“Isi” Otak Bisa Mengecil Bila Kurang Tidur

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 7 Januari 2015 | 15:52 WIB

Dibaca: 1 kali

Volume otak mengecil akibat kurang tidur?

Benar. Rilis sebuah penelitian terbaru, seperti yang dikutip dari “Times of India” Studi itu memberi penegasan, hubungan antara kurangnya jam tidur dengan mengecilnya volume atau ukuran otak.

Para peneliti asal Eropa memperoleh hasil hubungan kurang tidur dengan pengecilan volume otak setelah mendapat hasil dari scan MRI terhadap para respondennya yang mempunyai keluhan kurang tidur.

Scan MRI pertama dilakukan sebelum partisipan tersebut mengisi kuisioner yang berkaitan dengan kebiasaan tidur mereka. Scan MRI kedua dilakukan sekitar tiga setengah tahun kemudian.

Dari dua scan MRI ini, para peneliti memeriksa hubungan antara masalah tidur seperti insomnia dengan volume otak dari para partisipan.

Hasil kuisioner menunjukkan bahwa tiga puluh lima persen dari partisipan memiliki kriteria kebiasaan tidur yang kurang dan tidak sehat.

Dari tiga puluh lima persen partisipan yang memiliki gangguan tidur ini ditemukan adanya penurunan volume maupun ukuran otak yang cepat dibanding partisipan yang normal selama masa penelitian berlangsung.

Hasil tersebut makin terlihat signifikan terhadap partisipan yang berusia di atas enam puluh tahun.

Fakta lainnya dari berkurangnya waktu tidur dapat memicu datangnya berbagai penyakit, seperti serangan jantung, pikun. Dan yang paling parah di antara semuan, namun belum banyak diketahui ialah, kurang tidur ternyata bisa menyusutkan volume otak.

Para peneliti dari Oxford University membuktikan bahwa kurang tidur dapat menyusutkan volume otak manusia, terutama pada bagian frontal, temporal, dan parietal. Penyusutan ini juga dipengaruhi dari jam kerja otak yang terforsir ketika seharusnya otak beristirahat.

Menurut Claire Sexton, pemimpin dari penelitian ini, masalah pada tidur yang tidak segera ditangani dapat berdampak pada volume otak yang semakin lama semakin berkurang.

Penelitian Claire membuktikan bahwa, peserta yang memiliki jam tidur yang sedikit, mengalami perubahan ukuran otak dari waktu-ke waktu. Hal ini berkaitan dengan jam tidur dan jam beraktivitas yang tidak imbang.

Claire selanjutnya menyarankan, penanganan akan masalah tidur seharusnya dilakukan saat dini, dengan menemui dokter dan melakukan terapi yang bisa membuat tidur tercukupi sehingga risiko menyusutnya otak ini bisa dihindari.

Tidur membuat kita terasa lebih berenergi dan bisa memperbaiki suasana hati. Pernahkah Anda memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh dan otak kita ketika tidur?

Ternyata, saat kita tertidur, otak tidak ikut tidur. Ia masih bekerja. Bahkan kerja saraf-saraf pada otak hampir sama ketika kita bangun dan melakukan aktivitas. Maka, tidak mengherankan bahwa apa yang terjadi selama jam kita beristirahat merupakan sangat berpengaruh terhadap otak dan fungsi kognitif.

Sebuah penelitian menemukan bahwa otak dapat memproses informasi dan mempersiapkan tindakan saat tidur sehingga kita dapat membuat keputusan bawah sadar secara efektif.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology menemukan bahwa otak memproses rangsangan yang kompleks saat tidur, dan menggunakan informasi ini untuk membuat keputusan saat terjaga.

Dalam sebuah penelitian, para peneliti meminta partisipan untuk mengategorikan kata-kata yang diucapkan yang dipisahkan ke dalam kategori yang berbeda – kata mengacu pada hewan atau benda; dan kata-kata nyata vs kata palsu – dan diminta untuk menunjukkan kategori kata yang mereka dengar dengan menekan tombol kanan atau kiri.

“Mereka tidak hanya memproses informasi yang kompleks ketika sedang benar-benar tertidur, tapi mereka melakukannya secara tidak sadar,” kata peneliti, Thomas Andrillon dan Sid Kouider, seperti dilansir HuffingtonPost. “Pekerjaan kami tidak hanya memberikan keterangan baru tentang kemampuan otak untuk memproses informasi saat tidur, tetapi juga ketika sedang tidak sadar.”

Saat Anda sedang tidur, otak sibuk membentuk kenangan baru, memperkuat kenangan yang lebih lama, dan menghubungkan dengan kenangan sebelumnya, selama tertidur. Kurang istirahat akan menyebabkan dampak yang signifikan pada hippocampus, wilayah otak yang terlibat dalam pembuatan dan penguatan memori.

Oleh sebab itu, tidur bisa membantu kita untuk menggabungkan informasi yang baru didapatkan untuk kemudian digunakan kembali nantinya.

“Kami telah belajar bahwa tidur sebelum belajar membantu mempersiapkan otak Anda untuk pembentukan awal kenangan,” kata peneliti tidur, Dr. Matthew Walker dari University of California, Berkeley.

“Dan kemudian, tidur setelah belajar sangat penting untuk membantu menyimpan dan menggabungkan informasi baru ke dalam susunan otak. Hal ini berarti bahwa kemungkinan Anda lupa akan lebih kecil.”

Walker juga memperkirakan, jika Anda tidak tidur, kemampuan Anda untuk mempelajari informasi baru bisa turun hingga 40 persen.

Tenyata tidur bisa meningkatkan kreativitas. Hal ini disebabkan dalam keadaan istirahat, pikiran dapat membuat koneksi baru yang menakjubkan dan barangkali tidak akan dilakukan dalam keadaan sadar.

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of California di Berkeley menemukan bahwa tidur dapat mendorong ‘remote assosiation’ atau koneksi yang tidak biasa di otak, yang dapat menyebabkan munculnya ide baru setelah bangun.

Komentar