Jangan Remehkan Pria “Bad Boy”

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 22 Januari 2014 | 15:25 WIB

Dibaca: 13 kali

Pernah nama jadul “Bad boy.” Namanya saja “bad boy.” Anda pasti mafhum dengan panggilan itu. Ya, “bad boy” menjadi “mainstream” dari tipe pria yang dapat tidak diandalkan untuk masa depan.

Anda boleh tidak suka dengan istilahnya. Tapi bila sudah mengenalnya akan sulit dihindari pesonanya. Tatapan matanya meluluhkan Anda. Tak percaya? Coba saja tatap wajah Johnny Deep, si bintang Hollywood itu. Siapa yang tahan dengan pesonanya?

Apa Anda tahan dengan pesona Ariel “NOAH.” Ya, kalau di Indonesia pria “bad boy” itu dekat-dekat sedikitlah dengan Ariel.

Oke, bila Anda memang memutuskan untuk memuaskan hati Anda dalam mengenal lebih lanjut si bad boy ini, tak perlu menjauhi dirinya. Yang perlu Anda lakukan adalah menerapkan strategi agar Anda tidak berharap terlalu banyak lalu kecewa belakangan.

Juga, agar Anda tidak selalu menjadikan karakter bad boy sebagai patokan dalam mencari pasangan. “Bad boys itu seperti keripik kentang -sekali Anda mengencaninya, Anda akan terus menginginkan pria seperti itu sampai Anda muak,” kata Caroline Presno, penulis Profiling Your Date: A Smart Woman’s Guide to Evaluating a Man.

Hal pertama yang perlu Anda jadikan pegangan dalam menjalani hubungan dengan bad boy adalah, jangan berharap si dia akan berubah karena bertemu Anda dan mengajak Anda menikah.

Atau setidaknya, ngarep si dia bakal seperti Johnny Depp yang tidak lagi liar setelah berhubungan dengan Vanessa Paradis. Resepnya: nikmati seluruh waktu Anda bersamanya dengan kesadaran penuh, dan lakukan permainan tarik-ulur agar si dia tidak bosan dengan Anda.

Jika Anda mengencani bad boy, pria yang bisa saja beredar di sekitar Anda, bertekadlah untuk having fun saja, demikian saran Whitney Casey, penulis The Man Plan: Drive Men Wild-Not Away.

“Belajarlah untuk menikmati pengalaman berpacaran dengannya, dan bukannya menekankan masa depan Anda. Dengan bad boy, Anda tak pernah tahu akan seperti apa masa depan Anda.” Aktiflah dalam banyak kegiatan, supaya Anda tetap bisa mengisi waktu dengan menyenangkan meskipun tanpa kehadirannya.

Meskipun Anda masih menikmati hubungan dengan si bad boy, tetap lah membuka diri terhadap orang lain. Terima tawaran teman yang ingin memperkenalkan Anda pada teman prianya.

Never say never dengan tawaran ini, karena Anda tak pernah tahu kepastian hubungan Anda dengan si bad boy. Jadi ketika hubungan Anda tak berlanjut, Anda masih punya banyak teman, dan dapat mengisi waktu Anda tanpa bersedih-sedih.

Bila Anda sudah lengket dengan pelajari bagaimana sejarah hubungannya dengan wanita-wanita lain. Apakah ia tak pernah mau menjelaskan apa yang dilakukannya saat ia sedang tak bersama kekasihnya?

Apakah ia jarang membalas SMS Anda, dan hanya akan menelepon lepas pukul 22.00? Anda tidak boleh larut dalam permainannya. Matikan ponsel Anda pada malam hari atau pada jam tidur. Jangan menjadi kekasih yang selalu ada untuknya, padahal dia tak pernah ada untuk Anda.

“Ada perbedaan besar antara fantasi bad boy dengan realitas,” ujar Presno. “Ini bukan film. Ia tidak akan jatuh cinta pada Anda, dan mengubah sikapnya. Semakin cepat Anda menyadari tidak ada Hollywood happy ending dengan pria-pria ini, Anda akan semakin bahagia.

Bad boy hanya punya kapasitas terbatas untuk cinta, komitmen, dan semua hal manis lainnya.” Tak perlu marah dengan janji-janji kosongnya; selalu buat rencana cadangan agar Anda tetap sibuk meskipun ia tidak bersama Anda.

Saat menghadapi bad boy, Anda harus memegang peran sebagai navigator, orang yang menentukan arah. Anda tak boleh duduk manis menunggu teleponnya, atau tenggelam dalam pikiran apakah ia mencintai Anda.

Sekali-sekali, tolaklah ajakannya untuk bertemu agar dia tahu bahwa Anda tidak bisa diperlakukan semaunya. Jangan merengek, memelas, atau mengiba-iba, saat ia menolak undangan Anda untuk melakukan aktivitas bersama. Karakter wanita seperti ini tidak menantang buatnya.

Bagi bad boy, hubungan cinta tak akan lengkap tanpa seks. Bila Anda tak memiliki masalah dengan hal ini, boleh saja, namun tetaplah waspada. Bila Anda bukan penganut seks pranikah, terimalah bahwa hubungan tanpa seks ini tak lama lagi akan segera berakhir.

Pilihan terburuknya, jika Anda memutuskan menerima “undangannya”, pastikan Anda memahami betul risikonya. Whitney Casey mengatakan, “Anda seharusnya menghargai diri Anda lebih dulu. Hubungan ini memang menyenangkan, namun jangan mengorbankan integritas dan harga diri Anda demi seorang bad boy!”

Kelakuan para bad boy kadang-kadang terlalu menyakitkan, dan tidak mungkin dimaafkan. Jangan menyalahkan diri sendiri bila hal ini terjadi. Jadilah pihak yang membuat keputusan untuk menghentikan pertemuan dan komunikasi dengannya.

Komentar