahwa otak manusia normal mengalami atrofi lebih dari dua kali lebih banyak dibandingkan dengan otak super ager.

Kini, para peneliti berusaha bergerak lebih jauh. Mereka ingin mengetahui apakah kondisi sosial juga turut berperan terhadap otak super ager.

Untuk mendapatkan jawabannya, Emily Rogalski dan koleganya mempelajari tiga puluh satu  manusia super ager di atas delapan puluh tahun, serta sembilan belasorang pada usia yang sama dengan kognitif rata-rata.

Hasilnya, para superager memiliki hubungan yang lebih memuaskan dan bermutu tinggi dibandingkan dengan manunsia berotak normal.

Rogalski dan timnya meminta semua peserta mengisi kuesioner untuk menilai kebahagiaan dan kepuasan hidup.

Meski mendapatkan skor yang relatif sama, para super ager menonjol dalam relasi persahabatan dengan orang lain.

Hasil penelitian ini telah dipublikasi di jurnal PLOS One.

“Tidak sesederhana mengatakan jika Anda memiliki jaringan sosial yang kuat, Anda tidak akan pernah terkena penyakit Alzheimer,” kata Rogalski seperti diwartakan Science Alert

“Tapi jika ada daftar pilihan sehat yang bisa dilakukan seseorang, seperti makan makanan tertentu dan tidak merokok, menjaga jaringan sosial yang kuat mungkin penting dalam daftar itu.”

Lalu apa yang harus kita Lakukan?

Normalnya, seiring bertambahnya usia, zat abu-abu di otak manusia mengalami penyusutan dan terdegradasi.

Padahal, fungsinya sangat penting yakni untuk melihat, mendengar, memproses emosi, mengendalikan diri, mempelajari informasi baru.

Selain zat abu-abu, zat putih di otak yang berisi jaringan serat nan kompleks juga mengalami penyusutan.

Zat putih berperen membawa informasi ke berbagai bagian otak.

Dalam publikasinya di Nature Communication pada Novembertiga tahun lalu, Yuka Sasaki dan koleganya menyebutkan, zat putih otak dapat bertindak sebagai generator cadangan saat kinerja zat abu-abu menurun.

Jika saling dukung ini tak terjadi, hasilnya tampak seperti kebanyakan orang normal. Ingatan menjadi kabur, sulit berkonsentrasi dan mempelajari keterampilan baru.

Namun, jangan putus asa.

Masih ada cara yang bisa kita lakukan. Sejumlah penelitian menunjukkan, olahraga teratur, menjaga ikatan dengan teman dan keluarga dapat dilakukan.

Juga, yang tak kelah pentingya seperti berhenti merokok dan mempelajari hal baru.

Komentar