Jangan Pernah Remehkan Posisi Bercinta

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 18 Agustus 2017 | 07:48 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda meremehkan posisi bercinta?

Wuah.. jangan.

Seperti ditulis laman kesehatan “menshealth,” hari ini, Jumat, 18 Agustus, posisi   bercinta diperlukan untuk mencegah kebosanan terutama  posisi “standar, ” seperti misionaris -pria di atas, wanita di bawah.

Pakar seksologi terkenal dunia, Annabelle Knight, menegaskan gerakan dasar adalah kunci dari semua yang dibutuhkan agar perempuan mencapai klimaks.

Jika ingin mudah mencapai orgasme, ia menyarankan untuk memilih posisi misionaris.

Menurutnya,  posisi misionaris sering diejek dan dipandang sangat standar, tapi ini adalah satu dari sedikit posisi yang memungkinkan rangsangan internal yang menyeluruh serta stimulasi eksternal, tanpa memerlukan tambahan jari atau alat bantu seks.

Alasan misionaris dianggap sebagai posisi terbaik bagi wanita karena adanya rangsangan klitoris yang turut serta dalam posisi tersebut.

Dalam sebuah survei di Inggris mengungkapkan dua puluh satu persen pasangan mengaku paling menyukai posisi misionaaris ini.

Ya juga ketika posisi ini membuat nyaman para pelakunya.

Bahkan. setiap kali selesai bercinta, pria biasanya merasa mengantuk dan ingin segera tidur usai melakukan seks dalam posisi misionoris

Tapi bagaimana bila pasangan menginginkan permainan lebih dan dengan gaya seperti guru TK berkata pada muridnya, “Ayo kita ulangi sekali lagi?”

Tidak seperti perempuan, para lelaki memerlukan waktu jeda sebelum siap untuk berhubungan seks di ronde ke dua. Jeda ini adalah waktu yang diperlukan setelah ejakulasi dan siap untuk ereksi lagi.

Dan tidak seperti yang Anda lihat di film-film dewasa, kemampuan untuk bercinta tiga hingga empat kali dalam kurun waktu beberapa jam tidaklah realistis bagi kebanyakan pria, kata urolog Richard K. Lee, M.D., dari Weill Cornell Medicine.

“Kecuali Anda berusia empat belas tahun, mungkin perlu setidaknya satu atau dua jam sebelum bisa ereksi setelah mengalami ejakulasi,” kata Dr. Lee.

Tidak ada data pasti berapa lama waktu jeda itu berlangsung. Meski demikian, diperkirakan para pria membutuhkan jeda dari tiga puluh menit hingga dua puluh empat jam, dan jeda itu akan makin lama seiring bertambahnya usia, begitu menurut penelitian yang dimuat di Journal of Sexual Medicine.

Hingga kini para peneliti belum menemukan sebab pasti yang menentukan lamanya waktu jeda itu.

Namun diketahui bahwa pria yang baru saja ejakulasi akan mengalami peningkatan hormon proclatin yang menghambat seseorang menjadi terangsang. Hormon inilah yang mungkin berperan.

Gaya hidup mungkin juga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk segera beraksi kembali. Menurut Dr. Lee, konsumsi alkohol berlebih dan  seringnya masturbasi akan menambah lama waktu pengisian “baterai” Anda.

Namun bila Anda membutuhkan waktu sampai berhari-hari untuk bisa pulih dan melakukan hubungan seks lagi, maka kemungkinan ada yang salah dengan kesehatan Anda.

Segeralah hubungi dokter untuk mencari tahu apakah ketidakmampuan ereksi itu terkait dengan gaya hidup, stres, obat-obatan, atau kondisi kesehatan.

Sedangkan bila Anda hanya perlu satu atau dua jam saja, bersyukurlah, karena hal itu normal bagi kebanyakan lelaki.

Dan frekuensi bercinta yang ideal memang tidak sama pada setiap pasangan.

Namun, secara umum para ahli menyarankan agar kita berhubungan seksual setidaknya dua kali seminggu.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Sexual Medicine menyebutkan bahwa sering berhubungan seks dapat menyehatkan. Salah satu manfaatnya adalah mencegah penyakit jantung.

Dalam penelitian tersebut, peneliti bertanya kepada dua ribuan orang tentang seberapa sering mereka melakukan hubungan seks.

Tim peneliti kemudian mengambil sampel darah responden untuk menjalankan beberapa tes.

Ternyata, pasangan yang melakukan hubungan seks yang paling jarang, atau kurang dari sebulan sekali—memiliki tingkat kimiawi yang lebih tinggi yang disebut homosistein dibandingkan dengan mereka yang berhubungan seks sering, atau setidaknya dua kali sepekan.

Kadar asam amino homosistein yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Kemungkinan karena asam amino ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah.

Senyawa ini juga tampaknya meningkatkan pembentukan plak lemak di arteri jantung dan meningkatkan pembekuan darah— keduanya dapat membuat Anda berisiko terkena serangan jantung.

Menariknya, kaitan antara frekuensi seks dan penurunan risiko penyakit jantung ini hanya ditemukan pada pria.

Mereka tidak yakin mengapa, tapi kemungkinan karena rangsangan seksual yang dialami wanita tidak bergantung pada aliran darah sehat seperti pada pria.

Aliran darah yang lancar akan membuat ereksi lebih keras dan bisa dipertahankan lebih lama.

Namun, karena ini penelitian observasional, maka tidak dapat dipastikan secara pasti bahwa sering berhubungan seks memengaruhi penurunan kadar homosistein.

Meski para ilmuwan belum bisa membuktikan sebab dan akibatnya, yang pasti tidak ada sisi negatifnya jika sering bercinta.

Komentar