Jangan Pernah Menunda Pensiun

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 29 Juni 2016 | 08:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda memasuki masa pensiun?

Kalau iya maka sambutlah ia dengan bahagia tanpa pernah menundanya.

Lantas kenapa?

Studi terbaru yang dilakukan peneliti dii Australia mengungkapkan  seseorang yang telah menjalani masa pensiun lebih dapat menikmati kegiatan sehari-hari dan jauh lebih bahagia..

Tingkat kenikmatan hidup tersebut berlangsung setidaknya satu tahun setelah seorang pensiun atau berhenti bekerja penuh waktu, tulis peneliti dalam jurnal “Age and Ageing” yang dikutip “sidney morning post,” Rabu, 29 Juni 2016.

Ada bukti, tulis “Sidney morning post,”  yang menyatakan, bahwa pandangan tentang pensiun yang kerap menurunkan kenikmatan dan kebahagiaan hidup adalah keliru.

Media itu mengutip salah satu penulis studi Tim Olds dari University of South Australia itu menegaskan, di satu sisi, seseorang yang sudah pensiun memang bisa kehilangan hubungan sosial.

Namun di sisi lain, pensiun menawarkan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang selalu Anda ingin lakukan atau belum sempat dilakukan karena disibukkan dengan pekerjaan kantor.

“Kami menemukan bukti bahwa seseorang sangat mungkin untuk lebih bahagia ketika pensiun,” terang Olds.

Kenikmatan hidup itu bukan karena pensiunan dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai, Olds mencatat.

Sebaliknya, pensiunan dapat lebih menikmati dan mendapatkan lebih banyak kesenangan dari kegiatan sehari-hari karena tidak dikejar-kejar oleh waktu dalam melakukan kegiatan yang disuka.

Kesimpulan tersebut didapatkan setelah peneliti terhadap lebih seratus orang pensiunan yang telah berhenti bekerja setidaknya tiga sampai enam bulan.

Kelompok tersebut terdiri dari setengah pria dan setengah wanita, dengan usia rata-rata enam puluh dua tahun.

Dalam penelitian nitu Olds dan rekan-rekannya meminta peserta untuk mengingat kegiatan mereka dalam dua puluh empat jam terakhir.

Responden dikelompokkan menjadi delapan kategori berdasarkan aktivitas: aktivitas fisik, sosial, perawatan diri, tidur, nonton televisi, bersantai, bepergian, dan melakukan pekerjaan paruh waktu.

Peserta juga diminta menyelesaikan survei tentang kesehatan, kesejahteraan, kualitas tidur, dan rasa kesepian.

Dibandingkan sebelum menjalani pensiun, peringkat kenikmatan hidup rata-rata meningkat secara signifikan selama 1 tahun penelitian. Secara keseluruhan, peringkat kenikmatan hidup juga berhubungan dengan kesehatan dan kualitas tidur yang lebih baik.

Selama beberapa bulan terakhir sebelum pensiun, kenikmatan responden menurun ketika perjalanan ke kantor dimulai, sedikit meningkat saat istirahat kerja, dan bangkit kembali pada akhir hari kerja.

Usai pensiun, melakukan aktivitas fisik dan kegiatan sosial memiliki peringkat kenikmatan tertinggi, sementara melakukan pekerjaan paruh waktu memiliki kenikmatan terendah, menurut laporan tersebut.

Namun, peserta yang terus bekerja paruh waktu setelah pensiun melaporkan bahwa kenikmatan hidup terus meningkat walau tidak signifikan.

“Orang-orang memiliki pengalaman yang berbeda ketika memilih bekerja paruh waktu setelah pensiun,” kata Kenneth Shultz, seorang gerontologist sosial dan profesor psikologi di California State University di San Bernardino.

“Anda tidak harus berurusan dengan tekanan dari perusahaan, dan orang-orang cenderung tidak emosional di dalamnya.”

Masa pensiun merupakan masa dimana kita seharusnya beristirahat dari kesibukan pekerjaan dan rutinitas yang sudah dijalankan bertahun-tahun.

Agar masa pensiun  nyaman dan tenang, tentu harus ada dana pensiun yang sudah disiapkan sejak usia  masih produktif.

Bukankah ketika kita masih dalam usia produktif dan aktif bekerja, kita berharap memiliki waktu santai lebih banyak.

Saat usia pensiun Anda lebih bisa sehat.

Dan jangan pernah mendikotomikan tidak bekerja dianggap berdampak buruk bagi kesehatan

“Tentu saja orang yang tidak sehat akan memilih pensiun. Tapi jika kita masih sanggup bekerja, lebih baik bekerja karena bisa membuat tubuh dalam kondisi sehat,” kata Jay Olshansky, profesor dan juru bicara American Federation of Aging Research.

Komentar