Jangan Mitoskan Viagra Sebagai Obat “Kuat”

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 28 November 2014 | 09:53 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda memitoskan “Viagra” sebagai obat “kuat?”

“Lupakan,” ujar Dr. Andrew Kramer, seorang urologist di Universitas Maryland Medical Center, dalam rilis jurnal terbarunya.

Menurut sang ilmuwan, masalah “kekuatan” fungsi ereksi tidak bisa disembuhkan gerakkan dari satu aspek saja.

“Aku melihat ketika suatu hubungan bermasalah karena disfungsi ereksi, mereka akan mencari cara untuk mengatasi masalah ereksi itu. Padahal sebenarnya pasangan butuh terapi lainnya,” ujar Dr. Kramer seperti dikutip Live Science.

Selama ini, kata Kramer, kemampuan seksual lelaki hanya disandarkan pada kiat-kiat yang mengharuskan seorang lelaki menambah vitalitas ketahanan seksualnya dengan cara mengkonsumsi obat tertentu. Entah dari mana asalnya muasalnya, hingga mitos seputar itu dapat berkembang dan bertahan terus.

Tidak hanya “Viagra,” mitos yang hidup di China, India, serta Mesir, misalnya, memaksa seorang lelaki yang ingin memiliki kekuatan seksual dengana meminum campuran darah ular kobra dengan serbuk giok hijau.
Di Korea, orang telah mempercayakan minuman ginseng sebagai penguat vitalitas kejantanannya.

Dalam konteks lebih modern, di Eropa dan Amerika, obat medis semacam Viagra, diyakini akan membuat pertahanan para wanita yang hypersex sekali pun, menjadi kewalahan dibuatnya.

Menurut beberapa penelitian ilmiah yang pernah dipubliklasikan “Men’s Health,” fenomena itu dianggap sebagai sesuatu yang harus diubah imej dan realitasnya – terutama oleh kaum lelaki.

Menurut majalah itu, untuk menjadi perkasa dalam aktivitas seksual, sebenarnya cukup sederhana, yaitu hanya harus memiliki kebugaran tubuh, ketenangan pikiran, tehnik aktivitas seks, serta makanan alamiah.

Kenyataannya, sebuah riset terbaru membuktikan mengonsumsi Viagra tidak membuat pria bahagia dan memperbaiki kehidupan seks mereka.

Riset yang dipublikasikan dalam “Journal of Sexual Medicine” itu mengungkapkan obat yang membantu pria bisa ereksi tidak membuat hubungan pria tersebut dengan pasangannya menjadi lebih baik.

Riset dilakukan dengan mengevaluasi informasi dari empat puluh klinik yang mengobati pria dengan masalah disfungsi ereksi. Para peneliti dalam riset ini ingin melihat apakah ada perubahan pada kualitas hubungan dan kehidupan seorang pria ketika mereka mendapat pengobatan medis secara standar.

Disfungsi ereksi atau impotensi itu sendiri adalah ketidakmampuan pria untuk memulai dan mempertahankan ereksinya. Untuk bisa tetap mempertahankan ereksi, Mr. Happy membutuhkan aliran darah yang lancar.

Sebelum menjalani pengobatan mengatasi disfungsi ereksi ini dengan mengonsumsi obat kuat, para pria yang menjadi responden penelitian ini melaporkan kualitas kehidupan dan hubungan pribadi dengan pasangan cukup baik.

Namun untuk kualitas dan kepuasaan hubungan seks justru sebaliknya, buruk. Mereka juga merasa rendah diri dan kerap mengalami depresi.

Setelah mendapatkan pengobatan, responden menunjukkan peningkatan sigfinikan pada beberapa aspek kehidupan mereka seperti kepuasaan seks dan kepercayaan diri yang lebih baik. Namun untuk kualitas kehidupan dan hubungan dengan pasangan secara keseluruhan mereka merasa tidak ada perubahan.

Oleh karena penelitian itu menyarankan agar pasangan dengan masalah disfungsi ereksi dan mempengaruhi hubungi mereka, seharusnya menemui orang yang bisa mengatasi masalah psikososial suatu hubungan percintaan dan orang yang bisa menangani masalah ereksi.

Selama ini kaum lelaki telah terbelenggu pada mitos-mitos kekuatan seksual yang sama sekali sulit dibuktikan kebenarannya.

Selama ini kemampuan seksual lelaki hanya disandarkan pada kiat-kiat yang mengharuskan seorang lelaki menambah vitalitas ketahanan seksualnya dengan cara mengkonsumsi ramuan obat tertentu. Entah dari mana asalnya muasalnya, hingga mitos seputar itu dapat berkembang dan bertahan selama ribuan tahun lamanya.

Makanya para ilmuwan menganjurkan kepada mereka yang mengalami disfungsi ereksi untuk “comeback to nature” dengan memilih makanan yang bila dikonsumsi akan meningkatkan kemampuan seks atau ‘keperkasaan.’

Kopi, mislanya. Kopi sering dihindari karena untuk beberapa orang menimbulkan rasa mual, dan juga membuat detak jantung lebih kencang. Namun dengan jumlah yang tepat, kopi bisa meningkatkan libido perempuan.

Dengan tak lebih dari dua cangkir sehari, kafein pada kopi akan membantu rangsangan seksual lebih cepat dan energi yang lebih besar. Bila memang kurang suka dengan kopi, maka bisa dicampur dengan madu atau susu.

Kenapa tidak mengunsumsi cabai. Laki-laki umumnya kurang suka cabai yang biasa digunakan sebagai sambal. Rasa pedas yang timbul karena cabai lebih banyak disukai perempuan.

Hanya untuk anda para lelaki harus mulai membiasakan diri dengan pedasnya cabai. Capsaicin, zat kimia yang terdapat pada cabai akan membantu melepaskan endorfin ke otak Anda.

Endorfin adalah zat yang bermanfaat dan menstimulasi orang agar merasa bahagia. Dengan rasa bahagia tersebut, kemungkinan besar hasrat akan bercumbu menjadi makin besar pula.

Nah, paling bagus mengasup bawang putih Bawang putih sering dihindari karena aromanya seringkali menyengat di mulut setelah dimakan. Bau mulut menjadi tak sedap, sehingga orang lebih sering menghindarinya. Sebenarnya salah satu rempah ini justru memiliki khasiat besar.

Bawang putih mengandung aliccin, yaitu zat yang membantu melancarkan peredaran darah kepada organ seksual. Selain itu bawang putih juga membantu meningkatkan libido. Bila Anda keberatan dengan baunya, memang ada ekstrak bawang putih dalam bentuk kapsul. Namun tentu yang asli lebih mengena bukan?

Komentar