Jadilah Penyabar, Anda akan Panjang Umur

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 25 Februari 2016 | 08:18 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda termasuk lelaki atau wanita penyabar?

Nah, dengan kategori ini bisa membantu Anda untuk hidup lebih lama.

Sebuah studi yang ditulis oleh “daily mail,” Kamis, 25 Februari 2016, mengungkapkan, DNA yang dimiliki oleh orang penyabar jauh lebih awet dari pada mereka yang emosi.

“Pada orang yang mudah emosi, dan hal ini lebih berdampak pada kaum perempuan, penuaaan jauh lebih mudah terjadi,” tulis “daily mail,” mengutip hasil penelitian yang dipimpin Profesor Richard Ebstein dari National University of Singapore.

Ebstein mengatakan, “Dengan meningkatnya persentase penuaan dini dari populasi dunia, menemukan faktor-faktor penyebab penuaan tersebut sangatlah penting.”

Untuk mendapatkan hasil tersebut, peneliti melibatkan lebih dari seribu siswa yang sehat melalui tes kesabaran.

Responden dilibatkan dalam permainan di mana mereka harus memilih; diberi hadiah sebesar seratus dolar US pada esok hari atau mendapat jumlah uang yang lebih besar bila mau menunggu selama satu bulan.

Mereka kemudian ditanya, seberapa lamakah waktu yang dianggap layak untuk menunggu hadiah tersebut.

Beberapa di antaranya mengatakan rela menunggu lebih lama untuk hadiah yang lebih besar, namun sebagian tak ingin menunggu lama.

Kemudian responden memberikan sampel darah mereka untuk diteliti seberapa cepat DNA mengalami penuaan.
Para peneliti memusatkan perhatian pada struktur kecil yang disebut telomere.

Telomere sendiri merupakan suatu bagian yang terletak di ujung kromosom yang bertugas melindungi DNA dari kerusakan.

Ukuran telomere yang pendek, telah dikaitkan dengan kesehatan yang buruk dan kematian dini.

Dan seiring dengan bertambahnya usia, telomere kerap menjadi lebih pendek dan lebih pendek, yang mengarah pada kerusakan DNA dan meningkatkan kemungkinan penyakit yang berkaitan dengan usia.

Menariknya, lewat penelitian ini, peneliti juga telah menemukan hubungan yang jelas antara telomere yang lebih pendek dan ketidaksabaran. Walau begitu, belum bisa dipastikan seberapa cepat ketidaksabaran bisa mempercepat penuaan.

Tak menutup kemungkinan, bahwa hal tersebut juga berkaitan dengan tingkat stres seseorang.

Selain itu, apakah orang yang sabar namun gaya hidupnya tidak sehat tetap memiliki umur yang panjang, peneliti belum bisa memastikan.

Yang pasti, seperti yang dipaparkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, peneliti menyebutkan perbedaan hormon seks menjadi alasan mengapa wanita lebih dipengaruhi oleh kondisi tersebut.

Wanita yang tidak sabar, dinyatakan lebih cepat mengalami penuaan ketimbang mereka yang lebih sabar.
Dari hasil penelitian itu ternyata rahasia panjang umur tidak rumit.

Sebuah penelitian lain oleh ilmuwan dari University of North Carolina juga menemukan orang yang bahagia bisa hidup lebih lama.

Studi ini berlangsung selama tiga puluh tahun.

Mereka menemukan orang menderita dari segala usia cenderung meninggal dunia lebih cepat dibandingkan mereka yang punya kehidupan bahagia.

Tanpa memandang penghasilan, status pernikahan dan kesehatan, mereka yang mendeskripsikan sendiri mempunyai kebahagiaan bisa bertahan hidup lebih lama.

Kelompok “tidak bahagia” juga enam persen cenderung meninggal sewaktu-waktu dibandingkan mereka yang menyebut dirinya cukup bahagia.

Studi ini mengikutsertakan tiga puluh ribuan orang dewasa.

Ilmuwan dari University of North Carolina itu menanyai pria dan wanita tentang,”Memasukkan segala hal, bagaimana pendapat Anda soal hari ini, sangat bahagia, cukup bahagia atau tidak terlalu bahagia?”

Peneliti kemudian mengakses database catatan kematian untuk melihat adakah kaitan antara jawaban yang diberikan dan kemungkinan meninggal dunia selama 30 tahun penelitian.

Satu penjelasan yang mungkin perihal kebahagiaan membantu panjang usia, orang yang lebih bahagia lebih mampu menangani stres dan punya jaringan pertemanan yang kuat.

Diterbitkan di jurnal Social Science & Medicine, tim penelitian dari Amerika Serikat itu mengatakan,”Ekonom menaruh perhatian dengan keamanan ekonomi.”

“Ahli kriminologi perhatian pada keamanan dan pencegahan kekerasan sementara ahli kesehatan masyarakat memberi advokasi soal perilaku tak sehat.Kami kekurangan variabel penting jika meneliti kebahagiaan.”

“Pendapatan lebih tinggi, lingkungan bebas kriminal, program kesehatan masyarakat yang lebih baik mungkin memberikan keamanan,pengurangan penyakit tetapi belum tentu mendatangkan kebahagiaan.”

“Sebagai tambahan pada ekonomi standar hidup populasi, akses terhadap perawatan medis dan perilaku hidup sehat, pembuat kebijakan harus mempertimbangkan cara-cara membuat masyarakat bahagia”

“ Kebahagiaan mungkin memberikan jalan menuju hidup lebih panjang dan menyenangkan,” tulis penelitian tersebut.

Komentar